KENDAL–MEDIANASIONAL.ID- Peringatan Hari Jadi Kabupaten Kendal ke-421 kembali memunculkan perdebatan di tengah masyarakat. Salah satu yang dipersoalkan adalah alasan penetapan pengangkatan Tumenggung Bahurekso pada 28 Juli 1605 sebagai dasar Hari Jadi Kabupaten Kendal.
Awalnya, Hari Jadi Kendal diperingati setiap 26 Agustus. Tanggal tersebut dipilih karena berkaitan dengan momentum penyerangan Mataram terhadap VOC di Batavia pada 1628, yang dipimpin salah satunya oleh Adipati Bahurekso. Namun, dalam peristiwa itu Mataram mengalami kekalahan.
Karena dinilai kurang tepat menjadikan momentum kekalahan sebagai Hari Jadi daerah, kemudian dicari dasar penetapan yang baru. Saat itu, momentum pelantikan seorang bupati dijadikan landasan penentuan Hari Jadi Kabupaten Kendal melalui seminar yang menghadirkan sejumlah tokoh dan sejarawan.
Dalam seminar tersebut tidak ditemukan bukti-bukti sejarah, baik dari babad, hikayat, manuskrip, maupun arsip yang menunjukkan adanya pelantikan Bupati Kendal.
“Jalan keluarnya adalah memakai fiksi- spekulasi, yaitu di Kerajaan Mataram Islam biasanya pejabat dilantik pada tanggal 12 Rabiul Awal atau Maulid Nabi,” kata Sekretaris IKA-PMII Kendal sekaligus pemerhati sejarah Kendal, Sumardi, kepada Medianews, Selasa (28/7/2026).
Kemudian dicari momentum sejarah yang tercatat dalam sumber sejarah, termasuk babad, namun tidak ditemukan keterangan mengenai pelantikan Bupati Kendal. Yang ditemukan justru tahun 1605.
Ada apa dengan tahun 1605?
Sumardi menjelaskan, tahun 1605 merupakan masa ketika Demak ditaklukkan oleh Mataram Islam. Adipati Demak menyerah dan selanjutnya digantikan oleh pejabat dari Mataram.
“Di Demak pun pada waktu itu sedang terjadi peralihan kekuasaan, difiksi-spekulasi di Kendal juga dilantik seorang bupati,” jelasnya.
Menurut Sumardi, kebiasaan pelantikan pejabat pada tanggal 12 Rabiul Awal kemudian dijadikan dasar spekulatif sebagai tanggal pelantikan Bupati Kendal dengan mengambil tahun 1605.
“Ketemulah tgl 12 Rabiul Awal pada tahun 1605 Masehi itu adalah tanggal 28 Juli 1605, yang kemudian lahirlah Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2006 tentang Hari Jadi Kabupaten Kendal dengan penetapan 28 Juli sebagai hari jadi,” ungkapnya.
Dengan adanya perda tersebut, muncul pertanyaan mengapa tahun 1605 disebut sebagai tahun pengangkatan Tumenggung Bahurekso sebagai Adipati Kendal pada masa pemerintahan Sultan Agung.
Mengutip dari Dr. Kholid Adib, dosen UIN Semarang, Sumardi menjelaskan, “Di Serat Centhini dan Babad Tanah Jawi menyebut Tumengung Bahurekso diangkat menjadi Adipati Kendal pada masa Sultan Agung. Sedangkan Sultan Agung diangkat menjadi Raja Mataram Islam tahun 1613,”.
Bahkan, Dr. M. Kholidul Adib yang juga penulis buku sejarah Kasultanan Demak Bintoro mempertanyakan bagaimana Tim Sejarah Kendal dapat menyimpulkan bahwa Tumenggung Bahurekso dilantik menjadi Adipati Kendal pada tahun 1605. Padahal, pada tahun tersebut Mataram masih dipimpin Raden Mas Jolang (Panembahan Hanyokrowati), ayah dari Sultan Agung.
Kholidul Adib juga menyebut, antara tahun 1613 hingga 1628 itulah Tumenggung Bahurekso dilantik menjadi Adipati Kendal, bukan pada tahun 1605 yang dikaitkan dengan kekalahan Pangeran Puger di Demak.
“Ini yang perlu diluruskan, dan perlu didiskusikan lagi. Karena jangan sampai hari jadi yang kita peringati setiap tahun ini adalah sebuah fiksi atau spekulasi semata, tanpa diambil dari sejarah yang benar-benar terjadi. Apalagi, pembentukan Kabupaten Kendal adalah atas Usul Sinuwun Prabu Hadi Hanyokrowati,” harap Sumardi.
Menurutnya, sosok yang memiliki fondasi sejarah yang kuat adalah Pangeran Benowo, putra Joko Tingkir, yang mendirikan perguruan di Prak’an, wilayah yang kini masuk Desa Pekuncen, pada 1578.
“Kendal itu mendapat perhatian istimewa dari Raja Pajang. Sejak tahun 1578 Pangeran Benowo, putra Joko Tingkir, Raja Pajang mendirikan perguruan di Kendal. Sebagai cikal bakal pengembangan tatanan masyarakat di Kendal,” beber Sumardi.
Pada kesempatan itu, ia juga berharap pemerintah daerah, sejarawan, pemerhati sejarah, serta tokoh agama dan masyarakat dapat duduk bersama untuk mengkaji kembali sejarah Hari Jadi Kabupaten Kendal.




