Kasus Perceraian diPropinsi Jawa Barat Tertinggi di Indonesia, Faktor Ekonomi Penyebab Tingginya Angka Perceraian

Bandung720 Dilihat

Bandung,Medianasional,id- Propinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah kasus perceraian tertinggi di Indonesia yaitu sebesar 88.837 kasus. Pemicu perceraian didominasi oleh perselisihan dan pertengkaran terus menerus sebanyak 51.122 kasus.

Fakta tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat, dr. Siska Gefianti, M.H.Kes., Sp.,DLP, pada acara Sekolah Pranikah di 27 kabupaten/kota, “Kegiatan tersebut dilakukan secara luring dan daring”.Rabu (5/11) di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Barat Jln. Sudirman Kota Bandung.

Hadir pada kegiatan tersebut Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Jabar Drs. H. Mohammad Ali Abdul Latief, M. Ag. Kepala Bagian Urais dan Binsyar Dr H. Ohan Burhan, M. Pd, Kepala Bidang Peningkatan Kualitas Keluarga DP3AKB Provinsi Jawa Barat adalah drh. Iin Indasari, M.P. Ketua Tim Peningkatan Kualitas Kepenghuluan dan Fasilitasi Sakinah H. Toto Supriyanto M.Ag., serta para Kepala KUA se-Jawa Barat

“Sedangkan dua penyebab dominan lainnya adalah masalah ekonomi (33.264 kasus) dan meninggalkan salah satu pihak (2.781 kasus),” tutur Siska. Pada acara itu hadir antara lain Ketua Komis V DPRD Jabar, Yomanius Untung, S.Pd; Kakanwil Kemenag Jabar Dudu Rohman, S.Ag., M.Si.; Perwakilan BKKBN Jabar, Dr. Dadi Ahmad Roswandi, S.Si., M.Si; serta para kepala KUA se-Jabar.

Menurut Siska, perselisihan dan pertengkaran dalam rumah tangga ini seringkali disebabkan ketidaksiapan pasangan dalam mengelola perbedaan, komunikasi yang kurang efektif,nserta kurangnya pemahaman terkait tanggung jawab dalam pernikahan.

Sementara itu, masalah ekonomi dalam perceraian saat ini banyak terjadi disebabkan ketidakmampuan keluarga mengelola keuangan yang mendorong pada pinjaman online (pinjol) dan juga judi online (judol). Berdasarkan data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Jabar tercatat sebagai provinsi dengan angka pengguna judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) paling tinggi di indonesia.

Permasalahan pinjol dan judol tidak saja merusak hubungan dalam rumah tangga tetapi juga terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Perceraian di Jabar yang disebabkan kekerasan dalam rumah tungga (KDRT) juga terkategori tinggi bahkan berada pada urutan ke-2 tertinggi secara nasional setelah Jatim yaitu sebanyak 653 kasus, sedangkan di Indonesia perceraian yang disebabkan KDRT 7.243 kasus.

Di sisi lain, Jabar merupakan wilayah dengan populasi penduduk terpadat di indonesia yaitu sebanyak 50,3 juta jiwa (berdasarkan data dari BPS). Ekuivalen dengan 17,82 persen dari jumlah total penduduk Indonesia dengan jumlah kepala keluarga lebih dari 13,7 juta kepala keluarga.

jumlah penduduk yang tinggi juga menyebabkan Jabar dihadapkan dengan masih banyaknya permasalahan yang berkaitan dengan keluarga salah satunya masih tingginya kasus perceraian.

Selain persoalan tadi tantangan kesehatan yang dihadapi pasangan usia subur, mulai dari minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, risiko pernikahan usia dini, keluarga berencana hingga kurangnya pemahaman tentang pentingnya kesehatan mental dalam membina rumah tangga.

“Tak jarang, ketidaksiapan inilah yang menjadi salah satu penyebab tingginya angka perceraian, stunting, bahkan kematian ibu dan bayi. Oleh karena itu, Pemprov Jabar melalui DP3AKB bekerjasama dengan Kanwil Kemenag Jabar, Universitas Pendidikan Indonesia, perwakilan BKKBN Jabar, Dinas Kesehatan Jabar dan Puspaga Balarea, bersama-sama telah menyusun modul Sekolah Pranikah.

Sekolah itu telah diujicobakan pada tahun 2024 d idua kabupaten yaitu di Kab. Bandung (KUA Ciparay) dan Kabupaten Cirebon (KUA Plumbon). Kemudian di tahun 2025, telah dilaksanakan diseminasi modul Sekolah Pranikah melalui TOT.

“Pada hari ini dan selanjutnya akan menjadi fasilitor dalam pelaksanaan kegiatan hari ini untuk memberikan edukasi persiapan pranikah, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi peran dan tanggung jawab kehidupan berkeluarga,” katanya.

Siska mengajak seluruh pihak untuk terus bersinergi dan berkolaborasi dalam memperkuat pondasi keluarga di Jabar sebagai pilar utama dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter dan berdaya saing.

Kegiatan tersebut diakhiri Tepung Sakinah dan Penyerahan buku Keluarga Sakinah kepada perwakilan calon pengantin.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses