Tak Ada Kepastian Izin Penambangan Rakyat (IPR), Ratusan Penambang Pasir Progo Geruduk Kantor Kepatihan Yogyakarta

DI.Yogyakarta193 Dilihat

Yogyakarta, medianasional.id – Ratusan Penambang Pasir Progo yang tergabung dalam P3S (Perkumpulan Penambang Progo Sejahtera) menggelar aksi damai di Kantor Kepatihan Yogyakarta, Selasa (25/6/2025).

Aksi masa yang di ikuti dari berbagai kelompok penambang pasir progo, yang berada di Kabupaten Bantul, dan Kulonprogo yang total ada sekitar 28 kelompok, sedangkan jumlah di setiap kelompok bervariasi, ada yang 30 anggota dan bahkan ada yang mencapai 70an anggota dalam satu kelompok.

Agung Mulyono selaku ketua Perkumpulan Penambang Progo Sejahtera (P3S) menyampaikan, beberapa tuntutan kepada pemerintah Yogyakarta.

Beberapa tuntutan kami yaitu, permudah proses pengurusan izin, percepatan proses Izin, diizinkan kembali menggunakan pompa mekanik.

“Saat ini sudah zaman modern tentunya dengan menggunakan alat pompa mekanik adalah suatu proses kemajuan, masa sudah zaman modern menggunakan pompa mekanik di larang, dan harus masih menggunakan alat senggrong, sekop, dan cangkul, seperti zaman kuno,” ungkapnya.

Meski kita menggelar aksi masa tapi kita tetap taat peraturan, buktinya kemarin sudah di rencanakan menggunakan dump truk, namun atas saran dari kepolisian akhirnya kita menurut dan menggunakan armada dari kepolisian dan pemerintah daerah.

Dan aksi damai yang kita gelar InsyaAllah semua akan berjalan dengan lancar dan damai, pungkasnya,

Perwakilan massa diterima oleh Penjabat Sekda DIY, Aria Nugrahadi, serta Asisten Sekda DIY Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Tri Saktiyana, kepala ESDM, Inspektorat, PUPR dan BBWSO, di Gandok kiwo.

Aria menyatakan bahwa pihak terkait akan meninjau langsung lokasi penambangan, “kami menanggapi sesuai dengan kewenangan. Salah satu keputusannya, besok pagi semua yang mempunyai kewenangan terkait hal itu akan melakukan kunjungan ke lokasi,” kata Aria.

“Kita tunggu besok katanya akan ada peninjauan lokasi oleh dinas terkait, dan kita tunggu hasilnya seperti apa. Meski sebetulnya aksi masa ini sudah kita hindari, tapi menunggu jawaban dari dinas yang tak kunjung ada kepastian, maka dengan terpaksa aksi kita lakukan dan bahkan Jika diperlukan lagi akan kami gelar aksi masa yang lebih besar lagi,” tegas Umar selaku koordinator.

Meski menggelar aksi masa tapi kami juga mengikut sertakan dengan membawa kesenian tradisional, yaitu reog.

Hal tersebut sebagai bukti nyata dengan adanya penambangan juga bisa ikut serta melestarikan kesenian reog, serta menunjukkan bahwa Yogyakarta itu memang Istimewa, tambahnya.

Aksi berakhir sekitar pukul 12.22 WIB. Massa kemudian membubarkan diri dan kembali menaiki armada masing-masing.

(Widayat)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses