Banyumas, medianasional.id – Proses Penjaringan dan Penyaringan Perangkat Desa (P3D) di Banyumas Raya kini menjadi bahan perbincangan hangat. Kritik tajam datang dari jurnalis di Banyumas Raya, Sigit Purnomo, yang menilai mekanisme seleksi perangkat desa bukan hanya boros anggaran, tetapi juga gagal mempersiapkan aparatur desa menghadapi realitas pelayanan publik.
Anggaran yang Membengkak
Dalam setiap proses P3D, desa harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Sigit menyoroti fakta bahwa dana dari Pendapatan Asli Desa (PADes) bisa mencapai puluhan juta rupiah hanya untuk merekrut satu perangkat. Angka ini dianggap tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
“Puluhan juta rupiah untuk satu orang perangkat jelas berlebihan. Dana desa seharusnya bisa dialokasikan untuk pembangunan yang lebih menyentuh masyarakat,” ujar Kepala Biro patroli88investigasi.com Banyumas Raya tersebut.
Kekosongan Pembinaan
Lebih dari sekadar anggaran, Sigit menekankan lemahnya tindak lanjut setelah pelantikan. Banyak perangkat desa langsung bekerja tanpa melalui Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau bimbingan teknis. Padahal, jabatan perangkat desa menuntut kemampuan khusus dalam mengelola administrasi, pelayanan publik, hingga komunikasi dengan masyarakat.
“Perangkat desa bukan sekadar pemegang gelar akademis. Mereka adalah pelayan masyarakat. Tanpa pembekalan, fungsi pelayanan pemerintah di tingkat desa tidak akan optimal,” tegasnya.
Ujung Tombak yang Tumpul
Perangkat desa sejatinya adalah ujung tombak pemerintah pusat di tingkat paling bawah. Namun, tanpa pembekalan yang memadai, banyak aparatur desa gagap menghadapi kompleksitas tugas. Kondisi ini berpotensi melemahkan fungsi pelayanan publik yang mestinya menjadi prioritas.
Evaluasi untuk Pemerintah Daerah
Sorotan ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan desa agar lebih bijak dalam mengelola anggaran serta serius dalam mematangkan kompetensi perangkat desa. Efisiensi anggaran dan pembekalan strategis bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan mendesak demi kemajuan Banyumas.






