Papua Barat Daya,medianasional.id-Masyarakat Raja Ampat dari berbagai kalangan inginkan Revitalisasi Bandara Marinda untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Raja Ampat, dimana Raja Ampat diketahui sebagai daerah destinasi wisata dunia.
Bandara Marinda bukan sekadar infrastruktur transportasi, melainkan pintu masuk utama menuju destinasi wisata dunia yang dapat memperkuat pariwisata, perdagangan, lapangan kerja, dan konektivitas antarpulau.
Saat ini Bandara Marinda berstatus bandar udara kelas III dengan pesawat yang beroperasi berupa Cessna 208 Grand Caravan.
Data dari Kementerian Perhubungan tercatat 111 pergerakan pesawat dan 844 penumpang pada 2025, sementara pesawat kritis yang menjadi acuan teknis adalah ATR 72-600.
Untuk diketahui,bahwa Raja Ampat memiliki ratusan daya tarik wisata, dengan wisata selam, snorkeling, karst, dan budaya sebagai kekuatan utama. Akses udara yang lebih baik akan mengurangi ketergantungan pada perjalanan laut dari Sorong menuju Waisai.
Dengan Revitalisasi Bandara Marinda dapat menurunkan biaya dan waktu perjalanan. Penerbangan yang lebih rutin dan pesawat berkapasitas lebih besar dapat memperluas pilihan transportasi, meningkatkan persaingan, dan berpotensi menekan biaya perjalanan.
Revitalisasi Bandara Marinda dapat mendorong investasi lokal. Konektivitas yang baik akan memperkuat sektor homestay, hotel, restoran, jasa pemandu, transportasi laut, penyewaan alat selam, kuliner, dan kerajinan.
Selain itu dapat memperluas manfaat ekonomi masyarakat. Pada 2024, tercatat sekitar 30.000 wisatawan berkunjung ke Raja Ampat dan sektor pariwisata dilaporkan memberikan kontribusi sekitar Rp150 miliar per tahun terhadap PAD, belum termasuk dampak tidak langsung terhadap usaha lokal.
Bandara Marinda dapat menjadi simpul menuju kawasan wisata Selat Dampier, Wayag, dan wilayah lain melalui integrasi penerbangan dengan transportasi laut.
Dasar kebijakan sesuai Perpres Nomor 87 Tahun 2024 tentang Rencana Induk Destinasi Pariwisata Nasional Raja Ampat Tahun 2024–2044. Menempatkan pembangunan aksesibilitas, konektivitas, prasarana, investasi, pemberdayaan masyarakat, dan konservasi sebagai bagian terpadu pembangunan pariwisata.
Peraturan tersebut juga mengarahkan agar pengembangan pariwisata memperhatikan kawasan konservasi, daya dukung, dan daya tampung destinasi. Hal ini penting karena sekitar 97% wilayah Raja Ampat termasuk kawasan konservasi.
Revitalisasi Bandara Marinda sebaiknya tidak langsung berorientasi pada pembangunan bandara besar, tetapi dilakukan dalam beberapa tahap, antara lain Tahap keselamatan dan pelayanan Perbaikan landasan pacu,apron, drainase, pagar, dan sistem penerangan.
Peningkatan fasilitas keselamatan penerbangan dan PKP-PK.Penyediaan terminal yang nyaman, bersih, ramah penyandang disabilitas, serta memiliki layanan informasi wisata.Penguatan navigasi, komunikasi, meteorologi, dan layanan darurat.
Tahap peningkatan kapasitas
menyesuaikan runway, taxiway, apron, dan terminal agar mampu melayani pesawat turboprop seperti ATR 72 secara aman dan konsisten.
Membuka kembali atau menambah penerbangan reguler Waisai–Sorong.
Mengkaji rute langsung ke kota-kota regional seperti Ambon, Makassar, Manokwari, atau Jayapura berdasarkan kajian permintaan dan kelayakan maskapai.
Menetapkan jadwal penerbangan yang terintegrasi dengan keberangkatan kapal menuju kampung wisata dan pulau-pulau tujuan.
Memanfaatkan panel surya, penampungan air hujan, pengelolaan sampah, dan sistem hemat energi. Mengendalikan limpasan air, kebisingan, dan pembukaan lahan.
Menggunakan desain bangunan yang mencerminkan arsitektur lokal tanpa mengorbankan standar keselamatan.
Menyusun kajian lingkungan dan risiko bencana secara ketat sebelum memperpanjang runway atau memperluas kawasan bandara.
Dampak ekonomi yang diharapkan
Revitalisasi Bandara Marinda dapat menciptakan efek berantai.Namun, peningkatan jumlah wisatawan harus dikendalikan.
Dokumen induk nasional memproyeksikan kunjungan DPN Raja Ampat dapat mencapai sekitar 302.131 wisatawan pada 2044 dengan mempertimbangkan kapasitas daya dukung kawasan.
Pembiayaan dapat menggunakan kombinasi yaitu APBN melalui Kementerian Perhubungan. APBD Provinsi Papua Barat Daya dan Kabupaten Raja Ampat.
Kerja sama pemerintah dan badan usaha.Dukungan operator penerbangan dan pelaku pariwisata.
Dana tanggung jawab sosial perusahaan yang diarahkan untuk fasilitas masyarakat dan lingkungan.Skema pembiayaan hijau untuk energi terbarukan dan infrastruktur rendah emisi.
Kesimpulan kebijakan Revitalisasi Bandara Marinda layak dijadikan prioritas pembangunan Papua Barat Daya karena berpotensi memperkuat Raja Ampat sebagai destinasi wisata dunia dan pusat ekonomi biru.
Akan tetapi, keberhasilannya bergantung pada tiga syarat, yaitu penerbangan yang benar-benar rutin dan terjangkau, konektivitas terpadu dengan transportasi laut, serta pengelolaan wisata yang melindungi ekosistem dan memastikan manfaatnya dirasakan masyarakat lokal.
Pewarta : Zainal La Adala (Koordinator Wilayah Indonesia Timur)
Editor : Zainal La Adala






