YOGYAKARTA, medianasional.id – Dunia seni dan budaya Yogyakarta kembali berduka. Seniman senior, aktor teater, pelawak sekaligus budayawan Susilo Nugroho, yang dikenal luas melalui karakter Den Baguse Ngarso atau akrab disapa Pakde Sus, meninggal dunia pada Senin (21/9/2026).
Susilo Nugroho berpulang dalam usia 67 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan sesama seniman, serta masyarakat yang selama ini mengikuti kiprahnya di dunia seni pertunjukan.
Almarhum lahir di Yogyakarta, 5 Januari 1959. Perjalanan di dunia seni peran telah dimulainya sejak duduk di bangku SLTA pada 1977.
Enam tahun kemudian, tepatnya pada 1983, Susilo Nugroho bersama Heru Kesawa Murti, Jujuk Prabowo, Sepnu Heryanto, dan Saptaria Handayaningsih mendirikan Teater Gandrik. Kelompok teater tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan seni pertunjukan di Yogyakarta dan Indonesia.
Nama Susilo Nugroho semakin dikenal masyarakat melalui perannya sebagai Den Baguse Ngarso dalam serial sitkom Mbangun Deso yang ditayangkan TVRI Yogyakarta pada 1988 hingga 2008.
Karakter Den Baguse Ngarso digambarkan sebagai sosok priyayi yang sombong, suka berkomentar, merasa paling tahu, dan cenderung ingin menang sendiri. Melalui karakter tersebut, Susilo mampu menyampaikan kritik sosial dengan balutan humor yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Selain aktif di dunia teater dan televisi, Susilo Nugroho juga berkarya dalam ketoprak dan dagelan serta terlibat dalam sejumlah produksi film, di antaranya Preman in Love (2009), Ayat-Ayat Adinda (2015), dan Ipar adalah Maut (2024).
Di luar dunia seni, Susilo juga pernah menjalani profesi sebagai guru ekonomi. Ia mengabdikan diri sebagai pendidik hingga memasuki masa pensiun pada 2019. Sekolah terakhir tempatnya mengajar adalah SMKN 1 Bantul.
Meski menjalani profesi sebagai pendidik, aktivitas berkesenian tetap menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Kepergian Susilo Nugroho juga mendapat perhatian dari kalangan seniman Yogyakarta. Seniman Bambang Paningron mengenang almarhum sebagai sosok yang tidak hanya piawai menghibur, tetapi juga menggunakan panggung sebagai ruang untuk menyampaikan kritik dan pembelajaran kehidupan.
“Jogja kehilangan salah satu penjaga akal sehatnya. Mas Susilo bukan sekadar pelawak. Dia adalah guru yang memilih panggung sebagai ruang kelasnya,” ujar Bambang Paningron.
Jenazah Susilo Nugroho sebelumnya berada di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta sebelum kemudian dipulangkan ke kediamannya di kawasan Mantrijeron, Yogyakarta.
Kepergian Pakde Sus meninggalkan warisan panjang dalam perjalanan seni dan budaya Yogyakarta. Kiprahnya bersama Teater Gandrik, ketoprak, dagelan, televisi, film, hingga dunia pendidikan menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang seniman yang selama puluhan tahun hadir di tengah masyarakat.Selamat jalan, Pakde Sus.Susilo Nugroho (Den Baguse Ngarso) Seniman dan Budayawan Yogyakarta, (red).






