Opini Fauzia Tutupoho
Kawasan Timur Indonesia saat ini kebanjiran investasi sektor pertambangan dan migas. Di Sulawesi, tepatnya di Kabupaten Morowali, ada tambang nikel investasi China PT. IMIP. Di Provinsi Gorontalo baru saja beroperasi salah satu perusahan tambang emas terbesar di Indonesia yang dinamakan Proyek Emas Pani milik konglomerat pertambangan Group Merdeka.
Di Maluku dan Maluku utara ada proyek migas raksasa Masela dan PT. IWIP di Weda Kabupaten Halmahera Tengah yang mengelolah tambang nikel serta puluhan smelter. Begitu juga Group Harita di Pulau Obi yang memproduksi nikel sulfat untuk bahan baku baterai listrik.
Selain itu, ada belasan perusahaan tambang nikel di Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, dan Halmahera Timur yang telah beroperasi termasuk milik BUMN PT Antam. Belum lagi berbagai proyek migas raksasa yang ada di Papua seperti di Teluk Bintuni dan Kepala Burung serta Kilang Minyak Kasim di Sorong.
Investasi puluhan triliun rupiah yang masuk Proyek Strategis Nasional (PSN) ini dipastikan menyerap ratusan ribu tenaga kerja. Pertanyaanya, apakah penduduk di kawasan timur Indonesia telah siap memasok tenaga kerja terampil dalam jumlah besar?
Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus melihat dunia pendidikan vokasi di kawasan ini. SMK, politeknik, dan BLK adalah trisula pemasok tenaga kerja trampil siap pakai untuk berbagai sektor mulai dari kelistrikan, perminyakan, pertambangan, mesin dan otomotif, sipil dan arsitektur, akuntansi dan bisnis, serta manajamen perkantoran.
Kita fokus ke SMK dan politeknik saja. Data menunjukkan, dari 44 politeknik negeri yang ada di Indonesia, hanya ada 7 polteknik negeri di Indonesia Timur. Sebarannya adalah empat di Sulawesi, tiga di Maluku, dan satu di Papua. Jumlah ini termasuk satu Politeknik Pertanian di Sulawesi Selatan. Seluruh polteknik ini berada di bawah naungan Dirjen Dikti Kementerian Pendidikan. Sementara di Sulawesi Tengah ada satu politeknik yang berada di bawah Kementrian Perindustrian yakni, Polteknik Industri Logam Morowali yang berdiri tahun 2015, di Maluku terdapat 1 Politeknik Kesehatan di bawah naungan Kementerian Kesehatan.
Bagaimana dengan SMK? Data tahun 2023 menunjukkan, ada 14.445 SMK di Indonesia dan 3.752 di antaranya adalah SMK Negeri. Total ada lebih dari 5 juta murid dan 325 ribu guru di SMK. Di Maluku, Papua, dan Sulawesi terdapat 1.496 SMK Negeri maupun swasta dengan jumlah murid mendekati 300 ribu.
Untuk menyinkronkan dunia pendidikan vokasi dengan dunia kerja, Kementerian Pendidikan membuat program link and match yang bertujuan: Menyelaraskan kurikulum, melatih guru produktif, melakukan prakerin di industri, menyediakan pelatih di tempat kerja, memfasilitasi super tax deduction, menguatkan teaching factory, dan melakukan evaluasi program secara berkelanjutan.
Serapan tenaga kerja sektor migas dari lulusan SMA dan SMK, dan politeknik (D1 -D4) serta sarjana berjumlah 17.681 Sementara serapan tenaga kerja sektor pertambangan logam atau non migas sebesar 91 ribu pekerja (BPS 2022).
Politeknik Negeri Ambon dengan 21 program studi, di tahun 2023 menerima 771 mahasiswa baru dan menghasilkan lulusan siap pakai hingga 92 persen. Data ini menunjukkan optimisme pendidikan vokasi dapat memenuhi sebagian kebutuhan tenaga kerja terlatih di sektor industri. Secara empiris, Politeknik Negeri Ambon dianggap siap menerima tantangan di atas hanya sangat tergantung dari Politeknik AK Migas Cepu.
Dosen yang mengajar pada Prodi Migas Polnam sebesar 70% merupakan dosen dari Politeknik AK Migas Cepu. Politeknik Negeri Ambon diharapkan dapat menyiapkan alumni dari anak Maluku pada Program Studi Teknik Produksi Migas (TPM) dan Teknologi Rekayasa Sistem Mekanikal Migas (TRSMM) untuk disekolahkan S2 sehingga dapat mengurangi ketergantungan dosen yang mengajar pada kedua program studi dimaksud.
Untuk kemajuan pendidikan vokasi di Indonesia, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi telah melakukan upaya seperti meletakkan fondasi terkait regulasi, model kolaborasi, skema perbaikan kurikulum, praktik kerja lapangan, sertifikasi kompetensi, dan menarik serta mengajak dunia usaha dan dunia industri agar terlibat.
Tiga fokus transformasi pendidikan vokasi meliputi sekolah menengah kejuruan (SMK), perguruan tinggi vokasi (PTV), serta lembaga kursus dan pelatihan (LKP). Dalam kurun waktu 2020-2024 hampir 50% dari siswa SMK telah mendapatkan pembelajaran unggul dan relevan melalui kerja sama erat dengan 975 industri, 680 SMK melaksanakan program SMK Produk Kreatif dan Kewirausahaan, 11.496 SMK telah mengembangkan teaching factory (Tefa), dan 391 SMKN menjadi SMK berstatus badan layanan umum daerah (BLUD).
Pada jenjang perguruan tinggi, melalui program Matching Fund, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi mendorong industri untuk terlibat aktif dalam perkembangan penelitian PTV. Tercatat 725 mitra industri telah berkontribusi dengan total dana sebesar 279,12 miliar. Kemudian, melalui Competitive Fund (CF), Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi berhasil membantu 386 program studi dalam meningkatkan kompetensi SDM dan kapasitas kelembagaan. Melalui kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka, lebih dari 850 ribu mahasiswa telah diberikan kesempatan untuk belajar di luar kampus.
Semoga ke depan pemerintah pusat dapat mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk membangun SMK maupun politeknik yang relevan dengan kondisi daerah.
(Penulis adalah Dosen Jurusan Administrasi Niaga, Politeknik Negeri Ambon)






