Ponorogo, medianasional.id – Anomali iklim global memicu perpanjangan durasi musim kemarau dan peningkatan intensitas suhu ekstrem. Fenomena ini berdampak langsung pada meluasnya degradasi lahan pertanian akibat kekeringan struktural. Ironisnya, kendala utama di lapangan bukanlah kelangkaan sumber air tanah, melainkan adanya keterbatasan akses energi (energy deadlock) untuk mengoptimalkan sumur bor. Banyak kawasan agraris produktif belum terjangkau oleh jaringan listrik nasional (off-grid). Akibatnya, petani terjebak pada penggunaan pompa bermesin diesel yang memicu pembengkakan biaya operasional akibat fluktuasi harga bahan bakar fosil.
Sebagai solusi berbasis sirkular ekonomi dan energi terbarukan, pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) portabel hadir menjadi pendorong mekanisasi pompa air yang efisien. Melalui konversi energi fotovoltaik, teknologi ini mampu memangkas biaya pembelian bahan bakar minyak (BBM) secara signifikan. Efektivitas transisi teknologi ini terekam dalam program pengabdian masyarakat Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor) tahun 2026 yang didanai oleh Kemendiktisaintek. Observasi lapangan membuktikan bahwa penerapan teknologi tepat guna ini berhasil melepaskan petani dari ketergantungan energi konvensional sekaligus menjaga stabilitas produktivitas komoditas pangan.
Meski demikian, ekstraksi air yang melimpah di tengah cuaca ekstrem berisiko memicu tingginya laju evaporasi jika menggunakan metode konvensional. Oleh karena itu, integrasi dengan sistem irigasi tetes (drip irrigation) menjadi langkah mitigasi yang krusial. Sistem ini menyalurkan air secara presisi melalui jaringan pipa mikro langsung ke zona perakaran tanaman (root zone), sehingga mereduksi kehilangan air akibat penguapan. Berdasarkan data teknis, metode irigasi tetes menghemat air hingga 45% dibanding metode kocor, sementara sistem PLTS mampu mereduksi pengeluaran biaya energi operasional sebesar 35%.
Sinergitas kedua teknologi ini memberikan keuntungan ganda: efisiensi konsumsi air bersih meningkat hingga 50% dan efisiensi biaya produksi terjaga.
Lebih jauh lagi, sistem ini adaptif terhadap teknik fertigasi pemberian nutrisi tanaman berupa pupuk cair secara otomatis melalui aliran irigasi. Menghadapi eskalasi krisis iklim, kolaborasi akademisi, pemerintah, dan sektor pertanian dalam menerapkan duet teknologi PLTS dan irigasi tetes bukan lagi sekadar alternatif, melainkan strategi mutlak demi mewujudkan kemandirian pangan yang berkelanjutan dan sejahtera.




