Lawan Konten Hoaks, Sekda NTB Ajak Ulama Dakwah di Ruang Digital

Mataram, NTB — Di era gempuran konten TikTok dan Instagram, peran tokoh agama ternyata dituntut buat makin update. Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, Abul Chair, menyebut kalau kehadiran ulama di dunia digital sekarang bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan mendesak buat masyarakat.

Hal ini diungkapkan Sekda saat menjadi keynote speaker di acara bedah buku keren berjudul “Microselebritas Muslim: Strategi Dakwah Virtual Tuan Guru Lombok” karya Suaeb Qury di Auditorium UNU NTB, Sabtu (25/4).

Menurut Abul Chair, tantangan kita sekarang bukan lagi susah cari info, tapi justru kelebihan info (information overload). Masalahnya, banyak konten yang isinya justru menyesatkan atau minim keteladanan.
“Masyarakat kita butuh ulama yang mencerahkan di ruang digital. Teknologi boleh ganti terus, tapi pesan kebaikan nggak boleh absen dari layar HP kita,” tegas Abul Chair di depan para mahasiswa dan tokoh agama.

Istilah ‘microselebritas muslim’ yang dibahas dalam buku tersebut membuktikan kalau para Tuan Guru di Lombok ternyata sangat adaptif. Dengan masuk ke media sosial, nilai-nilai Islam yang adem dan Rahmatan lil ‘Alamin bisa menjangkau Gen Z dan milenial yang mungkin jarang datang ke pengajian konvensional.

“Fenomena ini keren, artinya ulama kita di NTB nggak ketinggalan zaman. Dakwah sekarang bisa masuk ke segmen yang lebih luas lewat platform digital,” tambahnya.
Pemprov NTB menegaskan kalau membangun daerah itu nggak cuma soal bangun jembatan atau jalan raya (infrastruktur fisik), tapi juga soal karakter.
“Kita pengen NTB maju secara ekonomi dan modern, tapi akarnya tetap kuat di nilai-nilai budaya dan moral,” ujar Sekda. Visi ini sejalan dengan target NTB untuk menjadi Provinsi Kepulauan yang makmur mendunia, yang diukur juga dari kualitas akhlak warganya.

Di akhir sesi, Sekda mengajak semua elemen—mulai dari pemerintah, akademisi, sampai komunitas—buat bareng-bareng memperkuat kolaborasi literasi digital. Buku karya Suaeb Qury ini pun dipuji sebagai dokumentasi intelektual penting soal perubahan sosial di Lombok.
buat kalian para pejuang konten, yuk mulai isi ruang digital kita dengan hal-hal yang positif dan mencerahkan!

, NTB — Di era gempuran konten TikTok dan Instagram, peran tokoh agama ternyata dituntut buat makin update. Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, Abul Chair, menyebut kalau kehadiran ulama di dunia digital sekarang bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan mendesak buat masyarakat.

Hal ini diungkapkan Sekda saat menjadi keynote speaker di acara bedah buku keren berjudul “Microselebritas Muslim: Strategi Dakwah Virtual Tuan Guru Lombok” karya Suaeb Qury di Auditorium UNU NTB, Sabtu (25/4).
Menurut Abul Chair, tantangan kita sekarang bukan lagi susah cari info, tapi justru kelebihan info (information overload). Masalahnya, banyak konten yang isinya justru menyesatkan atau minim keteladanan.
“Masyarakat kita butuh ulama yang mencerahkan di ruang digital. Teknologi boleh ganti terus, tapi pesan kebaikan nggak boleh absen dari layar HP kita,” tegas Abul Chair di depan para mahasiswa dan tokoh agama.

Istilah ‘microselebritas muslim’ yang dibahas dalam buku tersebut membuktikan kalau para Tuan Guru di Lombok ternyata sangat adaptif. Dengan masuk ke media sosial, nilai-nilai Islam yang adem dan Rahmatan lil ‘Alamin bisa menjangkau Gen Z dan milenial yang mungkin jarang datang ke pengajian konvensional.
“Fenomena ini keren, artinya ulama kita di NTB nggak ketinggalan zaman. Dakwah sekarang bisa masuk ke segmen yang lebih luas lewat platform digital,” tambahnya.
Pemprov NTB menegaskan kalau membangun daerah itu nggak cuma soal bangun jembatan atau jalan raya (infrastruktur fisik), tapi juga soal karakter.
“Kita pengen NTB maju secara ekonomi dan modern, tapi akarnya tetap kuat di nilai-nilai budaya dan moral,” ujar Sekda. Visi ini sejalan dengan target NTB untuk menjadi Provinsi Kepulauan yang makmur mendunia, yang diukur juga dari kualitas akhlak warganya.

Di akhir sesi, Sekda mengajak semua elemen—mulai dari pemerintah, akademisi, sampai komunitas—buat bareng-bareng memperkuat kolaborasi literasi digital. Buku karya Suaeb Qury ini pun dipuji sebagai dokumentasi intelektual penting soal perubahan sosial di Lombok.
buat kalian para pejuang konten, yuk mulai isi ruang digital kita dengan hal-hal yang positif dan mencerahkan!

 

Posting Terkait

ADVERTISEMENT
Konten berikut adalah iklan platform MGID, medianasional.id tidak terkait dengan isi konten.

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses