Bersinergi di Kawasan Pulau-Pulau: Poros Timur Indonesia

Ambon, Maluku1827 Dilihat

Opini Ardiansyah

Maluku, jika dua huruf “ku” dipisah satu spasi maka, jadilah “malu ku” artinya aku malu.

“Malu ku” jika Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) tak mampu menjadi pioner sinergisitas seluruh elemen dan stakeholder di Provinsi Maluku: Pemerintah daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), akademisi, peneliti, masyarakat umum, dan berbagai pihak terkait lainnya. Aktualisasi bersinergi perlu segera didorong secara kontinyu dan fokus dalam mengembangkan sektor pariwisata, perikanan, dan perkebunan.

Bersinergi merupakan aktualisasi rasa syukur akan potensi besar yang dimiliki di kawasan pulau-pulau. Di sini, bukan hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga kekayaan budaya, keindahan airnya, lautnya, bahkan langitpun turut memantulkan cahaya keindahan itu. Diselimuti kearifan lokal yang khas di antara tebaran pulau yang saling sambung menyambung.

Pertama, sinergisitas sektor pariwisata. Menurut data Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, kontribusi wisata Pantai Hunimua terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun 2017 s.d 2021 yaitu: (a) 2017 sebesar Rp480.083.786; (b) 2018 sebesar Rp682.883.500; (c) 2019 sebesar Rp432.195.500; (d) 2020 sebesar Rp180.773.000; dan (e) 2021 sebesar Rp624.217.000. Total 2017 s.d 2021 sebesar Rp2.400.152.786.

Sedangkan kontribusi wisata Pantai Namalatu terhadap PAD Provinsi Maluku dari tahun 2017 s.d 2021 yaitu: (a) 2017 sebesar Rp122.784.075; (b) 2018 sebesar Rp175.081.000; (c) 2019 sebesar Rp144.147.000; (d) 2020 sebesar Rp147.377.000; dan (e) 2021 sebesar Rp173.866.500. Total 2017 s.d 2021 sebesar Rp763.255.575.

Ini hanya contoh dari dua destinasi, lalu mana catatan dari destinasi wisata lain? Mungkin dicatat diatas ombak!
Sinergi sektor pariwisata dapat didorong melalui pengenalan budaya dan kearifan lokal, di antaranya tarian, musik tradisional, dan adat istiadat mengakar kuat menjadi daya tarik tersendiri sebagai poros pariwisata di timur Indonesia. Akan tetapi, khusus untuk obyek wisata yang dikelola masyarakat, uang masuk dari pengunjung, sisihkan 50% untuk memperindah distinasi itu sendiri. “Jang ambe samua for bali ini dan itu”.

Mereka yang healing akan kecewa jika disambut fasilitas umum tak layak pakai dan barisan sampah. Maka, sisihkan 50% demi mensukseskan healing para pengunjung, karena tujuannya penyembuhan diri mereka untuk mendapatkan ketenangan batin dan jiwa. Pengelola tempat wisata perlu suntikan ilmu dan dilatih intensif. Namun, pelatihannya harus gratis dan ada uang duduk. ”Kalau dua syarat ini seng ada, maaf e, ada sibuk”.

Kawasan pulau-pulau terdiri dari daratan sekitar 7,6% sedangkan lautnya 92,4%. Berapa persen dari luas laut yang sudah terjalin sinergitas PTV? Berapa persen menopang kesejahteraan masyarakat di sini?

Kedua, sinergisitas sektor perikanan. Komoditas ikan, lobster, dan berbagai spesies. Penduduk laut lainnya pun bersinergi mewujudkan poros terbesar hasil laut dari timur Indonesia.
Data ekspor oleh BPS Maluku: Maret 2024 US$ 5,6 juta dan April 2024 US$ 1,79 juta sehingga total US$ 7,3 juta. Komoditas non migas dari kelompok ikan dan udang berupa tuna, kerapu, ikan laut, ikan beku, dan kepiting.

Siapakah yang paling diuntungkan hasil ekspor itu? Apakah masyarakat di sini? Atau masyarakat hanya mendapatkan ampas saja?

Bisakah sebagaian dari US$ 7,3 juta yang di ekspor itu diolah menjadi finished goods (produk akhir) oleh anak negeri sendiri? Andai, komunitas ikan dan konco-konconya mampu bicara, “dong mau bilang: Katong dirampok di Laut Aru”. Pada saat yang sama, anak negeri sibuk beradu argumen “minyak mahal; susah tangkap ikan; ikan su pintar”.

Saatnya PTV bersinergi dalam pengelolaan dan pemanfaatan hasil laut yang ramah lingkungan agar ekosistem laut 92,4% itu terjaga dan diolah sendiri menjadi finished goods.

Mampukah PTV menjadi pelopor sinergisitas? Atau “katong jawab saja: susah bikin sendiri, kalau di ekspor su jelas dapa kepeng, seng pusing lai”.
“Tanya lai: Laut 92,4%. Berapa persen su ada sinergisitas PTV? Malu ku”

Ketiga, sinergisitas sektor perkebunan. Walaupun daratan hanya 7,6% tetapi di gunung, berkembang biak sekelompok cengkeh, pala, kelapa, lontar, dan kakao. Mereka membutuhkan pabrik agar berubah menjadi finished goods, sehingga bisa dinikmati sendiri oleh anak negeri.

Ekspor hasil perkebunan dengan penuh kebanggaan, tetapi yang diekspor mentahan, bagaikan obral murah meriah. “Mau ka seng ekspor produk jadi? Mari bersinergi di kawasan pulau-pulau. Karena ini adalah keniscayaan. “Jang bilang: Otw mengumpulkan niat”.

Sebuah mimpi: Sinergisitas mengembangkan industri hilir untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal berdaya saing global. Berkembangannya industri maka, terbuka pula lapangan kerja untuk anak negeri sendiri, insfratruktur akan dibangun, seiring berjalannya waktu, kesejahteraan masyarakat lokal pun terwujud. Sehingga kawasan Timur Indonesia akan menjadi pusat ekonomi baru.

Perlu upaya bersama antara PTV, pemerintah daerah, LSM, peneliti, akademisi, masyarakat umum, dan pihak terkait lain untuk mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing. Sinergisitas dalam mendudukkan anak negeri sebagai pemain utama dan muaranya kesejahteraan masyarakat di sini.

Saatnya, Politeknik Negeri Ambon dan Politeknik Perikanan Negeri Tual sebagai PTV berdiri gagah mewujudkan cita-cita menjadi poros pariwisata, perikanan, dan perkebunan dari Timur Indonesia.
Jika bukan sekarang: Mari duduk manis menjadi suporter garis keras beradu argumen sembari menanti matahari lahir dari barat.

(Penulis adalah Dosen Jurusan Administrasi Niaga, Politeknik Negeri Ambon)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses