BATANG, medianasional.Id.
Keluhan warga mengenai penanganan dampak keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang terus mencuat di media sosial. Di tengah janji pemerintah yang menyatakan seluruh biaya pengobatan akan ditanggung penuh, sejumlah keluarga korban justru melaporkan realita yang berbanding terbalik di lapangan.
Sebuah unggahan viral dari salah satu akun media sosial warga setempat mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap realisasi bantuan pembiayaan pengobatan tersebut.
Tagihan Mandiri dan Penolakan Rumah Sakit
Menurut kesaksian narasumber di media sosial @Elisha Erlangga di lapangan keponakannya sempat dirawat sejak tanggal 23 September 2026 karena mengalami gejala keracunan. Lantaran pihak keluarga mengkhawatirkan pembengkakan biaya, korban akhirnya dibawa pulang pada 26 September 2026.
“Katanya ditanggung pemerintah, tapi nyatanya nol besar dan terpaksa dibayar menggunakan dana pribadi sekitar Rp2,5 juta,” tulis akun tersebut dalam keluhannya.
Kondisi korban nyatanya belum pulih total, perut korban dilaporkan terus menolak makanan dan mengalami muntah berkepanjangan. Keluarga kemudian berupaya mencari perawatan lanjutan dan membawa korban keliling ke sejumlah fasilitas kesehatan, ada beberapa RS negeri hingga swasta yang tidak menerima pasien.Mreka mengaku mendapatkan penolakan dari rumah-rumah sakit tersebut begitu mengetahui bahwa pasien merupakan korban keracunan MBG.
Hingga berita ini diturunkan pada 5 Oktober 2026, korban akhirnya dilarikan ke RS Baitusyifa Kalisalak dan masih tertahan di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena belum mendapatkan kamar perawatan.
Kondisi nyata yang dialami keluarga korban ini sangat kontras dengan pernyataan resmi Pemkab Batang sebelumnya. Bupati Batang M. Faiz Kurniawan sempat menegaskan bahwa seluruh biaya perawatan dan pengobatan para korban akan dicover sepenuhnya oleh pemerintah daerah karena insiden tersebut dikategorikan sebagai kondisi force majeure. Bahkan, pemerintah juga berjanji memberikan uang saku harian bagi keluarga yang menjaga pasien.
Kasus keracunan massal yang bersumber dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang ini sendiri telah mencatatkan akumulasi korban mencapai 674 orang dan sempat ditinjau langsung oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka beserta Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
Keluarga korban berharap pesan dan keluhan ini dapat segera didengar oleh Pj Bupati Batang serta pihak terkait agar kompensasi pengobatan yang dijanjikan benar-benar didistribusikan tanpa menyulitkan warga.





