DPC PKB Sleman Gelar Bedah Buku Sosialisme Islam, Angkat Pemikiran HOS Tjokroaminoto dan Ali Syari’ati

DI.Yogyakarta112 Dilihat

SLEMAN, medianasional.id – Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Sleman menggelar kegiatan bedah buku Sosialisme Islam: Pemikiran HOS Tjokroaminoto dan Ali Syari’ati, Sabtu (7/11/2026) siang.

Kegiatan yang berlangsung di Resto Omah Dhahar Mbah Wanto, Berbah, Sleman, Yogyakarta, dibuka langsung oleh Ketua DPC PKB Kabupaten Sleman yang juga anggota DPRD DIY, Tri Nugroho, SE.

Sejumlah tokoh dan kader PKB turut hadir, di antaranya anggota DPRD DIY Rahayu Widi Nuryani, SH, MH, anggota DPRD Kabupaten Sleman dari Fraksi PKB H. Wiratno, SE, serta Mbah Wanto, ST, selaku anggota DPRD Kabupaten Sleman sekaligus pemilik Resto Omah Dhahar Mbah Wanto.

Hadir pula Syukron Arif Muttaqin, SE, MAP, Heri Setiawan, ST, H. Wawan Prasetia, SE, MN, Herman Budi Pramono, SE, jajaran Pemuda PKB, serta masyarakat Berbah.

Bedah buku menghadirkan tiga narasumber, yakni DR. Aguk Irawan MN, DR. Mutiulah, SFILI, MH, dan DR. Hasto Bramantyo, MA. Diskusi berlangsung dinamis dengan dipandu moderator H. Wiratno.

Dalam sambutannya, Mbah Wanto menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta. Ia berharap kegiatan tersebut memberikan manfaat dan menambah wawasan, khususnya bagi generasi muda sebagai penerus bangsa.

Sementara itu, Tri Nugroho menegaskan pentingnya mengkaji pemikiran sosialisme Islam yang digagas melalui pemikiran HOS Tjokroaminoto dan Ali Syari’ati. Menurutnya, nilai-nilai Islam mengajarkan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT, sementara dalam kehidupan bermasyarakat keadilan sosial harus menjadi landasan bersama.

“Namun dalam kehidupan, manusia mendapatkan hal yang sama dalam keadilan sosial, persamaan derajat, persamaan dalam bentuk kepedulian dan pemerataan ekonomi,” ungkap Tri Nugroho.

Ia juga mendukung kegiatan telaah buku tersebut sebagai sarana memperluas pemahaman masyarakat dan generasi muda mengenai hubungan antara nilai-nilai keislaman, keadilan, dan kehidupan sosial.

Mewakili peserta, Tri Nugroho turut menyampaikan apresiasi kepada ketiga narasumber yang telah meluangkan waktu untuk berbagi pengetahuan dalam kegiatan tersebut.

Pada sesi pemaparan, DR. Aguk Irawan MN menjelaskan pemikiran Ali Syari’ati, seorang sosiolog, filsuf, dan pemikir revolusioner asal Iran yang dikenal memiliki pengaruh penting dalam perkembangan pemikiran menjelang Revolusi Iran.

Menurut Aguk, dalam perspektif Ali Syari’ati, Islam tidak semata-mata dipahami sebagai ajaran ritual, fikih ibadah, maupun muamalah, tetapi juga memiliki peran sebagai kekuatan pembebasan sosial.

Mengacu pada pemikiran Ali Syari’ati dalam buku karya Eko Sukriyadi, Aguk menjelaskan bahwa Islam mengandung semangat perubahan yang digerakkan oleh gagasan spiritual untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan melawan berbagai bentuk penindasan.

“Manusia digerakkan oleh ide spiritual yang menggerakkan perubahan menjadi lebih baik,” jelasnya.

Aguk juga menguraikan bahwa Islam memberikan ruang bagi manusia untuk memiliki dan mengembangkan kekayaan. Namun, kepemilikan tersebut tidak bersifat mutlak karena terdapat kewajiban sosial yang harus dipenuhi, seperti zakat, infak, sedekah, kafarat, hibah, dan wakaf.

Selain itu, Islam juga melarang praktik riba dan penimbunan kekayaan agar distribusi ekonomi berjalan lebih adil.

“Islam bukan hanya doktrin, bukan hanya paradigma yang sekadar fikih ritual dan muamalah teologis tentang akhirat, tetapi Islam merupakan agama revolusioner yang menggerakkan orang tertindas untuk bangkit,” tegas Aguk.

Narasumber berikutnya, DR. Mutiulah, SFILI, MH, mengulas pemikiran HOS Tjokroaminoto sebagai salah satu pelopor pergerakan nasional Indonesia yang dikenal dengan julukan Raja Jawa Tanpa Mahkota.

Tjokroaminoto juga dikenal sebagai guru bagi sejumlah tokoh pergerakan nasional, di antaranya Soekarno, Semaun, dan Kartosuwiryo.

Menurut Mutiulah, meskipun para murid Tjokroaminoto kemudian menempuh jalan perjuangan yang berbeda, hal tersebut tidak menghilangkan hubungan pemikiran yang pernah terbentuk dalam proses pembelajaran dan pergerakan mereka.

“Terdapat ketersambungan antara Islam sebagai agama dan sosialisme sebagai sebuah spirit kesetaraan,” kata Mutiulah.

Sementara itu, DR. Hasto Bramantyo, MA, dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), menyoroti pentingnya memahami gerakan sosialisme Islam sebagai gerakan yang berlandaskan tauhid dan semangat pembebasan.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam kepedulian terhadap berbagai persoalan sosial, terutama kesenjangan ekonomi, kemiskinan, dan ketidakadilan.

“Harapannya bagaimana mendorong pemuda bisa menjadi penggerak di tingkat dan tempat masing-masing,” jelas Hasto.

Melalui kegiatan bedah buku ini, DPC PKB Kabupaten Sleman berharap diskusi pemikiran Islam dan sosialisme dapat memperkaya wawasan masyarakat, sekaligus mendorong generasi muda untuk memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial, memperjuangkan keadilan, serta berperan aktif dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih setara dan sejahtera.(red).

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses