Jakarta, Medianasional.id – Lurah Petukangan Selatan, Thia Mutiara, menuai kritik terkait sikapnya yang dinilai acuh terhadap masalah legalitas tanah dan pelanggaran Peraturan Daerah (Perda) di wilayahnya. Saat dikonfirmasi mengenai status legalitas tanah yang sedang dijadikan lokasi pembangunan usaha, Thia mengaku tidak mengetahui pemilik atau dasar kepemilikan lahan tersebut.
“Saya enggak tau pemilik dan alas kepemilikan yang itu. Dan enggak ada catatan di sini,” ucap Thia dengan singkat sebelum meninggalkan awak media.
Berdasarkan informasi masyarakat, tanah yang tengah dibangun tersebut disebut-sebut merupakan aset negara yang diperoleh melalui program pembebasan lahan untuk Asian Games tahun 1962. Kala itu, Presiden Soekarno membentuk Komando Urusan Pembangunan Asian Games (KUPAG), yang dipimpin oleh Brigjen Suprayogi, untuk memastikan kelancaran persiapan. Dalam rangkaian proyek ini, pemerintah membebaskan sekitar 400 hektar lahan di wilayah Senayan, Pesanggrahan, dan sekitarnya untuk mendukung pelaksanaan Asian Games, dengan Senayan dipilih sebagai pusat acara olahraga internasional ini.
Penyelenggaraan Asian Games 1962 menjadi kebanggaan nasional dan menegaskan posisi Indonesia di kancah internasional. Presiden Soekarno melihat ajang ini sebagai kesempatan untuk memamerkan kekuatan dan kemampuan bangsa, terutama dalam suasana politik global yang penuh tantangan. Selain membangun Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), banyak lahan dibebaskan untuk mendirikan infrastruktur penunjang.
Namun, seiring waktu, sejumlah aset yang dibebaskan saat itu mengalami ketidakjelasan status. Kasus di Petukangan Selatan, di mana lahan yang diduga aset negara digunakan tanpa kejelasan legalitas, menjadi sorotan. Sikap Lurah Thia Mutiara yang terkesan masa bodoh dengan laporan masyarakat mengenai pelanggaran Perda justru menambah kekhawatiran akan pengawasan aset negara di wilayah tersebut.
Masyarakat pun berharap ada tindakan serius dari pihak terkait untuk memastikan bahwa aset-aset negara terlindungi dan tidak disalahgunakan.






