Mahasiswa KKN Undip Hadirkan Alat Ukur Suhu Kelembapan Terbaru Untuk Optimalkan Budidaya Jamur

Batang1091 Dilihat

Batang, medianasional.id
Mahasiswa Tim 2, KKN Reguler Universitas Diponegoro membuat sebuah alat tepat guna yang bermanfaat di Desa Wonotunggal. Kuliah Kerja Nyata (KKN) dilaksanakan selama enam minggu dari tanggal 6 Juli hingga 18 Juli 2023 di Desa Wonotunggal, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Salah seorang mahasiswa program studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Willman Satria Situmorang, membawa program keilmuan Pembuatan dan Pengenalan Alat Pengukur Suhu dan Kelembapan kepada Petani Budidaya Jamur di Desa Wonotunggal Minggu, (13/08/2023).

” Inimerupakan langkah inisiatif untuk membantu pengembangan UMKM budidaya jamur yang ada di Desa Wonotunggal,” ungkap Wilman.

Wilman Satria menuturkan, berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara pada survei UMKM budidaya jamur yang dilakukan oleh Tim KKN Desa Wonotunggal, tingkat keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan jamur sangat dipengaruhi oleh suhu dan kelembapan lingkungan sekitarnya.

“Jamur memerlukan lingkungan yang cenderung lembab untuk dapat tumbuh dengan baik. Petani budidaya jamur perlu rutin untuk melakukan penyemprotan pada jamur dengan sprayer saat cuaca panas dan penutupan ventilasi rumah jamur saat cuaca penghujan,” jelasnya.

Untuk itu, alat pengukur suhu dan kelembapan akan sangat berguna untuk menentukan waktu yang tepat melakukan penyemprotan atau penutupan ventilasi.

Ia mensmbahkan bahwa alat Pengukur Suhu dan Kelembapan yang dibuat menggunakan sensor DHT11 untuk pengukuran dan mikrokontroler Arduino Uno untuk menampilkan output pengukuran pada LCD 16×2.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa alat juga dilengkapi dengan baterai 9V guna penyuplai daya dan sakelar on/off. Seluruh komponen alat dirangkai dalam kotak plastik sehingga aman dan dapat lansung digunakan dalam jangka panjang oleh petani budidaya jamur.

” Mekanisme penggunaan alat cukup mudah yaitu hanya perlu menekan sakelar dan menunggu beberapa saat sampai hasil pengukuran yang ditampilkan LCD konstan maka suhu dan kelembapan pada saat itu dapat lansung diketahui,” ucap Wilman Satria.

Wilman berharap, dengan adanya alat pengukur dan kelembapan petani dapat menentukan suatu patokan suhu dan kelembapan yang paling sesuai untuk melakukan penyemprotan atau penutupan ventilasi setelah beberapa percobaan dengan menggunakan alat.

Petani juga dapat melakukan pengujian dan pengamatan mengenai pengaruh suhu dan kelembapan dengan hasil panen jamur yang dihasilkan.

” Mengenai alat pengukur suhu dan kelembapan dilakukan pada salah satu petani jamur yang telah berkecimpung selama 3 tahun dalam budidaya jamur di Desa Wonotunggal,” Pungkasnya.

Sementara itu, Bayu, petani budidaya jamur menjelaskan, bahwa sebelumnya pernah memakai alat pengukur suhu dan kelembapan tetapi tidak seakurat alat yang dibuat tersebut.

Dia juga berharap, dengan adanya alat pengukur suhu dan kelembapan dapat memaksimalkan tingkat pertumbuhan dan perkembangan jamur kedepannya serta berpotensi untuk menarik masyarakat Desa Wonotunggal yang lain untuk ikut menjadi petani budidaya jamur yang sukses.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses