Proyek Banjir, Anggaran Membanjir: Jejak Kejanggalan di Sudin SDA Jakarta Selatan 2025

Kontrak melebihi pagu, progres mencurigakan, dan proyek raksasa yang belum dimulai – indikasi mark-up dan perencanaan tidak sehat mencuat dari data pengadaan Sudin SDA Jakarta Selatan.

Jakarta255 Dilihat

Jakarta, Medianasional.id – Sudin Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan kembali menjadi sorotan. Dalam analisis terhadap puluhan paket proyek tahun 2025, ditemukan indikasi kuat penyimpangan anggaran dan pelaksanaan, mulai dari kontrak yang melebihi pagu, progres yang tidak masuk akal, hingga proyek bernilai puluhan miliar rupiah yang belum juga dimulai.

Dokumen rekap pengadaan yang diperoleh tim investigasi Medianasional.id mengungkap lebih dari 20 paket pengadaan yang menunjukkan kejanggalan serius. Salah satu yang paling mencolok: Pembangunan Saluran Cilandak Marinir KKO di Kelurahan Pejaten Timur.

Fokus 1: Proyek Cilandak KKO – Kontrak Melewati Batas

Proyek bernama lengkap “Pembangunan Saluran Cilandak Marinir KKO, Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu” tercatat memiliki pagu anggaran sebesar Rp37,25 miliar. Namun nilai kontraknya melonjak menjadi Rp39,25 miliar, alias melebihi pagu hingga Rp2 miliar.

Kelebihan ini bertentangan dengan prinsip pengadaan berdasarkan Peraturan Presiden No. 12 Tahun 2021 yang mengharuskan kontrak tidak boleh melebihi nilai pagu DPA. Tidak tercatat adanya revisi pagu atau klarifikasi resmi dari pihak Sudin SDA Jakarta Selatan.

Lebih mencurigakan lagi, status proyek menunjukkan kontrak telah ditandatangani, namun belum ada keterangan progres atau realisasi fisik yang transparan.

Fokus 2: Proyek Selesai Tanpa Tahapan – Jl. Subur Ujung, Setiabudi

Selain proyek jumbo yang diduga mark-up, ditemukan pula proyek-proyek dengan status “serah terima” namun tanpa pencatatan tahapan progres yang jelas. Salah satunya proyek Pembangunan Saluran Jl. Subur Ujung, Setiabudi.

Nilai pagu proyek ini sebesar Rp954 juta, dengan nilai kontrak sedikit lebih tinggi. Meski selisih terbilang kecil, kejanggalan muncul karena proyek langsung tercatat selesai tanpa data tahapan pengerjaan, BAP mingguan, maupun progres harian. Tidak jelas apakah konsultan pengawas terlibat secara aktif atau hanya formalitas.

Fokus 3: Proyek Jumbo, Progres Nol

Tak kalah mencurigakan, sederet proyek lain seperti:

– Penyediaan PJLP Operasi & Pemeliharaan Drainase (Rp38,7 miliar)

– PJLP untuk Stasiun Pompa (Rp20,8 miliar)

– Pengadaan BBM Sistem Drainase (Rp5,9 miliar), hingga

– Landscape Embung Pemuda (Rp13,4 miliar)

Tercatat belum dikontrakkan atau belum ada progres sama sekali. Fakta ini memunculkan dugaan bahwa pagu raksasa ini sekadar “diparkirkan” sejak tahap perencanaan – sebuah pola klasik penggelembungan anggaran (mark-up) yang kerap diungkap dalam laporan KPK.

“Jika nilai kontrak melampaui pagu tanpa revisi resmi, maka itu bisa dikategorikan sebagai pelanggaran administrasi berat. Dalam banyak kasus, ini menjadi pintu masuk dugaan korupsi,” ujar Leo Loding, seorang analis pengadaan publik kepada Medianasional.id.

Puluhan proyek mencurigakan ini hanyalah puncak dari gunung es. Hingga berita ini diturunkan, Kasudin SDA Jakarta Selatan, Santo belum memberikan klarifikasi atas konfirmasi resmi yang telah dikirimkan wartawan.

Demikian pula dengan Yosua Sitorus yang diduga selaku PPK, milih bungkam. Dan menurut narasumber internal, bahwa Yosua merupakan “the Jokers” di Sudin SDA Jaksel.

Tim investigasi akan menelusuri lebih jauh: siapa penyedia di balik proyek-proyek jumbo ini, apakah terdapat pola pengulangan pemenang, dan bagaimana mekanisme pengawasan internal dijalankan.

 

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses