Labuan Bajo, Medianasional.id – Tim SAR Gabungan memperluas pencarian terhadap satu korban hilang dalam insiden tenggelamnya kapal wisata KM Feronia GT 51 di perairan Tatawa Besar, Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, NTT. Korban diduga terjebak di dalam toilet kapal saat kapal terbalik dihantam pusaran arus.
Pencarian intensif seorang Dive Master perempuan yang hilang dalam musibah tenggelamnya KM Feronia. Tim SAR gabungan fokus melakukan penyelaman ke bangkai kapal di dasar laut.
Korban hilang berinisial VBJ (23), Dive Master asal Jakarta yang berdomisili di Labuan Bajo. Operasi melibatkan puluhan personel dari Sat Polairud Polres Mabar, Basarnas, KSOP Labuan Bajo, Ditpolairud Polda NTT, KP. Bima Baharkam Polri, Lanal Labuan Bajo, dan Perkumpulan Penyelam Profesional Komodo (P3Kom).
Lokasi kejadian di perairan Tatawa Besar, kawasan Taman Nasional Komodo, pada koordinat 8°31’11.4″S 119°36’02.1″E. KM Feronia tenggelam pada Selasa (13/10/2026) sore pukul 14.30 WITA. Operasi pencarian hari pertama dilaksanakan Rabu (14/10/2026) pagi dimulai pukul 06.45 WITA.
Saat kapal terbalik ke sisi kiri akibat pusaran arus bawah laut, korban berada di dalam toilet dalam posisi pintu terkunci dari dalam sehingga tidak sempat menyelamatkan diri dan diduga ikut tenggelam bersama lambung kapal.
Operasi hari pertama diawali apel kesiapan di dermaga Labuan Bajo. Sebanyak tujuh armada speedboat dan RIB dikerahkan ke lokasi. Sat Polairud Polres Mabar sendiri mengerahkan 1 unit Kapal Patroli dan 9 personel.
“Hari ini, kami bersama unsur SAR gabungan kembali melakukan pencarian korban yang belum ditemukan. Fokus utama adalah penyisiran permukaan, pemetaan arah arus, serta menerjunkan tim penyelam profesional untuk identifikasi bangkai kapal,” kata Kasat Polairud Polres Mabar, IPTU Leonardo Marpaung, http://S.IP., Rabu pagi.
Menurutnya, titik toilet sebelah kiri kapal menjadi fokus utama penyelaman.
“Saat kapal mendadak terbalik ke sisi kiri akibat terhempas pusaran arus, korban berada di toilet dalam posisi pintu terkunci dari dalam. Korban tidak sempat keluar dan diduga kuat ikut tenggelam bersama lambung kapal,” jelasnya.
Berdasarkan data kepolisian, KM Feronia bertolak dari Manta Point menuju Tatawa Besar sekitar pukul 14.00 WITA dengan kecepatan 10 knot. Saat mendekati pusaran arus deras pukul 14.30 WITA, nahkoda Isran mengurangi kecepatan menjadi 8 knot. Namun kapal jenis open deck diving itu mendadak hilang kendali dan terbalik ke kiri.
Seluruh penumpang dan kru berhamburan melompat ke laut. Beruntung dua speedboat yang melintas, Red Whale dan Mac Cruise, langsung melakukan evakuasi. Kru KM Feronia juga sempat membentangkan liferaft darurat.
Akibat kejadian itu, tiga wisatawan asing mengalami luka-luka: William Barnet (luka kepala), Teagans Monks (luka kaki), dan Yannick Wassmer (lecet kaki). Ketiganya telah mendapat perawatan di rumah sakit.
Polisi menyebut cuaca saat kejadian sebenarnya cukup baik, namun karakteristik arus bawah laut di Tatawa Besar sangat kuat dan berputar. Selain itu ada dugaan masalah stabilitas kapal.
“Lambung KM Feronia relatif pendek dan kecil, tetapi ditopang struktur kabin atas yang cukup tinggi. Hal ini membuat kapal sangat rentan terbalik saat dihantam pusaran arus air yang kuat,” papar IPTU Leonardo.
Kerugian materiil ditaksir mencapai Rp1 miliar. Polres Mabar telah menerbitkan Laporan Polisi Model A dan melakukan pemeriksaan maraton terhadap Nahkoda Isran, KKM Irwandi, serta tiga ABK lainnya.
“Kami juga akan memanggil pihak agen pelayaran dan pemilik kapal untuk dimintai keterangan terkait dugaan unsur kelalaian dalam mengantisipasi navigasi arus ekstrem,” tegasnya.
Pencarian terhadap korban VBJ akan terus dilanjutkan dengan memperluas radius sesuai arah arus.
“Kami membuka posko informasi SAR dan berkoordinasi dengan keluarga korban. Tim SAR Gabungan akan berupaya semaksimal mungkin,” pungkasnya.






