Dagangan Sepi Tak Laku, Pedagang Pasar Weleri Minta Janji Bupati Mbak Tika Saat Kampanye Dibuktikan

KENDAL– MEDIANASIONAL.ID-Pedagang Pasar Induk Weleri, Kabupaten Kendal, mengeluhkan kondisi pasar yang dinilai masih sepi setelah aktivitas perdagangan berpindah dari pasar sementara di Terminal Bahurekso ke Pasar Induk Weleri. Dagangan yang tidak kunjung laku membuat sebagian pedagang meminta pemerintah daerah turun tangan dan mengingatkan kembali janji Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari atau Mbak Tika saat kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Salah seorang pedagang mi ayam di Pasar Induk Weleri, Hartono, mengatakan kondisi sepi tersebut dirasakan oleh banyak pedagang. Menurutnya, tidak sedikit pedagang yang harus menunggu hingga siang hari tanpa mendapatkan pembeli yang cukup.

“Belum laku sampai siang, bahkan sehari cuma dapat sepuluh ribu,” ujar Hartono, Selasa (6/10/2026).

Hartono meminta pemerintah daerah tidak hanya melihat kondisi pasar dari sisi bangunan dan fasilitas, tetapi juga memperhatikan aktivitas perdagangan serta kondisi ekonomi para pedagang yang berjualan setiap hari.

Pasar Induk Kalah Ramai

Menurutnya, Pasar Weleri seharusnya dapat menjadi pusat perdagangan yang ramai karena memiliki posisi strategis sebagai pasar induk. Kondisi tersebut, menurutnya, berbanding terbalik dengan pasar relokasi Terminal Bahurekso di Desa Jenarsari yang justru terlihat lebih ramai.

“Mosok pasar induk kalah ramai sama Pasar Jenar. Padahal Pasar Jenar itu adalah Terminal Bahurekso yang dulu sebagai pasar sementara, tapi sekarang malah ramai,” imbuh Hartono, yang diamini pedagang lainnya.

Hartono mencontohkan sejumlah pedagang yang akhirnya memilih meninggalkan kios atau los karena minimnya pembeli. Ia menyebut pedagang bakso, di antaranya Bakso Rudal dan pedagang bernama Siti, sudah tidak lagi berjualan di lokasi tersebut.

“Bakso Rudal dan Mbak Siti itu sudah keluar semua. Kenapa keluar karena nggak ada pengunjung sama sekali,” katanya.

Pemanfaatan Lantai Dua

Hartono juga menyoroti pemanfaatan lantai dua Pasar Weleri. Dari sekitar 500 los yang tersedia, ia menyebut hanya sekitar 100 los yang ditempati pedagang. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah mengevaluasi penataan pedagang agar aktivitas jual beli dapat lebih terkonsentrasi dan menarik pengunjung.

“Kalau bisa dibenahi, kalau enggak bisa ya pedagang di lantai dua diturunkan saja di sebelah sana, jadi bisa kumpul semua,” ujarnya.

Hartono mengaku persoalan Pasar Induk Weleri sebelumnya juga pernah dibahas bersama Dinas Perdagangan dan Koperasi UKM (Disdagkop UKM). Saat itu, menurutnya, pedagang berharap pembenahan dilakukan terlebih dahulu sebelum retribusi diberlakukan. Kini, ia menyebut retribusi los berukuran 2×2 meter sebesar Rp4 ribu telah berjalan sekitar tiga bulan.

“Jadi pedagang mengeluhkan, lha wong jualan nggak laku kok ditarik retribusi,” katanya.

Minta Janji Kampanye Dibuktikan

Atas kondisi tersebut, Hartono meminta pemerintah daerah dan Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari meninjau langsung kondisi Pasar Induk Weleri serta mengambil kebijakan yang dapat menghidupkan kembali aktivitas perdagangan.

Ia juga mengingatkan kembali pernyataan Mbak Tika saat kampanye yang disebutnya berjanji menjadikan Pasar Induk Weleri sebagai salah satu prioritas. “Sesuai janji waktu kampanye bupati, nanti pasar ini saya prioritaskan,” kata Hartono menirukan pernyataan Mbak Tika.

Kondisi serupa juga dirasakan Tatik, pedagang sembako. Ia menyebut pendapatan sebagian pedagang dalam sehari hanya berkisar Rp10 ribu hingga Rp30 ribu. Rendahnya omzet tersebut dinilai membuat pedagang semakin kesulitan bertahan.

“Sehari kadang cuma dapat 10 ribu sampai 30 ribuan,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses