Harnovi : ” Keberadaan Sfesialis Radiologi Tidak Ada di RSUD Ini “

Mukomuko, www.redaksimedinas.com – Beberapa masyarakat setempat, menilai pelayanan yang diberikan oleh tenaga medis pada Rumah Sakit Daerah (RSUD) kabupaten Mukomuko. Diduga terkesan lamban, serta seakan-akan dicurigai agak “Cuek”.
Secara kebetulan awak media www.redaksimedinas.com ini, secara tidak langsung melihat kejadian tersebut. Tentang perlakuan tenaga medis di RSUD itu. Selapas magrib Kamis (01/03), yang secara sengaja menjenguk Warso (67) merupakan korban kecelakaan. Yang menimpanya, sekitar pukul 16:45 waktu setempat. Tepatnya di Kamis malam, tentunya bebeda waktu. Warso ditenggarai, harus mendapatkan penanganan secara intensif. Karena mengalami benturan keras pada bagian kepalanya. Sehingga mengeluarkan darah terus-menerus, dari mulut serta hidugnya. Yang akhirnya, diberangkatkan menuju salah satu RS, yang memilki nama di Kota Padang. Yang diberangkatkan sekira pukul 23:10 wib.
Dikatakan minimnya pelayanan, dibantah oleh Direktur RSUD setempat dr, Tugur Ajastiko. Melalui Kepala Bidang (Kabid) pelayanan medik, Harnovi,SKM.MAP. Dikatakan Novi, perihal tersebut bukan masalah lamban dan cueknya. Melainkan, ada sesutu pesolan yang mestinya di ingat, serta dipahami. Menurut Novi, seyogianya, pasien akibat dari kecalakaan dan mengalami pendarahan hebat, minimal ditunggu reaksinya sampai 6 jam. Selepas yang bersangkutan, medapatkan perawatan secara manual.
” Barulah bisa seseoran itu, di observasi. Atau segera dilakukan rujukan. Karen kita juga, mendianosa kemampuan dan reaksi fisik korban. Sehingga tidak terjadi, sesuatu hal yang tidak kita nginkan. “katanya.
Diakuinya, disamping tidak adannya dokter sepsialis membidangi Radiologi, serta perlatan CT-SCAN (Scan Kepala), tersebut-pun tidak terdapat di RUD tersebut. Diungkapkannya, untuk lebih dtailnya, peralatan tersebut. Agar dapat melihat lapis, demi berlapis, kondisi dalam tengkorak kepala korban. Sedangkan, sudah semestinya RSUD yang dikatogorikan dan telah pula mengantongi sertifikat tipe C, memiliki peralatan medis jenis CT-SCAN.
” Sebenarnya, bukan masalah cuek, para medis dalam melakukan tugasnya. Karena seseorang yang mengalami kecelakan itu, setelah mendapatkan pertolongan pertama, secara medis. Belum boleh dilakukan rujuk, sesegera mungkin. Kerena akan berakibat fatal bagi drinya, kalau secepanya dirujuk. Serta dilihat kondisi fisikny, minimal dalam tenggang waktu 6 jam, baru bisa diobserfasi. Tentunya pihak kita juga akan, memastikan terlebih dulu, menyangkut kesiapan petugas yang ada di RS dituju. Supaya pasien berangkutan, tidak balik arah. (Balik Kebelakang, red). Kamipun tak mau pasien dari RSUD ini, terkatung-katung, dalam proses mendapatkan, perawatan secara maksimal.” papar Novi.
Lebih jauh Novi mengungkapkan, pihaknya pernah mengusulkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), untuk pengadaan TC-SCAN. Akan tetapi semua itu, ternyata belum terkabulkan. Oleh sebab itu juga, RSUD setempat, belum dinyatakan lulus dalam verifikasi faktual. Untuk naik greet, pada level selanjutnya diatas tipe C. Mengenai persoalan itu, kata Novi, telah pula disampaikanya ke pihak kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat. Bahkan, katanya lagi, telah sampai ke UNAIR upaya yang ditempuh pihaknya, yakni semacam MOU. Akan tetap saja, hingga sekarang belum juga membuahkan hasil yang manis.
” Sampai sekarang kedalanya, belum adanya dokter sfesialis Radiologi, yang menyatakan kesiapanya, untuk ditempatkan di RSUD ini. Suka tidak suka, setiap pasien yang mengalami benturan hebat pada kepalanya, serta mengalami pendarahan. Terpaksa dirujuk. Rujukan itu juga, tergantung kepada keluarga pasien. Sementa kami harus memastikan, kebrada dokter sfesialis di RS yang dituju. Agar pasien bersangkutan, benar-benar mendapatkan perwatan secara intensif.” Ungkap, Harnovi (02/03) memaparkan, kenyataan yang dialami, pihaknya.(Aris)


