Temanggung, medianasional.id – Desa Nglondong yang terletak di Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung mempunyai beragam potensi, salah satunya yang terbesar adalah sektor pertanian. jika mampu dioptimalkan Parakan bisa menjadi sebagai produsen utama komoditas pertanian terutama sayuran dataran tinggi. Berangkat dari hal itu, Universitas Diponegoro sebagai kampus terbesar di Jawa Tengah mengirimkan Mahasiswa nya untuk melaksanakan program pengabdian KKN.
Saat ini, Mahasiswa yang dikirimkan masuk kepada KKN Tim II Universitas Diponegoro yang bertempat di Desa Nglondong, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung. Para Mahasiswa menjalankan program multidisiplin dengan judul “Edukasi Penerapan Salah Satu Konsep Sustainable Development Goals (SDGs) di Lingkungan Desa Nglondong Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung”.
Dalam Pelaksanaannya, Mahasiswa yang berjumlah 11 orang ini didampingi oleh 3 dosen dari kampus Undip yakni; Dr. Ir. Suryanti, MS.i , Dr. dr. Indranila KS, Sp.PK serta Prof DR. Ir. Muhammad Zainuri, DEA. Kolaborasi antara dosen serta mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu ini, menghasilkan program yang harapan kedepannya bisa mendorong pembangunan pedesaan selaras dengan program pemerintah.
Bertempat di balai Desa Nglondong, TIM KKN UNDIP memberikan edukasi kepada Ibu-ibu PKK Desa. Dr. Ir. Suryanti, MS.i yang didaulat sebagai ketua dari tim dosen pembimbing lapangan KKN Kecamatan Parakan ini, turut menjadi narasumber dalam kegiatan program KKN ini. Dalam kegiatan tersebut, peserta dibekali pengetahuan seputar konsep SDGs seperti inovasi pemanfaatan sayuran menjadi bakso dari hasil tanaman hidroponik.
“Tujuan dilaksanakan program ini ialah untuk memanfaatkan sayuran yang memiliki harga jual rendah agar dapat bersaing dengan nilai yang lebih tinggi setelah didiversifikasi. Selain itu, fokus pada program ini ialah pemanfaatan sampah organik dan anorganik”, tutur Suryanti.
Lanjut Suryanti, Salah satu contoh pemanfaatan sampah organik ialah diberikannya materi berupa pengolahan kompos dengan baik, sedangkan pemanfaatan sampah anorganik ialah dengan pelatihan bertanam dengan cara hidroponik.
Hal menarik dalam acara tersebut ialah di akhir acara setiap peserta diberikan secara gratis botol bekas, bahan peralatan pembuatan tanaman hidroponik dan bibit tanaman cabai. Tak lupa, beberapa anggota Tim KKN Desa Nglondong melakukan demonstrasi pembuatan tanaman hidroponik di hadapan puluhan ibu-ibu PKK.
Alif Fajar Sidiq selaku koordinator mahasiswa menerangkan, Proses pembuatan tanaman hidroponik dimulai dengan cara mengumpulkan barang bekas seperti botol bekas kemudian dibentuk menjadi wadah pot sebagai tempat untuk bertanam tanaman sayuran. Sesuai namanya, hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Media tanamnya dapat berupa sekam dan air. Jenis tanaman yang cocok ialah tanaman holtikultura seperti tanaman sayur, buah, hias, dan obat-obatan. Tanaman yang cocok diaplikasikan sebagai tanaman hidroponik di Desa Nglondong ialah sawi, kangkung, selada, dan brokoli.
“Antusiasme peserta terlihat ketika beberapa ibu-ibu menanyakan beberapa hal terkait proses pembuatan hidroponik saat demonstrasi berlangsung”, terang Alif.
Sambung Alif, Harapannya semoga selepas kepergian KKN Tim II Undip di Desa Nglondong, pemanfaatan botol bekas untuk tanaman hidroponik dapat terus diterapkan oleh masyarakat.
Ketua PKK Desa Nglondong, Purwatiningsih turut senang dengan hadirnya Mahasiswa KKN UNDIP ke wilayahnya dan membina warganya.
“Alhamdulillah dengan adanya pelatihan tentang hidroponik sangat membantu ibu-ibu di desa Nglondong untuk bisa memanfaatkn botol bekas, dan memanfaatkan pekarangan depan rumah yg sempit untuk bercocok tanam”, ujar Purwatiningsih.
Nada yang sama juga disampaikan oleh Carik (40) salah satu anggota PKK dia bersama anggota PKK sangat berterimakasih kepada UNIP karena berkenan menerjunkan mahasiswa nya kepelosok desa dan memberikan edukasi yang bermanfaat bagi warga desa.
“Ya bagus mas, dengan adanya kegiatan hidroponik ini, ibu-ibu PKK jadi bisa membuat hidroponik, sebelumnya kepingin mencoba tapi belum bisa cara membuatnya”, tegas Carik.
Suryanti pun menambahkan harapannya agar edukasi atau proses transfer ilmu ini dapat membuka wawasan bagi masyarakat Desa Nglondong agar menambahkan pendapatan dari pemanfaatan barang bekas atau yang bernilai biasa saja menjadi produk unik dan inovatif serta mengurangi kerusakan lingkungan akibat sampah terutama botol bekas.
Kontributor : Hendra Wiguna
Editor : Dian






