
Tulungagung, Medianasional.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung melakukan kegiatan sosialisasi untuk antisipasi penyebaran penyakit demam berdarah (DBD), Selasa (29/10/2019).
Acara sosialisasi di laksanakan di Ruang SHB Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung,yang di hadiri oleh para awak media, harapan supaya informasi sosialisasi ini bisa di sebarkan luaskan lewat publik yang mana lebih mudah untuk di fahami dan di mengerti oleh masyarakat luas lewat pemberitaan dalam pencegahan penularan penyakit Demam Berdarah.
Dalam pencegahan untuk Demam berdarah masyarakat di harapkan bisa menerapkan Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), supaya agar bisa untuk menjaga kebersihan dan peduli pada benda-benda yang ada di sekitar rumah seperti kaleng,ban bekas dan benda yang lainnya yang di perkirakan benda tersebut bisa menampung air untuk tempat bertelurnya nyamuk Aedes Aegypti yang mana nyamuk tersebut bisa berkembang biak di tempat – tempat seperti itu.
Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Tulungagung, Didik Eka mengatakan, Demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui vektor penyakit yaitu nyamuk Aedes Aegypti yang mana penyakit ini adalah endemis di Kabupaten Tulungagung.
Endemis yang artinya setiap tahun selalu ada dan akan menyerang pada anak-anak, remaja serta orang tua. Sedangkan untuk wilayah kecamatan di kabupaten Tulungagung yang rawan dengan penyakit ini adalah Kecamatan Ngantru, Kecamatan Boyolangu, Kecamatan Tulungagung dan Kecamatan Kedungwaru.
“Penyakit tersebut sebenarnya gampang gampang susah, asalkan vektornya bisa dikendalikan maka jumlah penyakit ini akan menurun. Cara mengendalikan vektor yaitu dengan cara pemberantasan sarang nyamuk (PSN), mengubur, menutup, menguras dan memantau (M3 plus). Dinas Kesehatan Tulungagung sudah mengantisipasi setiap tahunnya, karena demam berdarah ini selalu ada kasus, tiap empat bulan di awal tahun dan empat bulan di akhir tahun,” terang Didik Eka.
Dari jumlah 271 desa yang endemis setiap tahun ada 76 desa. Endemis tidak bisa di kurangi karena beberapa alasan di antaranya perilaku dan kebudayaan seperti memelihara ikan, bak ikan tidak selalu dikosongkan, menunggu jentik hidup sebelum dimasukkan bibit ikan, kebiasaan PSN yang tidak rutin seminggu sekali, kebersihan lingkungan yang tidak terjamin menyebabkan desa tidak endemis.
Reporter : Arsoni






