Hilirisasi Riset UNDIP di Batang : Ubah Limbah Plastik Menjadi Bahan Bakar Alternatif

Batang71 Dilihat

BATANG, medianasional.Id.
PPemerintah Kabupaten Batang meluncurkan langkah baru dalam mengatasi krisis lingkungan. Berkolaborasi dengan Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, Penjabat Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, meresmikan pengoperasian mesin pirolisis mutakhir di Bantongan, Desa Kalisalak, pada Senin (26/10/2026). Teknologi berbasis riset ini mampu mengonversi sampah plastik yang sulit terurai menjadi produk bahan bakar alternatif.

Faiz menyatakan apresiasi tingginya terhadap proyek hilirisasi riset ini. Menurutnya, inovasi ini menjadi angin segar bagi banyak pemerintah daerah yang saat ini tengah pusing memikirkan cara mengelola timbunan sampah.

“Ini adalah bukti konkret bahwa riset akademis bisa melahirkan solusi nyata bagi problem mendasar masyarakat. Hampir seluruh pemda hari ini bergelut dengan masalah sampah,” ujar Faiz.

Kendati mendukung penuh, Faiz memberikan catatan agar teknologi ini terus disempurnakan. Fokus utama pembenahan ke depan terletak pada peningkatan volume olahan, penekanan bau, serta minimalisasi dampak lingkungan di sekitar lokasi operasi. Jika kinerjanya sudah optimal, Pemkab Batang berencana mereplikasi mesin ini secara massal ke berbagai desa dan kelurahan.

Dalam rencana jangka pendek, mesin pirolisis ini diproyeksikan untuk melayani pengelolaan sampah di wilayah dataran tinggi Batang yang produksi sampahnya sudah mampu diakomodasi oleh kapasitas mesin saat ini. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi beban ketergantungan wilayah terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Pada kesempatan yang sama, Rektor UNDIP, Suharnomo, menjelaskan bahwa penyediaan teknologi ini adalah wujud nyata kontribusi kampus bagi masyarakat luas. Kampus UNDIP sendiri telah menerapkan prinsip zero waste selama dua tahun terakhir, di mana sampah dari 60.000 mahasiswa mereka sukses diolah mandiri tanpa harus dibuang ke TPA Jatibarang.

“Sampah anorganik seperti plastik kami olah lewat pirolisis menjadi BBM. Sementara sampah organiknya dialokasikan untuk budidaya maggot, pakan ternak, dan pupuk kompos,” urai Suharnomo. Ia juga berharap sinergi ini kelak membawa Kabupaten Batang mencapai status zero waste.

Sebagai gambaran teknis, mesin yang kini terpasang di Desa Kalisalak memiliki kapasitas pemrosesan 200 kilogram sampah plastik yang mampu menghasilkan sekitar 100 liter bahan bakar. Secara hitungan umum, setiap satu ton bahan baku plastik berpotensi memproduksi hingga 500 liter bahan bakar, tergantung komposisi dan jenis plastiknya. Mesin pirolisis ini mengandalkan sistem pemanasan suhu tinggi dalam kondisi minim oksigen.

Meski sudah siap guna, operasional di lapangan akan tetap diawasi secara ketat demi menjaga standar keselamatan kerja, menekan emisi gas buang, dan memastikan residu sisa pembakaran tidak memicu persoalan lingkungan baru. Untuk saat ini, material keras seperti sampah kaca belum bisa diproses oleh mesin tersebut.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses