
Jakarta, medianasional.id – Pendidikan adalah salah satu wadah untuk mencetak para intelektual yang akan berkontribusi terhadap kemaslahatan umat khususnya pendidikan tinggi. Oleh karenanya, dalam pendidikan tinggi di tuntut untuk cepat tanggap dalam merespons segala macam perubahan termasuk juga melakukan berbagai transformasi agar dapat melahirkan lulusan yang unggul, kompeten, dan kompetitif dalam menghadapi tantangan zaman yang terus saja berubah dari tahun ke tahun.
Baru-baru ini Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah mulai semester ganjil TA 2022 akan menerapkan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Hal ini diutarakan Wakil Rektor I kampus ini Dr H Firmansyah MSi. Ia menjelaskan bahwa UMN Al-Washliyah menyiapkan dua program studi (prodi) yakni Pendidikan Matematika dari Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan Akuntansi dari Fakultas Ekonomi (FE) sebagai pilot project MBKM.
Disebutkan Firmansyah, mahasiswa UMN yang berkiprah di sekolah lain dalam bentuk program praktik lapangan (PPL) Ada juga magang, kemudian kegiatan di luar kampus di masyarakat.
Ditambahkan Firmansyah, kampus sedang menyesuaikan kurikulum yang persis mengikuti arahan Permemdikbud. ”Peraturan Rektor UMN Al Washliyah Dr KRT H Hardi Mulyono K Surbakti untuk mengakomodasi itu sudah keluar pada November 2020. Termasuk disiapkan untuk menampung ketika mahasiswa dari Perguruan Tinggi lain mau ambil prodi di UMN Al-Washliyah.
Wakil rektor menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan MBKM ada disediakan kompetisi oleh pemerintah untuk mendapatkan dana hibah. “Kami mengucapkan terima kasih kepada kementerian yang sangat apresiatif dengan menyediakan dana hibah. Kita dapat kesempatan untuk mengusulkan 10 prodi di Matematika dan Akuntansi. Pemerintah tidak hanya menyuruh tetapi juga ada rangsangan (sumutpos.co, 17/03/2021).
MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) adalah kebijakan yang dirancang dengan tujuan meningkatkan soft skill maupun hard skill mahasiswa. Namun alih-alih meningkatkan kemampuan mahasiswa, pendidikan makin tak tentu arah khususnya pendidikan tinggi. Pasalnya jika dilihat lagi kebutuhan pasar dan industrilah yang menjadi penentu arah pendidikan. Perguruan tinggi menjadi tempat strategis untuk membangun mental buruh atau pekerja dalam diri setiap mahasiswanya.
Selain itu, kebijakan semacam ini justru semakin memuluskan para korporasi menguasai perguruan tinggi hingga perguruan tinggi pun tak lagi berdiri secara mandiri karena harus mengikuti permintaan pasar agar mengurangi tingkat pengangguran dari setiap lulusan di perguruan tinggi. Hal ini pun semakin menguatkan cengkeraman liberalisasi dalam dunia pendidikan pada saat ini.
Sungguh berbanding terbalik dengan sistem Islam. Dalam sistem Islam, pendidikan adalah kebutuhan pokok yang diberikan kepada umat secara free. Negara memberikan fasilitas yang totalitas kepada seluruh warganya tanpa pengecualian. Tak hanya itu, negara memiliki visi misi yang jelas dan terarah untuk direalisasikan. Yang mana, tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk kepribadian Islam, yang dibangun berdasarkan pola pikir dan sikap yang sesuai dengan Islam, bukan hanya berbasis pada kebutuhan pasar semata.
Dalam sistem pendidikan Islam pun para pelajar tak ditempah agar bermental buruh atau pekerja, melainkan menjadi penemu yang akan menemukan temuan dan inovasi baru demi kemaslahatan umat.
Sejarah pun mencatat bahwa Khilafah Islam telah berkontribusi besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban dunia. Sebut saja para ilmuan pada masa Daulah Abbasiyah seperti Abu Nasir al-Farabi kontribusinya terletak di berbagai bidang seperti matematika, filosofi, pengobatan, bahkan musik. Selain itu juga ada Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi dengan bukunya al-Jabr wa al-Mukabala dari bukunya inilah adanya istilah aljabar dan logaritma dalam matematika.
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti atas apa yang kamu kerjakan.” (Q.S Al-Mujaadilah: 11).
Maka, tak inginkah kita hidup dalam naungan Daulah Khilafah yang sudah terbukti memberikan kemaslahatan dalam berbagai bidang khususnya dalam bidang pendidikan?.
Wallahualam bissawab.
Oleh: Sari Ramadani (Aktivis Muslimah)






