Kulon Progo,-medianasional.id- Ribuan pasang mata terpukau menyaksikan ratusan meter rangkaian train naga menari di langit persawahan Banaran, Kapanewon Galur, Kabupaten Kulon Progo, Minggu (5/7/2026). Atraksi spektakuler tersebut menjadi sajian utama pada hari kedua Road to Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026, sekaligus memperlihatkan semangat regenerasi pelayang dari anak-anak hingga dewasa.
Setelah sehari sebelumnya mempertandingkan kategori layang-layang tradisional dan layang-layang kreasi, hari kedua dikhususkan untuk perlombaan train naga kategori anak dan dewasa. Sekitar 15.000 pengunjung memadati area persawahan Banaran untuk menyaksikan salah satu ikon seni layang-layang Indonesia tersebut.
Sebanyak 19 klub bersaing di kategori train naga dewasa, sementara 7 klub mengikuti kategori train naga anak. Seluruh peserta berusaha menampilkan karya terbaik demi meraih Golden Ticket menuju puncak Jogja International Kite Festival 2026.
Ketua Panitia JIKF 2026, Anang Sarjiyanto, mengatakan antusiasme peserta terhadap kategori train naga terus meningkat setiap tahun. Menurutnya, keterlibatan anak-anak menjadi sinyal positif bagi keberlangsungan komunitas pelayang di masa depan.
“Antusiasmenya luar biasa meski butuh waktu dan proses untuk mengajak lebih banyak peserta. Mungkin suatu saat kita bisa membuat event khusus train naga. Bahkan pelayang internasional juga sangat tertarik dengan layangan train naga ini karena di negara mereka tidak ada layangan seperti ini,” kata Anang.
Keunikan train naga juga menarik perhatian tamu mancanegara. Salah seorang peserta asal Vietnam, An, mengaku kagum dengan kreativitas serta kekompakan para pelayang Indonesia.
“Saya datang bersama tim dari Vietnam. Saya terkesan karena semuanya sangat indah. Saya merasa senang bisa datang dan bergabung di event ini,” ujarnya.
Semangat regenerasi tampak dari keikutsertaan pelayang muda. Farhan (15), anggota Klub Bolo Srewu, mengungkapkan bahwa timnya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk menyelesaikan train naga yang diterbangkan dalam perlombaan.
“Pembuatan train naga ini memakan waktu sekitar tiga bulan hingga siap dilombakan,” ungkap Farhan.
Tak hanya generasi muda, para pelayang senior juga turut berperan sebagai pendamping. Samidi (61) dari Royal Team menilai kehadiran orang tua menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan sekaligus memberikan motivasi kepada anak-anak.
“Saya senang bisa mendampingi anak-anak. Keselamatan tetap menjadi prioritas, tetapi semangat mereka untuk melestarikan budaya layang-layang harus terus didukung,” tuturnya.
Selain menjadi arena kompetisi, Road to JIKF 2026 juga memperkenalkan kawasan persawahan Banaran sebagai lokasi strategis untuk festival layang-layang. Hamparan sawah yang luas di sekitar Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) memberikan ruang terbuka yang ideal tanpa mengganggu aktivitas penerbangan.
Anang menjelaskan bahwa lokasi penyelenggaraan berada di luar Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) dengan jarak lebih dari 15 kilometer dari Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), sehingga memenuhi aspek keselamatan penerbangan.
- Melalui semangat pelayang cilik hingga senior, dukungan masyarakat, serta kehadiran peserta internasional, Road to JIKF 2026 kembali menegaskan posisinya sebagai ajang yang tidak hanya menghadirkan kompetisi layang-layang, tetapi juga menjadi ruang pelestarian budaya, regenerasi komunitas, sekaligus promosi pariwisata dan seni layang-layang Indonesia di mata dunia. (Wid)





