Ketika manusia semakin mudah berkomunikasi, justru semakin mahal arti sebuah kehadiran.
Oleh: Agus Irawan
LAMPUNG BARAT — Kita hidup di zaman ketika mengirim pesan hanya membutuhkan hitungan detik. Namun untuk datang, meluangkan waktu, mengulurkan tenaga, dan membantu sesama, sering kali terasa jauh lebih berat.
Di Pekon Balak, Kecamatan Batu Brak, masyarakat adat Saibatin masih memegang sebuah tradisi yang justru melawan kecenderungan tersebut: Tatikolan.
Ketika sebuah keluarga akan menggelar Nayuh, keluarga besar dan masyarakat datang membawa tenaga untuk membantu menyiapkan berbagai keperluan hajatan, mendirikan tempat acara, serta meringankan pekerjaan keluarga yang memiliki hajat.
Tidak ada kalkulator untuk menghitung berapa keuntungan yang akan diperoleh. Yang ada adalah rasa kekeluargaan dan kesadaran bahwa beban satu keluarga dapat menjadi tanggung jawab bersama.
Tatikolan bukan sekadar tradisi. Ia adalah cara sederhana untuk mengatakan: “Kamu tidak sendirian.”
Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, pesan tersebut justru terasa semakin penting. Sebab di balik aktivitas sederhana itu tersimpan nilai sosial yang jauh lebih besar daripada sekadar menyelesaikan pekerjaan sebuah hajatan.
Ketika Kehadiran Lebih Berarti daripada Ucapan
Hari ini, ucapan selamat bisa dikirim melalui telepon. Foto dapat dibagikan kepada ratusan orang. Bahkan sebuah hajatan bisa disaksikan dari jauh melalui layar.
Tetapi teknologi memiliki batas.
Layar tidak bisa mengangkat kayu. Pesan singkat tidak bisa mendirikan tempat acara. Kalimat “turut membantu dari jauh” tidak pernah benar-benar sama dengan hadir dan bekerja bersama.
Di situlah kekuatan Tatikolan.
Ia menempatkan kehadiran nyata sebagai bentuk kepedulian. Orang datang bukan karena diminta menghitung untung-rugi, melainkan karena merasa menjadi bagian dari keluarga dan lingkungan sosialnya.
Dari sini kita perlu bertanya lebih jauh: di mana sebenarnya budaya hidup dalam kehidupan kita?
Apakah cukup dengan rumah adat, pakaian tradisional, bahasa, gelar, kesenian, atau upacara adat?
Semua itu penting. Tetapi budaya tidak akan hidup hanya karena bentuknya masih ada.
Adat Harus Bernapas
Budaya hidup ketika nilai yang terkandung di dalamnya masih dijalankan.
Tatikolan menunjukkan hal itu dengan sederhana. Gotong royong, kekeluargaan, kepedulian, dan kesediaan membantu bukan hanya dibicarakan, tetapi dilakukan.
Ketika banyak tangan datang membantu satu keluarga mempersiapkan Nayuh, sesungguhnya adat sedang bernapas. Nilai-nilai yang diwariskan leluhur tidak berhenti menjadi cerita, tetapi hadir dalam tindakan.
Tradisi Tatikolan sampai saat ini di dalam komunitas adat Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Bekhak, Kepaksian Pernong Lampung tradisi itu masih terjaga sampai saat ini. Seperti hari ini Selasa (8/9/2026). helatan adat itu terasa Di Jukuan Lamban Keratun Pekon Balak, dalam lingkungan adat Saibatin di bawah kepemimpinan Firmansyah, Gelar Raja Paksi, tradisi seperti Tatikolan menjadi gambaran nyata bahwa adat bukan sesuatu yang hanya disimpan untuk dikenang. Ia menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Namun persoalannya kini bukan sekadar bagaimana mempertahankan sebuah tradisi. Persoalan yang lebih besar adalah bagaimana menjaga semangat kebersamaan ketika zaman justru semakin mendorong manusia untuk sibuk dengan dirinya sendiri.
Negak Kelasa: Memikul Beban Bersama
Dalam rangkaian persiapan Nayuh, dikenal pula tradisi Negak Kelasa.
Di balik kegiatan menyiapkan dan mendirikan tempat acara, terdapat filosofi sederhana: pekerjaan besar tidak harus dipikul seorang diri.
Pesan ini terasa sangat relevan dengan kehidupan modern.
Kita memang dituntut mandiri. Kita didorong untuk mampu berdiri dengan kemampuan sendiri. Tetapi mandiri bukan berarti harus hidup sendirian.
Masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang semua orangnya mampu berdiri sendiri, melainkan masyarakat yang tidak membiarkan seseorang menghadapi kesulitan seorang diri.
Tatikolan dan Negak Kelasa mengajarkan bahwa kekuatan sebuah komunitas tidak hanya diukur dari seberapa maju masyarakatnya, tetapi juga dari seberapa kuat mereka saling menopang.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan lagi apakah generasi muda mengenal nama Tatikolan dan Negak Kelasa.
Pertanyaannya adalah: apakah mereka masih menganggap nilai di balik tradisi itu penting?
Musuh Adat Bukan Modernisasi, Melainkan Lupa
Modernisasi bukan musuh adat.
Teknologi juga bukan ancaman yang harus ditakuti.
Anak-anak muda boleh menguasai teknologi, menempuh pendidikan tinggi, bekerja di kota besar, bahkan pergi jauh meninggalkan kampung halaman. Itu bagian dari perubahan zaman.
Yang berbahaya adalah ketika seseorang menjadi semakin maju, tetapi semakin lupa kepada akar yang membentuk dirinya.
Tatikolan sesungguhnya tidak harus membeku dalam bentuk lama. Bentuknya bisa menyesuaikan perkembangan zaman. Tetapi semangat kebersamaan, kepedulian, dan gotong royong yang menjadi rohnya harus tetap dipertahankan.
Sebab yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya bukan hanya bagaimana sebuah tradisi dilakukan, tetapi mengapa tradisi itu lahir dan mengapa ia masih penting untuk dilakukan.
Jangan Sampai Tatikolan Tinggal dalam Foto
Bahaya terbesar bagi sebuah tradisi bukanlah perubahan, melainkan berhentinya praktik.
Jangan sampai Tatikolan kelak hanya menjadi foto, video, atau cerita orang tua kepada anak-anaknya.
Jangan sampai generasi mendatang hanya berkata, “Begitulah masyarakat kita dulu.”
Sebab ketika sebuah tradisi hanya menjadi cerita tentang masa lalu, kita sebenarnya bukan lagi sedang melestarikan budaya, melainkan sedang mengenang budaya yang telah kehilangan kehidupannya.
Generasi muda tidak cukup hanya mengetahui bahwa Tatikolan pernah ada. Mereka perlu ikut hadir, ikut bekerja, dan merasakan sendiri bagaimana rasanya membantu orang lain tanpa terlebih dahulu bertanya apa yang akan mereka dapatkan.
Tradisi yang hanya diceritakan bisa dilupakan. Tradisi yang dijalani akan menjadi pengalaman yang lebih mudah diwariskan.
Pada titik inilah Tatikolan berbicara lebih jauh daripada sekadar tradisi masyarakat adat Saibatin. Ia berbicara tentang kita: tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain dan tentang masyarakat seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya.
Tatikolan Adalah Cermin Kita
Pada akhirnya, Tatikolan bukan hanya tentang bagaimana masyarakat membantu sebuah keluarga mempersiapkan Nayuh. Ia adalah cermin yang memperlihatkan sesuatu yang mungkin mulai kita lupakan: bahwa kehidupan bersama dibangun bukan hanya oleh hubungan darah, tetapi oleh kesediaan untuk hadir, membantu, dan berbagi beban.
Dari Pekon Balak, tradisi sederhana ini membawa kita kembali pada pertanyaan yang muncul di awal: di tengah kemudahan teknologi dan cepatnya perubahan zaman, apakah kita masih benar-benar dekat dengan sesama?
Sebab semakin maju sebuah masyarakat, semestinya semakin kuat pula kepeduliannya. Jika kemajuan justru membuat manusia semakin sibuk dengan dirinya sendiri, maka ada sesuatu yang patut kita pertanyakan dari cara kita memaknai kemajuan itu.
Tatikolan memberikan jawaban yang sederhana. Kebersamaan tidak lahir dari teknologi, melainkan dari kemauan untuk hadir. Persaudaraan tidak cukup dibicarakan, tetapi harus dikerjakan. Dan gotong royong tidak akan bertahan hanya karena diwariskan dalam cerita, melainkan karena masih dilakukan.
Maka menjaga Tatikolan bukan sekadar menjaga sebuah tradisi masyarakat adat Saibatin. Kita sedang menjaga cara hidup yang menempatkan manusia sebagai bagian dari manusia lainnya.
Di sinilah tugas generasi hari ini menjadi penting. Tradisi boleh berubah mengikuti zaman, tetapi nilai yang membuatnya bermakna harus tetap hidup.
Sebab jika suatu hari Tatikolan hanya tinggal dalam foto, sementara semangat kebersamaannya telah hilang, kita mungkin masih memiliki dokumentasi budaya, tetapi telah kehilangan kebudayaannya.
Barangkali, itulah pelajaran paling penting dari sebuah rumah panggung di Pekon Balak.
Di tengah kehidupan yang semakin cepat, kita tidak selalu membutuhkan sesuatu yang baru. Terkadang kita hanya perlu mengingat kembali sesuatu yang pernah kita miliki: kemauan untuk datang ketika orang lain membutuhkan.
Teknologi boleh membuat kita semakin terhubung. Modernisasi boleh mengubah cara kita menjalani kehidupan.
Namun, jangan sampai semua itu membuat kita lupa cara untuk hadir.
Karena pada akhirnya, yang membuat kita dekat bukan sekadar teknologi, melainkan kesediaan untuk hadir.






