PURBALINGGA, medianasional.id – Fenomena lonjakan pernikahan kembali melanda Kabupaten Purbalingga pasca-Lebaran. Hingga Selasa (31/3/2026) siang, tercatat sebanyak 592 pasangan telah melangsungkan akad nikah hanya dalam kurun waktu 10 hari pertama bulan Syawal.
.
Kasi Bimas Islam Kemenag Purbalingga, Mohammad Nur Hidayat, mengungkapkan bahwa tren ini merupakan siklus tahunan di mana bulan Syawal selalu menjadi puncak prosesi pernikahan. “Ada lonjakan signifikan. Intensitas layanan di tiap KUA bervariasi, berkisar antara 25 hingga lebih dari 60 pasangan,” ujarnya.
.
Tingginya angka pernikahan ini praktis meningkatkan beban kerja para penghulu. Di lapangan, seorang penghulu bahkan harus melayani hingga 11 jadwal akad nikah dalam satu hari.
.
Data Kemenag mencatat KUA Rembang menjadi wilayah dengan angka pernikahan tertinggi, yakni 62 pasangan. Disusul oleh KUA Kemangkon (46), Karangmoncol (44), Bukateja (42), dan Kaligondang (41). Sementara itu, wilayah lainnya rata-rata melayani 19 hingga 35 pasangan, menunjukkan tren kenaikan yang merata di seluruh kabupaten.
.
Menurut Nur Hidayat, ada tiga faktor utama yang memicu fenomena ini:
- Keyakinan Religius: Masyarakat meyakini Syawal sebagai bulan baik untuk memulai rumah tangga.
- Momentum Mudik: Memanfaatkan libur Lebaran saat keluarga besar sedang berkumpul di kampung halaman.
- Tradisi Lokal: Banyaknya hari baik berdasarkan perhitungan adat (weton) yang jatuh pada bulan ini.
Meski sempat bertepatan dengan masa kerja Work From Anywhere (WFA), pihak Kemenag memastikan pelayanan di Kantor Urusan Agama (KUA) tetap berjalan normal dan menjadi prioritas utama. Tren lonjakan ini diprediksi masih akan terus berlanjut hingga akhir bulan Syawal mendatang.

