Pentas Seni Budaya Ketoprak Peringati Hari Jadi ke – 131 Tahun Desa Demuk Tulungagung

Tulungagung944 Dilihat

Tulungagung, Medianasional.id – Dalam rangka memperingatan hari jadi Desa Demuk Kecamatan Pucanglaban Tulungagung yang ke – 131 dilaksanakan pentas seni ketoprak dengan lakon babat desa Demuk di lapangan Purbo Koesuma, tepatnya di depan kantor desa Demuk. Sabtu (28/09).

Kegiatan hari jadi Desa Demuk yang ke 131 tahun dilaksanakan bekerja sama dengan para budayawan perwakilan dari Baranusa (Barisan Adat Raja Sultan Nusantara), pertunjukan seni ketoprak yang di dalamnya menampilkan tema atau lakon babat Desa Demuk yang mana mendeskripsikan perjuangan RM Doro Jayeng Kusumo, dalam rangka membangun sebuah peradaban di hutan belantara di kabupaten Ngrowo paling selatan yang akhirnya menjadi sebuah desa yang makmur, terdiri dari berbagai dusun.

Dalam pertunjukan seni budaya ketoprak tersebut yang dimainkan oleh para pejabat desa dan kecamatan, antara lain Camat Pucanglaban Yudi Irwanto, Kades Demuk Suwari, serta unsur pejabat lainnya di lingkungan desa. Mereka berimprovisasi penuh, layaknya seorang pemain profesional dengan dandanan sesuai peran masing masing.

Camat Yudi irwantoro berperan sebagai tuan (ndoro), goverment seorang belanda yang bertugas di wilayah Kediri raya, kemudian Kades Suwari memerankan adipati Bonorowo yang tak lain adalah ayahanda Ndoro Jayeng Kusumo.
Ketoprak yang berdurasi sekitar tiga jam ini membuat para penonton tercengang dengan aksi panggung yang diperankan oleh para pejabat desa dan kecamatan itu.

Terlihat para penonton tidak beranjak dari tempat duduknya selama cerita ketoprak berlangsung, ini merupakan tanda bahwa cerita itu menarik, banyak ilmu sejarah yang tentunya masyarakat mengerti sejarah desanya.

“Jujur kami sangat terhibur, ternyata Kades dan Pak Camat bisa berakting, dan memberikan bentuk edukasi kaitan sejarah,” tutur salah satu penonton bernama Sukir.

Sebelumnya Camat Pucanglaban Yudi Irwantoro saat memberikan sambutan juga berpesan, “memelihara budaya adalah kewajiban bersama. Budaya dari Demuk ini ada berbagai nuansa, perjuangan, mistis, dan kekejaman belanda, ini adalah tauladan yang baik untuk generasi muda, nguri uri budoyo adiluhung”, katanya, Sabtu (28/9/2024).

Kades Suwari yang selama ini terkenal murah senyum dengan berbagai kalangan, juga berharap agar ulang tahun bumi Demuk selalu dimeriahkan dengan hiburan yang edukatif. “Ketoprak baru kali ini melakonkan babat tanah Demuk, karena selayaknya masyarakat mengerti perjuangan leluhurnya”, tuturnya.

Sekilas dalam cerita sejarah babat tanah Desa Demuk yang diceritakan, seperti adanya Surat keputusan pemberhentian dari jabatan Doro Jayeng Kusuma karena pensiun understand tanggal 23 Maret 1880. Sedangkan, Surat izin babat hutan diperoleh tanggal 10 Oktober 1883, dengan nomor : 755. Pada waktu berangkat Doro Jayeng Kusuma diikuti oleh 40 orang abdi atau penderek yang membantu babat hutan. Karena hutannya sangat lebat dan angker (horror) ketika membabat hutan banyak halangan terutama makluk halus yang menghalang halanginya. Makluk halus (Demit) yang marah bisa dimaklumi oleh RM. Djayeng Koesoemo karena tempatnya dibabat. Tetapi dengan kesabaran dan kesaktiannya semua penghalang itu bisa disingkirkan.

Karena pada waktu membabat hutan menghadapi makluk halus yang marah (Demit Ngamuk), berasal dari kata DEmit ngaMUK, maka tempat itu dinamakan DEMUK. Kala itu Demuk menjadi kawasan/laladan yang ramai dan terbagi menjadi beberapa padukuhan seperti, Dukuh Demuk, Dukuh Kasrepan, Dukuh Puser, Dukuh Boto, Dukuh Sumberbendo, Dukuh Kebon, Dukuh Panggunguni dan seterusnya dengan kurun waktu 10 tahun tepatnya tanggal 10 Oktober 1893. Itulah lebih kurangnya sejarah munculnya Desa Demuk.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses