Seperti yang disampaikan KH Ahmad Marzuqi,MPd selaku budayawan sekaligus Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Pekalongan saat diwawancarai di kediamannya, belum lama ini.
Marzuqi melanjutkan, walaupun tidak bergelut di bidang kesenian, namun di tangan kreatif masyarakat Kota Pekalongan dan didukung imajinasi yang tinggi, tercipta sebuah karya batik pada selembar kain yang cantik dengan beragam corak. Menurut Marzuki, di era Presiden Soekarno, industri batik di Kota Pekalongan mendapat angin segar dimana saat itu batik menjadi semakin marak digunakan, bahkan ada catatan yang mengatakan bahwa batik bisa menyumbang negara sekitar Rp.1,4 Milyar dari hasil produksi batik tersebut.
“Setelah batik mengalami kemajuan yang sangat pesat sekaligus dengan sarung yang dulunya hanya bermotif kotak-kotak, dengan berjalannya waktu, pengrajin batik Pekalongan membuat sarung bermotif batik. Pembuatan sarung batik pertama kali tidak selesai hanya satu sampai dua hari saja, namun membutuhkan waktu sampai berbulan-bulan bahkan sampai bertahun-tahun karena proses yang panjang dalam pembuatannya,” papar Marzuqi.
Sedangkan di masa orde baru, lanjut Marzuqi, sarung mengalami penyusutan. Yang dulunya biasa menggunakan sarung, sekarang sudah berkurang terutama para anak muda yang kini hampir melupakan sarung batik. Marzuqi berpesan, agar pemerintah mengumpulkan para pengrajin, pengusaha, pemerhati batik untuk di ajak bicara dan mencari solusi agar sarung batik ini semakin maju.
“Perhatian pemerintah terhadap batik sangatlah luar biasa, tidak hanya pada masyarakat kecil tapi sudah masuk pada dunia pendidikan di Kota Pekalongan. Mungkin suatu ketika Pemerintah Kota Pekalongan mengadakan pertemuan para pengusaha, pemerhati batik agar kedepannya sarung batik Pekalongan bisa lebih maju dan sarung batik tidak hanya dipakai oleh kita saja, namun seluruh dunia memakai sarung batik asal Kota Pekalongan,” pungkas Marzuqi.
Reporter: Mc Marenta.








