Pemuda Asal Bari, Sulap Lahan Kosong Jadi Kebun Sayur Pasok Hotel Hingga Program MBG di Labuan Bajo

Labuan Bajo, medianasional.id – Berawal dari penjual sayur keliling, Eras Tengajo (31) kini merintis pertanian mandiri di halaman rumahnya. Pemuda asal Dusun Loger, Desa Bari, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat itu menargetkan hasil panennya menjadi pemasok pasar, hotel, restoran di Labuan Bajo, hingga program nasional Makan Bergizi Gratis – MBG.

Eras memanfaatkan lahan kosong di samping rumah untuk menanam berbagai jenis sayur. Hasil panennya sudah mulai dijual ke Pasar Wae Kesambi dan Pasar Baru. Ke depan ia menargetkan menyasar hotel, restoran di kawasan wisata Super Premium Labuan Bajo, serta menjadi pemasok sayur untuk program Makan Bergizi Gratis atau yang di cetus oleh Presiden RI Prabowo Subianto.

Ia menekuni menanam sayur sayuran sekitar 9 bulan dan Saat ini usahanya masih dijalankan secara personal, namun ia berencana akan membentuk kelompok tani bersama teman-temannya agar usaha lebih mudah berkembang.

Kebun sayurnya berada di Dusun Loger, Desa Bari, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat. Lokasi ini berjarak sekitar 3 jam perjalanan dari Labuan Bajo, pusat pariwisata Manggarai Barat yang permintaannya terhadap sayur terus meningkat.

Awalnya ia menanam untuk konsumsi pribadi. Setelah melihat hasilnya cukup bagus, ia memberanikan diri menjualnya ke pasar. Hingga saat ini usahanya terus dikembangkan secara bertahap.

Eras melihat rantai pasok sayur di Labuan Bajo masih banyak didatangkan dari luar daerah seperti dari Kabupaten Ngada, Nagekeo, bahkan Bima. Ia ingin mengurangi ketergantungan tersebut dan membantu memenuhi kebutuhan pasar, hotel, dan restoran di Labuan Bajo.

“Selain itu saya juga ingin ikut menyuplai kebutuhan sayur untuk program Makan Bergizi Gratis. Kalau petani lokal bisa ikut andil, berarti kita juga bantu anak-anak sekolah dapat makan sehat dari hasil tanah sendiri,” ujarnya.

Kendala terbesar yang dihadapi adalah pasokan air dan peralatan pertanian. Eras belum memiliki tempat penampungan air atau fiber, serta mesin sedot air karna keterbatasan finansial.

“Kendala terbesar itu di air dan alat pertanian. Kalau fasilitasnya ada, saya yakin bisa tanam lebih banyak dan hasilnya lebih maksimal,” jelas Eras.

Meski terbatas, semangatnya tidak surut. Dari modal nekat, ia membuktikan lahan kecil bisa jadi harapan besar. Langkah Eras diharapkan menjadi contoh bahwa anak muda masih bisa bertani dan menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan lokal di tengah geliat pariwisata Labuan Bajo.

Posting Terkait

ADVERTISEMENT
Konten berikut adalah iklan platform MGID, medianasional.id tidak terkait dengan isi konten.

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses