Bakesbangpol Tulungagung Perkuat P4GN, Desa Jadi Garda Terdepan Perang Melawan Narkoba

Tulungagung841 Dilihat

Tulungagung, Medianasional.id – Ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika yang kian masif memaksa pemerintah daerah bergerak lebih agresif.

Tidak lagi menunggu aparat bertindak di hilir, Pemerintah Kabupaten Tulungagung memilih memperkuat benteng pencegahan dari hulu: desa dan keluarga. Melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), kegiatan Peningkatan Pemahaman Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) digelar di Auditorium UBHI PGRI Tulungagung, Kamis (5/3/2026).

Forum tersebut mempertemukan unsur kecamatan, pemerintah desa, serta berbagai pemangku kepentingan. Langkah ini menjadi sinyal bahwa perang melawan narkoba tak lagi bisa ditangani secara sektoral. Peredaran gelap narkotika dinilai telah menyusup hingga ke lini kehidupan paling bawah, memanfaatkan celah sosial dan kemajuan teknologi.

Kepala Bakesbangpol Tulungagung, Agus Prijanto Utomo, S.E., menegaskan persoalan narkoba telah berkembang menjadi ancaman multidimensi. Bukan sekadar masalah kriminalitas, melainkan ancaman terhadap ketahanan sosial dan masa depan generasi muda.

“Peredaran narkoba kini semakin kompleks. Para pelaku memanfaatkan kemajuan teknologi digital, media sosial, hingga transaksi daring yang sulit terdeteksi secara kasat mata,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, berbagai laporan nasional menunjukkan Indonesia masih menjadi pasar potensial jaringan narkotika internasional. Kondisi ini, menurutnya, tidak boleh dianggap sebagai persoalan jauh di pusat, melainkan ancaman nyata yang bisa menjangkau hingga tingkat desa.

“Upaya P4GN tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum. Pemerintah daerah, desa, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat hingga keluarga harus bergerak bersama,” ujarnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala BNN Kabupaten Tulungagung Wasbeka Abie Yuwono, narasumber dari BNN dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), serta jajaran Bakesbangpol dan perwakilan desa se-Tulungagung. Sinergi lintas sektor ini diproyeksikan sebagai fondasi penguatan program Desa Bersinar (Bersih Narkoba).

Agus juga menyinggung tantangan bonus demografi yang tengah dihadapi Indonesia. Generasi muda yang seharusnya menjadi motor pembangunan justru berada pada posisi paling rentan terhadap bujuk rayu narkotika.
Jika tidak diantisipasi, dampaknya bukan hanya pada kesehatan individu, tetapi juga stabilitas sosial dan produktivitas daerah.
Karena itu, ia menekankan pentingnya penguatan deteksi dini di tingkat desa. Peran kepala desa, perangkat, hingga tokoh masyarakat dinilai strategis dalam membangun ketahanan keluarga dan menyediakan ruang aktivitas positif bagi anak muda. Pencegahan, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan peningkatan literasi digital masyarakat.

“Banyak kasus bermula dari interaksi di dunia maya yang tidak terkontrol. Edukasi kepada orang tua dan generasi muda menjadi kunci agar mereka tidak terjebak dalam jaringan yang tersembunyi,” jelasnya.

Melalui forum ini, peserta diharapkan tidak berhenti pada tataran seremonial. Pemerintah daerah mendorong lahirnya agen-agen perubahan di desa yang mampu menyebarkan edukasi, membangun jejaring kewaspadaan, serta berani melapor jika menemukan indikasi penyalahgunaan.

“Generasi sehat tanpa narkoba bukan sekadar slogan. Ini komitmen bersama yang harus diwujudkan dengan langkah nyata,” pungkasnya.

Dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis desa, Pemerintah Kabupaten Tulungagung menegaskan bahwa perang melawan narkoba harus dimulai dari lingkungan terdekat. Sebab di sanalah masa depan generasi bangsa dipertaruhkan.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses