
Malang, redaksimedinas.com – Pasar dan pabrik rokok saja tidak cukup jadi arena kampanye bagi tiga pasangan calon (Paslon) Wali Kota-Wakil Wali Kota Malang yang akan bertarung dalam Pilkada 2018.
Pilkada Kota Malang diikuti tiga paslon: Yaqud Ananda Gudban – Ahmad Wanedi, M Anton – Syamsul Mahmud, dan Sutiaji – Sofyan Edi Jarwoko.
Keberadaan media sosial juga dimanfaatkan ‘habis-habisan’ oleh tiga pasangan calon itu.
redaksimedinas.com memantau akun media sosial milik tiga calon wali kota yakni Yaqud Ananda Gudban, M Anton, dan Sutiaji. Akun ketiga calon wali kota ini sangat aktif, dan setiap hari berganti gambar dan informasi kegiatan. Seperti terlihat di akun instagram ketiganya.
Akun instragram ketiganya terbilang aktif. Setiap hari selalu ada unggahan foto atau video. Foto itu antara lain kegiatan kampanye, juga foto poster, juga unggahan komikal calon wali kota.
Lalu bagaimana gaya komunikasi dan kampanye mereka di media sosial menurut pakar komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sugeng Winarno.
Dalam diskusi yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Malang, Kamis (23/2/2018) malam di Warung MUG Kota Malang, Sugeng menyentil kalau gaya kampanye Paslon di Medsos masih menunjukkan permukaan dan sekadar pencitraan saja.
“Kampanye Paslon di Medsos, yang saya amati, masih bersifat ‘lip’ saja, tidak ada yang menyentuh esensi. Baik senyum, dan gesture yang mereka tampilkan hanya sekadar pencitraan saja. Ini tidak aneh pula karena Medsos saat ini masih menjadi wadah politik citra diri,” tegas Sugeng yang kemudian berbincang dengan redaksimedinas, Sabtu (25/2/2018).
Sugeng mengamati Medsos para calon meskipun secara acak. Ia melihat Medsos belum dipakai sebagai wahana partisipatif antara calon dengan pemilih.
Sugeng melihat para follower di Medsos para calon sekadar penonton, atau pihak pasif. “Tidak ada interaksi dan komunikasi yang partisipatif antara calon dan pemilih atau follower di Medsos itu,” imbuhnya.
Ia meyakini apa yang ditampilkan oleh gambar dan video di Medsos itu karena desain konsultan politik, atau minimal tim sukses. Ia melihat bagaimana sebuah gaya komunikasi atau gesture para calon terlihat dan tampil di foto yang diunggah di Medsos.
“Saya yakin by-design, atas saran dan keinginan konsultan,” tegasnya.
Ia membandingkan ketika Barrack Obama memanfaatkan Medsos dalam Pemilihan Presiden AS dan dirinya bisa menang. Pemilih atau netizen di AS terlibat secara aktif di akun Medsos Obama.
“Contoh bagaimana penggalangan dana kampanye dari para pemilih dilakukan melalui media sosial. Sangat partisipatif dan interaktif meskipun lewat Medsos,” ujarnya membandingkan.
Jika ingin ada interaksi, Ketua Umum Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi Jatim ini menyarankan konsultan atau tim sukses Paslon membuat konsep kampanye strategis kemudian diunggah di Medsos.
Ia mencontohkan penyajian data, yang kemudian diikuti dengan solusi.
“Data-data, apapun bisa disajikan sehingga bisa menimbulkan interaksi dengan warga di media sosial,” tegasnya. (nrt)






