JAKARTA, medianasional.id – Pagi itu, Rabu (29/4/2026), suasana Auditorium Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN tampak berbeda. Ratusan mahasiswa Program Studi Psikologi Islam dan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah UIN Salatiga hadir bukan sekadar untuk menuntaskan kurikulum Kuliah Kerja Lapangan (KKL), melainkan untuk sebuah misi pencarian makna.
Pertemuan ini menjadi istimewa karena kental dengan nuansa emosional. Kehadiran rombongan yang dipimpin langsung oleh Dekan Fakultas Dakwah UIN Salatiga, Prof. Dr. Adang Kuswaya, M.Ag., disambut hangat oleh sosok yang tidak asing bagi almamater mereka: Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Dr. Wihaji, M.Pd.
Jembatan Akademik dan Realitas Birokrasi
Dalam sambutannya, Prof. Adang Kuswaya mengungkapkan bahwa momentum ini adalah
Dalam sambutannya, Prof. Adang Kuswaya mengungkapkan bahwa momentum ini adalah
“Reuni tipis-tipis” antara UIN Salatiga dengan salah satu putra terbaiknya. Ia menekankan bahwa transformasi institusi dari STAIN menjadi UIN Salatiga telah membuahkan hasil nyata dengan lahirnya tokoh-tokoh di kancah nasional.
“Momentum ini bukan hanya tentang KKL. Ini adalah ajang silaturahmi antara generasi penerus dengan alumninya, Bapak Menteri Wihaji,” ujar Prof. Adang disambut tepuk tangan antusias para mahasiswa.
Lebih dari sekadar seremoni, Prof. Adang berharap kementerian ini menjadi “laboratorium sosial” bagi para mahasiswa. Ia ingin teori-teori Psikologi Islam dan pengembangan masyarakat yang dipelajari di kelas dapat dikontekstualisasikan dalam kebijakan pembangunan keluarga yang nyata.
Pesan dari Podium: Dari Mahasiswa untuk Bangsa
Suasana berubah hening penuh hormat saat Dr. Wihaji naik ke podium. Sebagai alumni yang kini dipercaya memegang kebijakan kependudukan nasional, kehadirannya menjadi bukti hidup bahwa latar belakang pendidikan agama dan sosial memiliki peran krusial dalam pembangunan negara.
Suasana berubah hening penuh hormat saat Dr. Wihaji naik ke podium. Sebagai alumni yang kini dipercaya memegang kebijakan kependudukan nasional, kehadirannya menjadi bukti hidup bahwa latar belakang pendidikan agama dan sosial memiliki peran krusial dalam pembangunan negara.
Bagi para mahasiswa, paparan sang Menteri bukan sekadar data statistik, melainkan arahan strategis tentang bagaimana peran sarjana sosial di masa depan. Kedekatan latar belakang almamater mencairkan sekat antara pejabat tinggi dan mahasiswa, menciptakan ruang dialog yang inspiratif.
Kunjungan KKL ini diharapkan mampu membuka cakrawala mahasiswa UIN Salatiga bahwa kontribusi mereka ditunggu oleh negara, dimulai dari fondasi terkecil yakni ketahanan keluarga. Hari itu, sejarah seolah berputar kembali di Jakarta—seorang alumni menyambut tongkat estafet dari generasi penerusnya dengan penuh harapan.






