Lampung Barat, Medianasional.id – Sorotan tajam terhadap ketidakhadiran Pemerintah Daerah dalam gelaran Pesta Sekura Cakak Buah 4 Syawal di Pekon Balak, Kecamatan Batu Brak, akhirnya mendapat tanggapan. Namun, alih-alih meredam polemik, penjelasan yang disampaikan justru memunculkan kesan saling lempar tanggung jawab.
Pihak pemerintah daerah menyatakan bahwa ketidakhadiran mereka bukan bentuk pengabaian, melainkan karena tidak adanya undangan resmi dari panitia penyelenggara.
Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Lampung Barat, Mad Hasnurin, dalam obrolan grup WhatsApp. Ia menjelaskan bahwa dalam satu hari, terdapat beberapa pekon yang menggelar kegiatan Sekura secara bersamaan. Jum’at (27/3/2026). 20:58 WIB.
“Dalam satu hari bisa ada satu sampai tiga pekon yang melaksanakan sekura. Pemerintah daerah harus berbagi tempat. Pekon yang mengundang, pasti kami datangi. Pada waktu yang sama saya menghadiri kegiatan di Pekon Sebarus dan Sukarame,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pihak Pekon Balak tidak menyampaikan undangan secara resmi kepada pemerintah daerah.
“Pekon Balak tidak ada undangan, bahkan tidak ada satu orang pun yang datang mengharapkan kehadiran kami. Sementara pekon lain mengirimkan undangan dan memastikan waktu kehadiran,” tambahnya.
Terkait jadwal kunjungan yang sempat beredar di masyarakat, Hasnurin menyebut bahwa seluruh agenda kegiatan kepala daerah diatur melalui protokoler. Namun, dalam kondisi banyaknya kegiatan yang berlangsung bersamaan, tidak semua agenda dapat terakomodir dengan baik.
“Semua kegiatan ditentukan oleh protokol, apalagi jika dalam satu waktu ada beberapa agenda. Protokol juga harus menyesuaikan,” jelasnya.
Di akhir penjelasannya, Hasnurin mengakui bahwa peristiwa ini menjadi bahan evaluasi bersama. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, khususnya warga Pekon Balak.
“Ini menjadi pelajaran bagi kita semua agar ke depan komunikasi tidak terputus. Atas nama pribadi, saya mohon maaf kepada masyarakat Pekon Balak,” tutupnya.
Namun di tengah polemik tersebut, tanggapan Camat Batu Brak, Agus Hadipurnama, justru dinilai sebagian pihak belum menjawab substansi persoalan. Melalui pesan WhatsApp, ia menekankan pentingnya koordinasi dari pihak pekon dan panitia.
“Perihal ini bisa kita jadikan evaluasi ke depan. Aparatur pekon, panitia, dan kecamatan harus lebih berkoordinasi terkait rangkaian acara serta kemungkinan menghadirkan pejabat pemerintah daerah,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pemberitahuan dari panitia menjadi kunci agar pemerintah daerah dapat menyusun jadwal kunjungan.
“Jika ada pemberitahuan, maka Pemda bisa mengatur jadwal kehadiran,” tambahnya.
Namun, pernyataan tersebut justru memunculkan kesan bahwa tanggung jawab sepenuhnya dibebankan kepada pihak pekon dan panitia. Padahal, sejumlah kalangan menilai pihak kecamatan seharusnya memiliki peran lebih aktif sebagai perpanjangan tangan pemerintah daerah di wilayah.
Sementara itu, hingga polemik ini berkembang, respons dari pimpinan tertinggi daerah juga belum terlihat. Salah satu masyarakat Pekon Balak mengaku telah berupaya menghubungi Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, melalui pesan WhatsApp. Namun hingga saat ini, nomor yang bersangkutan tidak aktif dan belum memberikan tanggapan terkait polemik yang berkembang.
Kondisi tersebut semakin menambah kekecewaan masyarakat, yang berharap adanya penjelasan langsung dari kepala daerah mengenai ketidakhadiran pemerintah dalam gelaran Pesta Sekura Cakak Buah tahun ini.
Kondisi ini dinilai ironis, mengingat kegiatan Pesta Sekura Cakak Buah merupakan agenda budaya tahunan yang telah lama berlangsung dan seharusnya menjadi perhatian bersama, bukan hanya bergantung pada undangan formal dari masyarakat.
Meski telah ada klarifikasi dari pihak pemerintah, sejumlah kalangan menilai alasan administratif seperti undangan dan protokoler tidak seharusnya menjadi penghalang kehadiran pemerintah dalam kegiatan budaya yang telah menjadi agenda tahunan.
Pesta Sekura Cakak Buah dinilai bukan sekadar seremoni, melainkan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Lampung Barat. Karena itu, kehadiran pemerintah dianggap sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian budaya sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat. Di tengah polemik tersebut, masyarakat tetap menunjukkan komitmen dalam menjaga tradisi.
Meski demikian, di tengah polemik yang terjadi, sejumlah kalangan tetap menilai bahwa pemerintah daerah seharusnya tidak terlalu kaku dalam persoalan protokoler, terutama untuk kegiatan budaya yang telah menjadi agenda tahunan.
Pesta Sekura Cakak Buah dinilai bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Lampung Barat yang seharusnya mendapat perhatian penuh dari pemerintah tanpa harus menunggu undangan formal.
Apalagi, tradisi Sekura merupakan warisan budaya lama di Bumi Sekala Bekhak yang tidak hanya berdampak pada pelestarian adat, tetapi juga mampu mengangkat nama daerah hingga ke tingkat nasional.






