
Madiun, medianasional.id – Desa Bodag, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur merupakan salah satu sentra pengembangan tanaman kakao (Theobroma cacao L.) yang menjadi komoditas unggulan dan sumber pendapatan utama masyarakat, khususnya anggota Kelompok Tani Murah Sandang di Dusun Glagah Ombo. Potensi agroklimat wilayah yang berada di lereng Gunung Wilis sangat mendukung pertumbuhan tanaman kakao, namun produktivitas yang dicapai petani masih tergolong rendah dibandingkan potensi hasil yang dapat dicapai.
Rendahnya produktivitas tersebut dipengaruhi oleh menurunnya kesuburan tanah, rendahnya kandungan bahan organik, sistem pemupukan yang belum efisien, serta terbatasnya penerapan teknologi budidaya yang mampu meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara. (Adet et al., 2024).
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap rendahnya produksi biji kakao, sehingga pendapatan dan kesejahteraan anggota kelompok tani belum mengalami peningkatan yang signifikan (Nur et al., 2023)

Sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut, Tim Program Pemberdayaan Masyarakat Universitas Merdeka Madiun (PM-UPUD) Tahun 2026 melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui penerapan teknologi biopori sebagai model pemeliharaan dan pemupukan tanaman kakao. Kegiatan ini didanai oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Program dirancang berbasis partisipatif dengan melibatkan seluruh anggota Kelompok Tani Murah Sandang sejak tahap identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, pendampingan, hingga evaluasi keberlanjutan program. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola kebun kakao secara mandiri, adaptif, dan berkelanjutan.

Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan produktivitas tanaman kakao melalui penerapan teknik biopori sebagai sistem pemeliharaan dan pemupukan yang lebih efektif dan ramah lingkungan.
Secara khusus program ini bertujuan untuk: (1) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani mengenai teknologi biopori; (2) memperbaiki kondisi fisik, kimia, dan biologi tanah melalui peningkatan kandungan bahan organik; (3) meningkatkan efisiensi pemanfaatan pupuk organik dan pupuk anorganik secara berimbang; (4) meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan produktivitas tanaman kakao; (5) mengurangi kehilangan unsur hara akibat aliran permukaan; serta (6) meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan anggota kelompok tani melalui peningkatan hasil panen dan efisiensi biaya pemeliharaan.
Teknologi biopori merupakan teknik konservasi tanah dan air yang memanfaatkan lubang silindris vertikal berdiameter sekitar 10–15 cm dengan kedalaman 40-60 cm yang dibuat menggunakan bor tanah, kemudian dilengkapi dengan pipa paralon (PVC) berlubang sebagai pelindung dinding lubang. Lubang tersebut diisi dengan bahan organik yang secara bertahap mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme tanah, cacing, rayap, dan fauna tanah lainnya. (Wendel et al., 2022)
Selama proses tersebut terjadi mineralisasi bahan organik yang menghasilkan unsur hara makro dan mikro yang tersedia bagi tanaman, meningkatkan aktivitas mikroba menguntungkan, memperbaiki struktur tanah, meningkatkan porositas dan kapasitas infiltrasi air, serta memperbesar perkembangan akar tanaman.
Dengan demikian, teknologi biopori tidak hanya berfungsi sebagai media pemupukan, tetapi juga sebagai sistem konservasi air dan rehabilitasi kesuburan tanah secara berkelanjutan (Yang et al., 2023) (Zhang et al., 2023).
Pelaksanaan kegiatan menggunakan pupuk organik hasil fermentasi yang diproduksi secara mandiri oleh Kelompok Tani Murah Sandang dengan memanfaatkan limbah pertanian dan peternakan setempat, kemudian dikombinasikan dengan pupuk NPK seimbang sesuai kebutuhan tanaman kakao.
Peralatan utama yang digunakan meliputi bor tanah untuk pembuatan lubang biopori dan pipa paralon berlubang sebagai media penyangga lubang (Koch et al., 2021) Pupuk organik dimasukkan ke dalam lubang biopori secara bertahap sehingga proses dekomposisi berlangsung secara kontinu, sedangkan pupuk NPK diberikan dalam dosis berimbang di sekitar zona perakaran agar penyerapan unsur hara menjadi lebih optimal. Kombinasi kedua jenis pupuk tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk sekaligus memperbaiki kualitas tanah dalam jangka panjang(Wang et al., 2024).
Melalui penerapan model pemupukan berbasis biopori diharapkan terjadi peningkatan pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman kakao, yang ditunjukkan oleh meningkatnya jumlah tunas produktif, luas tajuk, jumlah bunga yang berkembang menjadi buah, bobot biji, serta kualitas hasil panen.
Selain itu, teknologi ini mampu meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air selama musim kemarau, mengurangi erosi pada lahan miring, serta menjaga ketersediaan unsur hara di daerah perakaran tanaman. Kondisi tersebut akan menghasilkan sistem budidaya kakao yang lebih efisien, produktif, adaptif terhadap perubahan iklim, dan berkelanjutan.
Luaran kegiatan ini meliputi terbentuknya demplot teknologi biologi pada kebun tanaman kakao, meningkatnya pengetahuan dan keterampilan anggota Kelompok Tani Murah Sandang dalam penerapan pemupukan berkelanjutan, tersusunnya panduan teknis penggunaan biopori, penguatan kerja sama antara Universitas Merdeka Madiun dengan pemerintah desa serta kelompok tani. Model pemberdayaan ini diharapkan dapat direplikasi pada sentra-sentra kakao lainnya sebagai alternatif teknologi budidaya yang ramah lingkungan (PRAHARAJ et al., 2025)
Penerapan teknologi biopori diharapkan mampu meningkatkan produktivitas tanaman kakao melalui perbaikan kesuburan tanah, efisiensi pemupukan, dan peningkatan ketersediaan air di daerah perakaran.
Dampak akhirnya adalah peningkatan level mitra baik aspek manajemen maupun aspek produksi yakni meningkatnya produksi dan kualitas hasil kakao, bertambahnya pendapatan petani, serta meningkatnya kesejahteraan anggota Kelompok Tani Murah Sandang.
Selain memberikan manfaat ekonomi, program ini juga mendorong penerapan budidaya kakao yang lebih berkelanjutan dan memperkuat peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat melalui inovasi teknologi tepat guna.




