BANDUNG BARAT, medianasional.id – Ruang digital baru-baru ini dihangatkan oleh sebuah video viral yang merekam potret perjuangan menyayat hati dari anak-anak Sekolah Dasar (SD) di pelosok Kabupaten Bandung Barat (KBB). Tanpa alas kaki yang mewah atau bus sekolah yang nyaman, bocah-bocah berseragam putih-merah ini harus bertaruh nyawa menyeberangi luasnya perairan Waduk Saguling demi bisa duduk di bangku kelas.
.
Dalam potongan video yang diunggah oleh akun Pemerintah Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, tampak senyum kepolosan anak-anak itu kontras dengan rakit bambu sederhana yang mereka tumpangi. Di atas air yang dalam, rakit tersebut perlahan bergerak, dikemudikan oleh seorang dewasa yang mengandalkan seutas tambang usang yang membentang dari satu sisi daratan ke sisi seberang.
.
Hasil penelusuran mengungkapkan bahwa anak-anak tangguh ini merupakan warga Kampung Sadang (RT 04 dan RT 05), Desa Budiharja. Setiap pagi, mereka harus menyeberang menuju sekolah mereka di SDN Budiharja yang terletak di Kampung Gombong.
.
Ketua RT 05, Agus Sumpena, membenarkan bahwa berteman dengan bahaya di atas rakit sudah menjadi menu harian warganya sejak beberapa tahun terakhir. Pilihan ini terpaksa diambil demi memotong waktu dan jarak.
.
“Anak-anak di RT 04 dan RT 05 terpaksa naik rakit ke sekolah. Kalau harus lewat jalur darat, mereka harus berjalan kaki memutar sejauh 2,5 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 30 menit,” ujar Agus dengan nada prihatin saat ditemui pada Jumat (2/9/2026).
.
Kondisi geografis memang mengurung wilayah mereka. Kampung Cijuhung, misalnya, menjadi salah satu sudut yang terisolasi dari pusat keramaian di Desa Margaluyu, Kecamatan Cipeundeuy. Wilayah ini terjepit di antara rimbunnya perkebunan karet dan tepian Waduk Cirata.
.
Jika dipaksakan melalui jalur darat, jarak yang harus ditempuh mencapai 12 kilometer dari kantor desa. Ironisnya, akses jalan yang ada masih berupa tanah merah berbatu besar. Saat musim hujan tiba, jalur tersebut berubah menjadi kubangan lumpur yang sangat licin dan mustahil dilewati dengan aman.
.
Ketika kemarau datang, anak-anak biasanya mengandalkan sepeda motor yang telah dimodifikasi khusus untuk menerjang jalanan berbatu. Namun, begitu hujan turun, rakit bambu kembali menjadi satu-satunya tumpuan harapan mereka, meski dihantui risiko keselamatan yang besar.
.
Agus Supena mewakili jeritan hati warga berharap agar kondisi ini tidak terus dibiarkan. Kehadiran infrastruktur yang layak sudah menjadi kebutuhan yang mendesak bagi masa depan anak-anak di sana.
.
“Kami sangat berharap ada pembangunan infrastruktur jembatan. Dengan adanya jembatan, akses ke sekolah akan jauh lebih dekat dan aman, sehingga aktivitas belajar anak-anak kami bisa berjalan lancar tanpa perlu bertaruh nyawa lagi,” pungkas Agus penuh harap.






