Jakarta, medianasional.id – Di banyak tambak udang vaname, anco, nampan kecil yang diturunkan ke dasar kolam, diperlakukan sekadar formalitas. Diangkat sekilas, dilirik sebentar, lalu pakan ditebar mengikuti kebiasaan. Padahal anco adalah satu-satunya alat yang menunjukkan secara langsung apakah udang sedang lahap, sudah kenyang, atau justru sedang tidak enak badan.
Membacanya dengan benar bisa menjadi pembeda antara tambak yang untung dan tambak yang diam-diam merugi karena pakannya terbuang sia-sia.
Persoalan ini bukan hal sepele, sebab pakan adalah komponen biaya terbesar dalam budidaya vaname, biasanya menyentuh 50 hingga 60 persen dari total ongkos produksi. Maka setiap genggam pelet yang ditebar tanpa termakan bukan sekadar limbah, melainkan margin keuntungan yang larut ke dalam air. Di sinilah disiplin membaca anco menjadi keterampilan yang nilainya nyata.
Langkah awalnya terletak pada penempatan. Anco sebaiknya dipasang di beberapa titik, menjauhi sudut mati dan area dekat kincir yang arusnya kencang karena arus deras akan menyapu pakan keluar nampan dan menipu pembacaan. Isi anco dengan porsi sesuai patokan, umumnya satu hingga dua persen dari jumlah pakan per titik, lalu turunkan bersamaan dengan waktu tebar. Yang menentukan bukan kapan Anda menebar, melainkan kapan Anda mengangkatnya kembali.
Waktu kontrol pun bergeser seiring umur udang: pada bulan pertama anco biasanya dicek sekitar dua hingga dua setengah jam setelah pakan, sementara menjelang udang besar waktu kontrol memendek menjadi satu hingga satu setengah jam karena laju makan meningkat. Konsistensi jam pengecekan inilah yang membuat datanya bisa dibandingkan dari hari ke hari.
Setelah diangkat, ada tiga kondisi yang perlu dikenali. Anco yang bersih total jauh sebelum waktu kontrol menandakan pakan kurang, sehingga ransum berikutnya bisa dinaikkan. Anco yang masih menyisakan pakan utuh menunjukkan pemberian berlebih atau adanya masalah lain seperti kualitas air yang menurun. Sedangkan anco yang bersih tepat di waktu kontrol adalah kondisi ideal, porsi pas, tidak ada yang terbuang.
Pembacaan ini sebaiknya dilengkapi dengan mengamati isi usus udang: saluran pencernaan yang penuh dan berwarna gelap menandakan nafsu makan baik, sedangkan usus yang kosong atau putus-putus adalah sinyal dini bahwa ada yang tidak beres, jauh sebelum gejalanya tampak di permukaan kolam.
Yang sering dilupakan adalah bahwa nafsu makan vaname tidak pernah konstan. Banyak pembudidaya menaikkan ransum secara linear mengikuti tabel tanpa melihat kondisi nyata di lapangan. Padahal saat molting atau ganti kulit, udang berhenti makan sementara; bila pakan tetap ditebar penuh, semuanya akan tersisa di anco dan mencemari dasar kolam. Cuaca mendung berkepanjangan, hujan deras yang menurunkan salinitas, atau oksigen terlarut yang anjlok di dini hari juga menekan selera makan. Pembudidaya yang jeli akan menurunkanransum lebih dulu begitu membaca tanda-tanda ini, bukan menunggu sampai pakan menumpuk dan air keburu rusak.
Agar pembacaan anco tetap dapat dipercaya, beberapa kekeliruan umum perlu dihindari. Memasang hanya satu anco untuk kolam luas membuat satu titik tidak mewakili keseluruhan, sebab sebaran pakan dan arus tidak pernah merata. Menempatkan anco terlalu dekat kincir membuatnya selalu terlihat bersih meski pakan sebenarnya tersapu keluar. Jam kontrol yang berubah-ubah membuat data tidak bisa dibandingkan. Dan mengabaikan kondisi usus membuat kesimpulan “anco kosong berarti sehat” menjadi menyesatkan.
Mencatat setiap hasil anco dalam satu tabel sederhana, jam tebar, jam kontrol, kondisi nampan, dan tindakan yang diambil, akan memunculkan pola dalam beberapa hari: kapan nafsu makan memuncak, kapan menurun, dan bagaimana cuaca memengaruhinya.
Pola pemberian pakan sepanjang hari pun perlu mengikuti ritme nafsu makan udang, yang umumnya lebih tinggi pada waktu-waktu tertentu dan menurun saat oksigen rendah di dini hari.
Menyebar pemberian ke dalam beberapa kali sehari dengan porsi yang disesuaikan hasil anco jauh lebih efektif daripada memberi pakan dalam jumlah besar sekaligus, yang hanya akan menyisakan tumpukan di dasar kolam. Pendekatan responsif seperti inilah yang membedakan tambak yang sekadar memberi makan dari tambak yang benar-benar mengelola pakan.
Membaca anco akan jauh lebih akurat jika pakannya stabil di air. Pelet yang cepat hancur atau berdebu menyebarkan partikel halus yang menipu, anco terlihat bersih padahal pakan larut sia- sia sebelum sempat dimakan. Daya pikat yang tinggi juga membuat udang segera menyambar, sehingga sisa di anco benar-benar mencerminkan tingkat kekenyangan, bukan keengganan terhadap pakan. Lini pakan udang vaname dari STP Aquaculture dirancang mengikuti setiap fase budidaya, mulai dari STP PV untuk fase awal, STP SGH dan STP SGH MAX di fase grow- out dengan daya pikat serta dukungan imunitas yang tinggi, hingga STP TOV menjelang panen.
Jika angka FCR tambak masih sulit ditekan meski anco rutin dikontrol, ada baiknya mendiskusikan pola pakan dan pilihan produk bersama tim teknis STP, terkadang penyesuaian kecil pada jenis pakan dan jadwal kontrol sudah cukup untuk mengembalikan efisiensi yang selama ini bocor tanpa disadari.




