Sulawesi Tengah,medianasional.id-Kondisi kualitas udara di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, perlu menjadi perhatian masyarakat, khususnya kelompok yang sensitif terhadap pencemaran udara. Berdasarkan peta kualitas udara IQAir yang dipantau pada 3 Oktober 2026 pukul 17.00 WITA, kondisi kualitas udara di kawasan Banggai dan sekitarnya menunjukkan adanya variasi tingkat kualitas udara. Data yang ditampilkan IQAir pada peta tersebut bersumber dari satellite-derived model atau pemodelan yang berasal dari data satelit.
Hal tersebut diungkap salah satu akademisi Kabupaten Banggai, Susana Asgun kepada media ini, melalui pesan Whatsapp, Sabtu (3/10/2026).
Menurutnya, Peta IQAir memperlihatkan beberapa wilayah di Sulawesi memiliki indeks kualitas udara yang berada pada kategori berbeda, mulai dari Baik, Sedang, Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif, Tidak Sehat, Sangat Tidak Sehat hingga Berbahaya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara dapat berbeda antarwilayah dan dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu. IQAir sendiri menyediakan peta kualitas udara secara langsung dengan sejumlah lapisan informasi, termasuk kualitas udara, angin, dan kejadian kebakaran.
Sementara itu, data AccuWeather yang sebelumnya dipantau pada tanggal yang sama menunjukkan AQI sebesar 90 di Banggai. Dalam data tersebut, PM2.5 tercatat sebesar 27 µg/m³ dengan indeks 90 dan dikategorikan “Buruk”. Parameter lainnya terdiri atas PM10 sebesar 43 µg/m³ dengan indeks 48, NO₂ sebesar 23 µg/m³ dengan indeks 46, serta O₃ sebesar 57 µg/m³ dengan indeks 19.
“Perbedaan antara data IQAir dan AccuWeather perlu dipahami secara proporsional karena kedua platform dapat menggunakan sumber, model, stasiun, dan waktu pembaruan yang berbeda. Karena itu, angka indeks kualitas udara sebaiknya selalu dicantumkan bersama sumber, waktu pemantauan, lokasi, dan metode pengukuran atau pemodelannya,” kata Susana
Ia berujar, bahwa salah satu parameter yang menjadi perhatian dalam data AccuWeather adalah PM2.5. Partikel halus dengan ukuran kurang dari 2,5 mikrometer tersebut dapat terhirup ke dalam sistem pernapasan. Kondisi kualitas udara yang kurang baik dapat menjadi perhatian lebih besar bagi masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara.
Susana Asgun yang diketahui praktisi lingkungan dan Dosen Politeknik Banggai Industri, mengatakan bahwa informasi mengenai indeks kualitas udara perlu dimanfaatkan masyarakat sebagai salah satu dasar untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi lingkungan.
“Informasi indeks kualitas udara sangat penting bagi masyarakat karena kondisi udara dapat berubah dari waktu ke waktu. Ketika indeks menunjukkan peningkatan pencemaran, kelompok sensitif perlu mendapatkan perhatian lebih, terutama anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan,” beber Susana.
Susana menambahkan, masyarakat tidak seharusnya hanya melihat angka AQI, tetapi juga perlu memperhatikan parameter pencemar yang dominan, waktu pemantauan, serta sumber data yang digunakan.
“PM2.5 perlu menjadi perhatian karena partikulatnya sangat halus dan dapat masuk ke saluran pernapasan. Oleh sebab itu, pemantauan kualitas udara secara berkala diperlukan untuk melihat kecenderungan perubahan kualitas udara dan memberikan informasi yang dapat digunakan masyarakat dalam menyesuaikan aktivitasnya,” terangnya melalui release.
Susana menuturkan, bahwa data kualitas udara berbasis pemodelan satelit seperti yang ditampilkan IQAir dapat menjadi informasi pendukung untuk melihat gambaran kondisi udara pada suatu wilayah. Namun, untuk kebutuhan evaluasi lingkungan yang lebih spesifik, data pemodelan tersebut perlu dilengkapi dengan hasil pengukuran langsung melalui stasiun atau alat pemantauan kualitas udara di lapangan.
“Pemodelan kualitas udara dapat memberikan gambaran spasial yang luas. Namun, untuk mendapatkan gambaran kondisi udara yang lebih representatif pada suatu lokasi tertentu, perlu dilakukan pemantauan lapangan secara berkala dengan instrumen yang sesuai dan mengikuti metode pengukuran yang berlaku,” ungkapnya.
Lebih jauh jauh,Susana menjelaskan, Kelompok masyarakat yang sensitif terhadap pencemaran udara, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan masyarakat dengan gangguan pernapasan, perlu lebih memperhatikan kondisi kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas fisik berat di luar ruangan dapat dikurangi, terutama bagi mereka yang mengalami gejala seperti batuk, iritasi tenggorokan, atau kesulitan bernapas.
Kualitas udara juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain aktivitas kendaraan bermotor, debu, pembakaran terbuka, kegiatan industri, kegiatan pertambangan, serta kondisi meteorologi seperti arah dan kecepatan angin. Karena itu, kondisi kualitas udara yang terlihat pada suatu waktu tidak dapat secara otomatis dianggap mewakili kondisi sepanjang hari maupun seluruh wilayah Kabupaten Banggai.
Pemantauan kualitas udara secara berkelanjutan menjadi penting bagi Kabupaten Banggai. Data yang dikumpulkan secara berkala dapat membantu menggambarkan kecenderungan kualitas udara, mengidentifikasi parameter pencemar yang dominan, serta menjadi bahan pendukung dalam pengelolaan lingkungan dan perlindungan kesehatan masyarakat.
Susana menegaskan bahwa upaya menjaga kualitas udara membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
“Menjaga kualitas udara merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan institusi pendidikan dapat berperan dalam pengendalian sumber pencemar, peningkatan pemantauan, edukasi lingkungan, serta penyediaan informasi kualitas udara yang mudah dipahami masyarakat,” pungkasnya.
Dengan adanya informasi dari berbagai platform pemantauan seperti IQAir dan AccuWeather, masyarakat Kabupaten Banggai diharapkan semakin memahami pentingnya kualitas udara sebagai bagian dari kualitas lingkungan hidup. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai peringatan dini dan bahan kewaspadaan, terutama bagi kelompok sensitif, dengan tetap memperhatikan bahwa hasil pemantauan dapat berbeda berdasarkan waktu, lokasi, sumber data, dan metode yang digunakan.
Sumber Data
1. IQAir – Peta Kualitas Udara Banggai
Data pada tangkapan layar menunjukkan 3 Oktober 2026, pukul 17.00 waktu setempat, dengan keterangan bahwa data disediakan oleh satellite-derived model. IQAir menyediakan peta kualitas udara langsung dengan kategori Baik, Sedang, Tidak Sehat bagi Kelompok Sensitif, Tidak Sehat, Sangat Tidak Sehat, dan Berbahaya.
IQAir – Peta Kualitas Udara
2. AccuWeather – Kualitas Udara Banggai
Data tangkapan layar sebelumnya menunjukkan AQI 90, PM2.5 27 µg/m³, PM10 43 µg/m³, NO₂ 23 µg/m³, dan O₃ 57 µg/m³.
Pewarta : Zainal La Adala (Koordinator Wilayah Indonesia Timur)
Editor : Zainal La Adala






