KAJEN, Medianasional.id – Aula Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, menjadi saksi alotnya audiensi antara warga Dukuh Durrio (Desa Waringin Agung) dan warga Dukuh Gebluk (Desa Kutosari) terkait aktivitas tambang Galian C, Senin (4/5/2026). Pertemuan ini digelar guna merespons keberatan warga Durrio yang terdampak meski pemukiman mereka berjarak sekitar 700 meter dari lokasi tambang.
Audiensi tersebut dihadiri oleh jajaran Forkopimcam Doro, Dinas Lingkungan Hidup (LH), Satpol PP, Dinas Perkim, PSDA, Kesbangpol, serta perangkat desa dari kedua belah pihak.
Camat Doro, Hadi Surono, S.IP., M.Si., menekankan bahwa pihak kecamatan mengambil posisi netral dalam sengketa ini. “Kami mengutamakan solusi terbaik dan menjaga kondusivitas wilayah di tengah perbedaan pendapat antara kubu yang mendukung dan menolak tambang,” ujarnya.
Aspirasi Warga: Antara Dampak Lingkungan dan Ekonomi
Perwakilan warga Dukuh Durrio, Nasorin Aga, mempertanyakan legalitas izin tambang tersebut. Ia mendesak penutupan aktivitas galian jika terbukti tidak mengantongi izin resmi. Keluhan senada disampaikan Rujai, warga Durrio lainnya, yang mengkhawatirkan aktivitas tambang mengakibatkan sumur-sumur warga menjadi kering tanpa memberikan dampak ekonomi signifikan bagi mereka.
Perwakilan warga Dukuh Durrio, Nasorin Aga, mempertanyakan legalitas izin tambang tersebut. Ia mendesak penutupan aktivitas galian jika terbukti tidak mengantongi izin resmi. Keluhan senada disampaikan Rujai, warga Durrio lainnya, yang mengkhawatirkan aktivitas tambang mengakibatkan sumur-sumur warga menjadi kering tanpa memberikan dampak ekonomi signifikan bagi mereka.
Namun, argumen ini ditepis oleh Kepala Desa Kutosari, Sunoto, SE. Ia menjelaskan bahwa aktivitas galian C di wilayahnya justru menjadi tumpuan ekonomi warga setempat.
“Warga Gebluk merasa terbantu karena lahan tegalan yang dulunya sulit dijual kini laku dibeli pengusaha tambang. Selain itu, tambang ini membuka lapangan pekerjaan bagi warga yang menganggur dan ibu rumah tangga,” jelas Sunoto.
Amidin, perwakilan warga Gebluk, menambahkan bahwa meski aktivitas truk cukup mengganggu, warga lebih memprioritaskan mata pencaharian yang tercipta dari keberadaan tambang tersebut.
Fakta Lapangan: Masalah Saluran Air
Guna memastikan pemicu masalah, rombongan melakukan peninjauan langsung ke lokasi meskipun dalam kondisi hujan. Hasil pengecekan menunjukkan sumur-sumur di Desa Gebluk dan Gumelar—yang lokasinya justru lebih dekat dengan tambang—masih mengalir normal.
Guna memastikan pemicu masalah, rombongan melakukan peninjauan langsung ke lokasi meskipun dalam kondisi hujan. Hasil pengecekan menunjukkan sumur-sumur di Desa Gebluk dan Gumelar—yang lokasinya justru lebih dekat dengan tambang—masih mengalir normal.
Tim menyimpulkan bahwa keringnya sumur di Dukuh Durrio diduga kuat bukan disebabkan oleh aktivitas penggalian, melainkan akibat putusnya saluran air (Silawang/Jembatan Air) di bagian hulu pasca-bencana banjir bandang dari arah Petung Kriyono beberapa waktu lalu.
Sebagai langkah konkret, pemerintah setempat akan melayangkan laporan resmi kepada Dinas PSDA untuk segera memperbaiki saluran air tersebut. Perbaikan ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi kebutuhan air bersih dan irigasi pertanian warga Dukuh Durrio.
(Ari)






