Kulon Progo, -medianasional.id-
Suasana yang tidak biasa tampak di SMP Negeri 5 Wates dan SMP Negeri 3 Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Kamis (25/6/2026). Tidak terlihat antrean orang tua maupun calon peserta didik yang berdesakan di halaman sekolah. Ruang-ruang pelayanan yang biasanya sibuk saat masa penerimaan peserta didik baru justru tampak lengang.
Namun, ketenangan itu bukan pertanda layanan berhenti. Sebaliknya, seluruh proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 jenjang SMP di Kabupaten Kulon Progo sedang berjalan sebagaimana mestinya melalui sistem yang sepenuhnya daring.
Pemandangan tersebut menjadi gambaran nyata keberhasilan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Kulon Progo dalam mengimplementasikan SPMB 2026 berbasis digital secara penuh. Masyarakat tidak lagi harus datang ke sekolah untuk mengurus pendaftaran. Seluruh tahapan dapat dilakukan dari rumah, mulai dari verifikasi dokumen hingga pemilihan sekolah tujuan.
Di SMP Negeri 5 Wates, panitia SPMB, Suyatmi, mengaku merasakan langsung kemudahan yang dihadirkan sistem full daring tersebut. Menurutnya, proses pendaftaran menjadi lebih efektif dan efisien karena sebagian besar masyarakat dapat mengakses layanan secara mandiri.
Meski demikian, sekolah tetap mengantisipasi berbagai kemungkinan kendala yang dihadapi masyarakat. SMP Negeri 5 Wates mengaktifkan posko layanan SPMB yang siap membantu kapan saja apabila ada calon peserta didik atau wali murid yang mengalami kesulitan.
“Posko tetap kami siagakan. Masyarakat bisa menghubungi melalui WhatsApp atau datang langsung ke sekolah jika membutuhkan bantuan,” jelas Suyatmi.
Untuk mendukung layanan tersebut, sekolah menyiapkan perangkat komputer yang dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan teknis yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, tidak ada calon peserta didik yang tertinggal hanya karena keterbatasan kemampuan memanfaatkan teknologi.
Praktik baik lain terlihat di SMP Negeri 3 Pengasih. Panitia SPMB, Tri Mulyono, menjelaskan bahwa pelaksanaan pendaftaran secara daring relatif berjalan lancar karena adanya kolaborasi yang kuat antara SMP dan sekolah dasar.
Menurutnya, jauh sebelum masa pendaftaran dibuka, sekolah telah berkoordinasi dengan para operator sekolah dasar. Para operator membantu orang tua dan siswa memahami tahapan SPMB, termasuk proses pembuatan dan pengelolaan akun yang menjadi pintu masuk layanan daring.
“Operator sekolah dasar sangat membantu, terutama bagi wali murid yang belum terbiasa menggunakan perangkat digital dan teknologi informasi,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut menjadi faktor penting dalam menyukseskan transformasi layanan SPMB di Kulon Progo. Melalui pendampingan sejak awal, masyarakat dapat memahami mekanisme yang harus dijalani sehingga ketika masa pendaftaran berlangsung, mereka tinggal menentukan pilihan sekolah tujuan secara daring.
Tri Mulyono menambahkan bahwa proses verifikasi dokumen juga telah dilakukan secara online sebelum tahap pendaftaran dimulai. Karena seluruh berkas telah diverifikasi lebih awal, proses pendaftaran menjadi lebih sederhana dan tidak menimbulkan antrean pelayanan di sekolah.
Keberhasilan sistem full daring di Kulon Progo semakin terasa ketika dibandingkan dengan kondisi di daerah lain. Pada pemantauan yang dilakukan BPMP DIY di Kabupaten. Sleman, Selasa (22/6/2026), suasana berbeda terlihat di SMP Negeri 1 Gamping dan SMP Negeri 4 Gamping. Posko-posko SPMB di kedua sekolah tersebut dipadati masyarakat yang membutuhkan layanan dan pendampingan selama proses pendaftaran berlangsung.
Perbedaan suasana tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi layanan yang dirancang secara matang dapat mengurangi beban pelayanan tatap muka di sekolah. Masyarakat memperoleh kemudahan akses, sementara sekolah dapat lebih fokus pada fungsi pendampingan bagi warga yang benar-benar membutuhkan bantuan.
Praktik baik yang dikembangkan Dinas Dikpora Kabupaten Kulon Progo membuktikan bahwa transformasi digital dalam layanan publik pendidikan bukan sekadar memindahkan proses dari kertas ke layar komputer. Keberhasilan tersebut lahir dari perpaduan antara sistem yang terencana, dukungan teknologi, kesiapan sumber daya manusia, serta kolaborasi antarsatuan pendidikan.
Hasilnya bukan hanya sekolah yang lebih tenang saat masa penerimaan murid baru, tetapi juga layanan yang lebih mudah, cepat, dan ramah bagi masyarakat. Di tengah
upaya mewujudkan pelayanan pendidikan yang semakin modern dan akuntabel, Kulon Progo menunjukkan bahwa SPMB full daring dapat berjalan efektif tanpa meninggalkan siapa pun.
(Wid).





