YOGYAKARTA, medianasional.id– Buku kumpulan enam cerpen karya Dr. Priyambudi Sulistiyanto berjudul Orang-Orang Adelaide, Australia dibedah dalam diskusi publik di Kafe Rakopiran, Pojok Panggung Krapyak, Yogyakarta, Rabu (26/8/2026).
Buku yang diterbitkan Deiomedia Solo tersebut mengangkat kehidupan para diaspora dan migran di Adelaide, Australia. Cerita-cerita di dalamnya menggambarkan pergulatan hidup, suka duka, kehilangan, hubungan antarmanusia, harapan, hingga persoalan identitas ketika seseorang menjalani kehidupan jauh dari tanah kelahirannya.
Priyambudi Sulistiyanto, yang pernah menjalani kehidupan di Adelaide, menjadikan pengalaman dan perjumpaannya dengan sesama diaspora maupun imigran sebagai salah satu pijakan dalam menulis enam cerpen tersebut.
Selain mengangkat kehidupan personal para tokohnya, buku ini juga merefleksikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan politik, sejarah, kuliner, dan kebudayaan.
Budayawan senior Yogyakarta, Ons Untoro, menilai karya tersebut memiliki formula penceritaan yang unik. Menurutnya, enam cerpen dalam buku itu terasa seperti tulisan profil yang dipadukan dengan imajinasi.
“Membaca enam cerpen Priyambudi ini terasa unik. Formula cerpennya serupa sebuah profil. Mendeskripsikan profil tokohnya dipadu dengan imajinasi. Agaknya ini cara penulis menghidupkan tokoh atau profil dalam cerpennya,” kata Ons saat menjadi pembahas buku.
Ons menambahkan, cerita-cerita tersebut umumnya menghadirkan dua tokoh, yakni tokoh yang diprofilkan dan sosok “saya” sebagai kata ganti penulis. Bentuk tersebut, menurutnya, dapat disebut sebagai tulisan profil prosais.
Sementara itu, Dr. Novi Kurnia, dosen Ilmu Komunikasi UGM yang turut membahas buku, mengatakan cerita dalam Orang-Orang Adelaide, Australia mampu menghadirkan pengalaman diaspora yang terasa dekat dengan pembaca.
“Bagi seseorang yang pernah tinggal di Adelaide, membaca buku ini seakan kembali merasakan sudut kehidupan di sana,” ujar Novi.
Ia menilai buku tersebut mengajak pembaca memasuki kehidupan orang-orang yang secara geografis berada jauh dari Indonesia, tetapi menghadapi persoalan yang sangat manusiawi, seperti kehilangan, kisah asmara, perpisahan dengan keluarga, dan munculnya harapan baru di tanah perantauan.
Buku tersebut diterbitkan Deiomedia Solo dengan sampul yang menampilkan lukisan karya pelukis Moelyono. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya menghadirkan bentangan pengalaman kehidupan diaspora, mulai dari masa lalu, kehidupan di tanah baru, hingga harapan mengenai masa depan.
Pemilihan Kafe Rakopiran di Pojok Panggung Krapyak yang berada di sekitar situs Kandang Menjangan juga memberikan suasana tersendiri. Diskusi berlangsung di lantai dua dengan ornamen bernuansa pecinan. Meski kondisi ruangan cukup berdesakan, suasana diskusi semakin hangat ketika memasuki sesi tanya jawab bersama penulis.
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah sastrawan dan budayawan Yogyakarta serta peserta peluncuran dan diskusi publik. Acara juga diselingi pemberian suvenir kecil bernuansa khas Adelaide dan negara tetangga.
Dalam kesempatan tersebut, Priyambudi Sulistiyanto justru memilih tidak banyak berbicara mengenai bukunya.
“Saya tidak akan banyak berbicara, karena saya sudah banyak menulis,” seloroh Priyambudi di hadapan peserta.
Melalui enam cerpen, Orang-Orang Adelaide, Australia menawarkan gambaran tentang kehidupan diaspora Indonesia di negeri seberang. Buku ini memperlihatkan bahwa perpindahan tempat tidak serta-merta menghapus keterikatan seseorang dengan tanah kelahiran, sejarah, dan identitas yang dibawanya.(wid/kus).






