Lampung Barat, Medianasional.id – Ketidakhadiran Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat dalam sejumlah gelaran Pesta Sekura Cakak Buah di beberapa pekon menuai kritik tajam. Sikap tersebut dinilai mencerminkan ketidakpekaan terhadap budaya lokal sekaligus menguatkan dugaan adanya praktik pilih-pilih lokasi kunjungan berdasarkan kedekatan personal.
Kekecewaan masyarakat semakin menguat lantaran hampir seluruh unsur pimpinan daerah, mulai dari Bupati, Wakil Bupati hingga kepala dinas terkait, terkesan terpusat menghadiri kegiatan di lokasi tertentu, sementara pekon lain yang juga menggelar agenda serupa justru terabaikan.
Meski tanpa kehadiran pemerintah daerah, masyarakat bersama panitia dan penggiat budaya tetap mampu menyelenggarakan Pesta Sekura dengan meriah. Hal ini sekaligus menjadi penegasan bahwa eksistensi budaya sekura tidak bergantung pada kehadiran pejabat.
Tokoh budaya Sai Batin, Nurdin Darsan, menegaskan bahwa tradisi sekura telah hidup jauh sebelum struktur pemerintahan daerah terbentuk.
“Sekura ini sudah ada sejak dahulu, bahkan sebelum Kabupaten Lampung Barat berdiri. Artinya, tanpa pemerintah pun masyarakat tetap mampu menjaga dan melestarikannya,” tegasnya, Kamis (26/3/2026).
Pekon Balak, Kecamatan Batu Brak, menjadi salah satu contoh pekon yang secara konsisten menggelar Pesta Sekura setiap tahun. Namun, pada pelaksanaan tahun ini, ketiadaan kehadiran pemerintah daerah memicu kekecewaan terbuka dari masyarakat.
Kekecewaan tersebut viral melalui video berdurasi 1 menit 13 detik yang beredar di akun Facebook “Liwa-liwa” pada 25 Maret 2026. Dalam video itu, salah satu peserta secara terbuka menyindir sikap pemerintah daerah.
“Jangan hanya datang ke pekon yang punya kedekatan dengan pejabat. Masyarakat Pekon Balak selama ini selalu mendukung program pemerintah, tapi saat kami menggelar kegiatan, justru ditinggalkan,” ungkapnya.
Sindiran tersebut bahkan disampaikan dalam bahasa lokal, “Dang Asah Kebelah”, yang menggambarkan rasa kecewa mendalam terhadap sikap pemerintah yang dinilai tidak adil.
Dalam video lain, masyarakat juga menegaskan posisi Pekon Balak sebagai salah satu pusat budaya di Lampung Barat, ditandai dengan keberadaan Istana Gedung Dalom Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Bekhak Kepaksian Pernong. Beragam tradisi adat terus dijaga secara turun-temurun.
“Dija Kelabai Na,” ucap salah satu peserta, menegaskan identitas kuat Pekon Balak sebagai penjaga warisan budaya.
Sejumlah kalangan menilai, ketidakhadiran pemerintah daerah dalam agenda budaya besar seperti Sekura bukan sekadar persoalan seremonial, melainkan bentuk pengabaian terhadap ruang silaturahmi dengan masyarakat.
Bahkan, publik mempertanyakan peran pemerintah kecamatan serta instansi teknis seperti Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) dan Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Lampung Barat yang dinilai tidak optimal dalam memastikan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat.
Kondisi ini dinilai harus menjadi evaluasi serius. Pemerintah daerah dituntut untuk tidak lagi terkesan eksklusif dan selektif dalam menghadiri kegiatan masyarakat, terlebih agenda budaya yang telah menjadi identitas daerah.
Di tengah kritik yang menguat, masyarakat justru menunjukkan kemandirian. Pesta Sekura Cakak Buah 2026 tetap berjalan sukses, bahkan mampu mendorong perputaran ekonomi warga melalui aktivitas UMKM yang meningkat signifikan selama kegiatan berlangsung.
Situasi ini menjadi ironi: di saat masyarakat berjuang menjaga identitas budaya dan menggerakkan ekonomi lokal, kehadiran pemerintah yang diharapkan justru tidak dirasakan secara merata.






