Merangin, Medianasional.id – Sekretaris organisasi Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) DPD Kabupaten Merangin berkolaborasi dengan Mahasiswa Universitas Merangin (UM) mendatangi pondok pesantren Duafa dengan memberikan santunan makanan. Kamis 9/10/2025.
Santunan ini diharapkan bermanfaat bagi sesama dan semoga orang-orang yang belum bisa membantu bisa bergabung bersama untuk melakukan kegitan sosial serupa.
Untuk program ini Sekjen IWOI DPD Merangin bersinergi dengan mahasiswa UM berharap bukan hanya di daerah kota Bangko saja tentunya daerah-daerah pelosok yang belum terjangkau dan membutuhkan bantuan bisa segera kita bantu bersama.
Penasehat IWOI DPD Merangin Ilham mengatakan. “Diadakan kegiatan ini dengan memberikan santunan ke salah satu pondok pesantren duafa di kabupaten Merangin bisa memberi semangat kepada anak-anak yatim dan dhuafa yang berada di talang kawo, serta menjadi ladang pahala bagi para donatur yang berinfaq dan Semoga Allah Masukan Kita kedalam Surga Bersama Nabi Dalam Al-Qur’an Allah SWT menyebutkan delapan kriteria orang-orang yang berhak menerima zakat, yaitu: fakir, miskin, amil zakat, golongan muallaf, memerdekakan budak belian, gharimin (orang yang berutang), fisabilillah (di jalan Allah), dan ibnu sabil,” jelasnya.
“Sesungguhnya kegiatan positif dilakukan organisasi IWOI DPD Merangin hanyalah membantu untuk Anak-anak yatim dhuafa Talang kawo yang sedang menempuh pendidikan, mereka berhak menerima zakat dan bantuan karena mereka adalah golongan fakir dan miskin. Golongan ini, dalam sebuah hadits dikatakan sebagai inti sasaran zakat. Zakat itu diambil dari orang yang kaya dan diberikan kepada orang fakir,” jelasnya.
Ataupun Memberikan zakat kepada fakir miskin golongan ini lebih utama daripada memberikan zakat kepada para pengemis dan peminta-minta:
“Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling minta-minta agar diberi sesuap dua suap nasi, satu dua biji kurma, tapi orang miskin itu ialah mereka yang hidupnya tidak berkecukupan kemudian diberi sedekah, dan merekapun tidak pergi meminta-minta pada orang” (Bukhari Muslim).
Anak-anak yatim itu harus menjalani kehidupan menuju kedewasaan tanpa didampingi sang ayah yang notabene adalah tulang punggung pencari nafkah, figur orang tua dan panutan dalam keluarga. Sebesar apapun uluran kita kepada anak yatim, akan dapat memberikan semangat hidup bagi mereka, bahwa saudara-saudaranya seiman masih mempunyai kepedulian terhadap mereka.
Cinta kasih dan kepedulian yang kita ulurkan kepada anak yatim akan membuka peluang masuk surga bersama Nabi SAW sedekat dua jari, sesuai dengan sabdanya
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ، يُشِيرُ بِإِصْبَعَيْهِ
“Aku dan pengasuh anak yatim kelak di surga seperti dua jari ini.” Rasulullah bersabda demikian sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah dan merapatkan keduanya. (HR. Bukhari).






