Hari Keempat Longsor Way Tippon, Warga Khawatir Aliran Terus Meluas, Alat Berat Belum Tiba

Lampung Barat809 Dilihat

Lampung Barat. Medianasional.id – Empat hari pascalongsor, kekhawatiran warga di empat pekon Kecamatan Batu Brak, Lampung Barat, belum berakhir. Bukan lagi soal gagal panen, karena sebagian besar sawah warga telah selesai dipanen, melainkan ancaman aliran air yang dikhawatirkan terus meluas akibat Sungai Way Tippon masih tersumbat material longsor.

Warga Pekon Balak, Kegeringan, Canggu dan Gunung Sugih masih berjibaku di lokasi. Mereka berusaha mengendalikan aliran air dengan tenaga manusia dan peralatan seadanya, sembari menunggu penanganan dengan alat berat.

Material longsoran yang menutup aliran Sungai Way Tippon diperkirakan membentang sekitar 150 meter dengan ketinggian mencapai 10 meter. Besarnya volume material membuat upaya warga membuka sumbatan secara manual belum memberikan hasil signifikan.

Tiga unit mesin alkon atau pompa air kini digunakan untuk membantu mengatasi kondisi di lokasi. Namun, keterbatasan peralatan membuat warga belum mampu menangani keseluruhan material longsoran.

Kekhawatiran utama warga saat ini adalah air yang tertahan akibat sumbatan terus mencari jalur baru dan berpotensi meluas ke areal persawahan maupun wilayah di sekitarnya.

Meski sebagian besar sawah telah dipanen, luapan air dan material lumpur tetap berpotensi menimbulkan kerusakan pada lahan serta mengganggu aktivitas masyarakat.

Pemerintah Sudah Turun Meninjau

Aparatur pekon bersama Kecamatan Batu Brak terus melakukan pemantauan dan mendampingi masyarakat di lokasi bencana.

Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lampung Barat juga telah melakukan peninjauan langsung untuk melihat kondisi sumbatan Sungai Way Tippon.

Namun hingga Selasa (15/9/2026), alat berat yang diharapkan masyarakat untuk mempercepat proses pembukaan sumbatan belum terlihat berada di lokasi.

Kondisi tersebut membuat warga masih harus mengandalkan gotong royong untuk mengurangi dampak sumbatan sungai.

Camat Batu Brak, Rusman, S.Sos., M.M., yang turut mengawal kondisi masyarakat di lokasi, mengatakan musibah tersebut merupakan persoalan bersama yang membutuhkan kepedulian seluruh masyarakat.

“Ini merupakan musibah. Kita tidak bisa mengatakan ini musibah perorangan, tapi ini adalah musibah kita semua, seluruh masyarakat Batu Brak,” ujar Rusman saat ditemui di lokasi.

Donasi Warga Mengalir ke Lokasi

Di tengah keterbatasan penanganan, solidaritas masyarakat terus terlihat. Warga dari berbagai wilayah ikut membantu kebutuhan mereka yang bekerja di lokasi.

Dapur umum swadaya menyediakan makanan bagi warga yang berjibaku menangani dampak longsor. Seluruh kebutuhan tersebut berasal dari donasi masyarakat.

“Yang disajikan setiap hari merupakan donasi dari masyarakat semua. Di sini terlihat jelas rasa tanggung jawab dan keprihatinan atas musibah yang menimpa saudara kita. Ini tanggung jawab kita bersama. Meringankan beban sesama adalah sebuah kewajiban,” ungkap seorang warga.

Semangat gotong royong menjadi kekuatan warga selama empat hari terakhir. Namun, besarnya material longsor membuat penanganan dengan tenaga manusia dan peralatan sederhana memiliki keterbatasan.

Kini masyarakat berharap penanganan segera ditingkatkan dengan dukungan alat berat. Bukan semata untuk membuka kembali aliran Sungai Way Tippon, tetapi juga mencegah air dan material lumpur terus meluas ke wilayah yang lebih banyak dan menimbulkan dampak yang semakin besar.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses