Tulungagung, Medianasional.id – Dalam kegiatan pengendalian pada kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tulungagung, dimana terdapat masalah kesehatan masyarakat yang dihadapi saat ini adalah makin meningkatnya kasus PTM.
Dimana PTM sendiri adalah penyakit yang bukan disebabkan oleh infeksi kuman termasuk penyakit kronis degeneratif, antara lain penyakit jantung, diabetes militus (DM), kanker, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan gangguan akibat kecelakaan serta tindak kekerasan.
Salah satu upaya untuk meningkatkan cakupan skrining faktor risiko tidak menular adalah dengan bekerja sama dengan muslimat Fatayat NU, dimana salah satunya melakukan skrining di kegiatan Fatayat.
Kepala Puskesmas Tulungagung, drg. Indro Eko Cahyono, M.kes., melalui bidang pengelolaan PTM, Wiwik Damayanti, S.kep, Ners., menyampaikan untuk kali ini Puskesmas Tulungagung bekerja sama dengan Fatayat NU PAC kota Tulungagung.
Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 22 September 2024 kemarin yang bertempat di balai kelurahan Karangwaru.
Adapun hasil kegiatan skrining, HT 0, DM 3 orang, obesitas 1 orang, mata 1 orang, kolesterol yang lebih 200 mgdl yaitu 3 orang, dan yang kolesterol 130 – 200 mgdl sejumlah 7 orang dari total kehadiran peserta perempuan semua dari komunitas Fatayat.
“Tujuan Posbindu PTM adalah meningkatkan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan penemuan dini faktor risiko PTM,” katanya, Senin (30/9/2024).
“Untuk Sasaran utama adalah kelompok masyarakat sehat, berisiko dan penyandang PTM berusia 15 tahun ke atas baik di lingkungan sekolah dan masyarakat,” imbuhnya.
Wiwik juga mengatakan untuk pencegahan faktor risiko PTM (pola makan, rokok, aktifitas fisik, obesitas) maka dilakukan deteksi dini dengan melaksanakan Posyandu PTM di wilayah kerja Puskesmas Tulungagung dengan sumberdaya masyarakat yang ada.
“Menunjukkan peningkatan prevalensi PTM, termasuk sebagai penyebab angka kematian tertinggi, fokus program PTM pada pencegahan dan pengendalian faktor resiko serta melaksanakan meningkatkan kualitas kuratif dan rehabilitasi,” jelasnya.
Selanjutnya,”Program PTM harus diintegrasikan dengan program lainnya seperti SPM, GERMAS, SDIDTK, posbindu, posyandu dan deteksi dini faktor risiko PTM lainnya, dengan melibatkan OPD terkait dan SPM merupakan KPI (Key Performance Indicator) dalam menurunkan angka kasus PTM,” pungkasnya.






