Bantul, medianasional.id – Warga pedukuhan Mangiran DK, 19 pasca Beroperasinya SPPG di Srandakan Bantul, warga mengeluh karena sumurnya menjadi berbusa dan bau tak sedap,diduga karena tercemar limbah SPPG.
Menurut penjelasan Agus, selaku pemilik sumur terdampak, mengatakan, keluhan tersebut sudah mulai dari 15/4/2026, dan sudah di sampaikan secara langsung ke pihak pengelola dapur, namun sayang keluhan tersebut seolah hanya dianggap angin lalu, dan tidak ada tindakan langsung hingga hampir tiga minggu untuk cek kondisi air sumur, jelas kepada wartawan medianasional.id, Kamis 30/4/2026.
“Selama hampir tiga minggu untuk kebutuhan masak dan minum kita beli air mineral, sedangkan untuk mandi kita sekeluarga terpaksa harus menumpang ke tempat saudara,” tambahnya.
Karena tidak ada respon sama sekali Agus kemudian mengadu, ke Kalurahan Puskesmas,Koramil dan Kapolsek, serta, kapanewon Srandakan, untuk melaporkan kejadian tersebut, setelah ada aduan tersebut pihak Pemerintah Kapanewon terus mengadakan mediasi, katanya.
“Meski sudah ada grase treep, namun di pastikan alat tersebut belum berfungsi karena alat tersebut baru beberapa hari di pasang, dan dugaan kuat dua resapan buis dengan kedalaman, sekitar 2,5,dan ukuran 90,itu tidak kedap air, sehingga limbah yang masuk langsung menyerap ke tanah,” tambahnya.
Agus juga sesalkan kenapa SPPG yang dianggap belum lengkap namun sudah beroperasi, jangan jangan itu izinnya juga belum lengkap, tutupnya.
Sementara itu menurut keterangan dari salah satu pekerja menyampaikan saat pengukuran kedalaman resapan tersebut menduga bawah itu tanah karena terdapat tanah, ungkapnya.
Sementara itu, dari petugas DLH kabupaten bantul saat cek ke lokasi, menyampaikan bahwa kedatangannya adalah untuk mengambil sample air sumur warga, dan sample air limbah yang di buang habis di olah.
Namun beliau juga memduga bahwasanya mesin greas treb tersebut belum pernah di gunakan, karena amgka meter masih pada posisi di angka nol, katanya.
Sedangkan pihak Kepala SPPG Cahyo, saat di temui di kantornya menyampaikan, seingatnya selama ini belum pernah melakukan penyedotan, di kedua resapan tersebut, karena saat di lakukan pengecekan kedua resapan tersebut belum penuh, dan saran dari puskesmas kedua resapan tersebut harus di buat lagi, dan bergeser ke selatan, katanya.
Sementara itu, Penewu Srandakan Karjiyem saat di temui awak media di kantornya, membenarkan kejadian tersebut, setelah selasa 28/4/2026 sore mndapat aduaan tersebut segera berkoordinasi dengan Forkompinkap Srandakan, dan kemudian pagi harinya Rabu 29/4/2026,melakukan mediasi dengan pihak pengelola SPPG dan warga terdampak, sebelum mediasi penewu memastikan kebutuhan air bersih harus tercukupi, melalui lurah serta babinsa fan bhabinkamtibmas, jelasnya.
Dalam mediasi tersebut ada kesempatan bahwa pihak SPPG harus memenuhi kebutuhan air bersih pada keluarga terdampak, serta menggantikan sumur yang tercemar, pungkasnya.(wid)






