KENDAL- MEDIANASIONAL.ID-Legenda Sendang Tulang Bawang dari Desa Darupono, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, diperkenalkan ke tingkat nasional melalui panggung seni Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (1/11/2026). Kisah tentang sumber kehidupan yang berkaitan dengan perjalanan Kiai Tulang Bawang dan istrinya tersebut dikemas dalam sendratari Songgo Puro pada Pentas Duta Seni Kabupaten Kendal 2026.
Melalui pertunjukan tersebut, Kabupaten Kendal tidak hanya menampilkan kekayaan seni tradisi, tetapi juga memperkenalkan legenda lokal yang menjadi bagian dari identitas dan warisan budaya daerah.
Kisah Kiai Tulang Bawang Membuka Sumber Air
Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari mengatakan, Songgo Puro memiliki arti penopang kehidupan. Cerita yang ditampilkan mengisahkan perjalanan Kiai Tulang Bawang bersama Nyai Tulang Bawang dan para prajurit pada akhir masa Kerajaan Majapahit.
Dikisahkan, mereka diperintahkan berkelana hingga tiba di sebuah kawasan tandus yang mengalami kekeringan. Melihat kondisi tersebut, Kiai dan Nyai Tulang Bawang berinisiatif membendung sungai untuk membuat saluran irigasi.
Upaya itu dilakukan agar masyarakat lebih mudah bercocok tanam dan memenuhi kebutuhan pangan. Keberadaan saluran irigasi kemudian membawa perubahan. Kawasan yang semula tandus mulai berkembang dan semakin banyak penduduk yang datang untuk bermukim.
Ketika kehidupan masyarakat semakin ramai, Kiai dan Nyai Tulang Bawang mengajak warga menggelar syukuran bersama. Namun, setelah acara makan bersama selesai, keduanya ternyata sudah tidak berada di lokasi.
Warga kemudian menemukan tongkat milik Kiai Tulang Bawang di dekat sumber air yang melimpah. Sejak saat itu, masyarakat mengenang jasa Kiai dan Nyai Tulang Bawang atas keberadaan sumber air yang memberikan kehidupan bagi warga.
Kiai Tulang Bawang juga diyakini sebagai seorang senopati perang dari zaman Kerajaan Mataram yang pernah singgah di wilayah Kendal. Kini, petilasan dan Sendang Kiai Tulang Bawang berada di kawasan hutan jati Desa Darupono, Kecamatan Kaliwungu Selatan. Lokasi tersebut hingga saat ini kerap dikunjungi warga setempat maupun dari luar daerah.
Budaya Kendal ke Tingkat Nasional
Bupati Dyah Kartika berharap pementasan tersebut dapat menjadi sarana memperkenalkan seni budaya asli Kendal kepada masyarakat luas, sekaligus menarik kunjungan wisatawan dan pemerhati kesenian. Menurutnya, potensi Kendal tidak hanya terletak pada kekayaan budaya dan pariwisata, tetapi juga sektor ekonomi dan investasi. Dia menyebut capaian investasi Kabupaten Kendal saat ini menjadi yang tertinggi di Jawa Tengah.
Karena itu, dia mengajak masyarakat Kendal, termasuk warga yang tinggal di luar daerah, untuk ikut mengambil bagian dalam pembangunan. “Kami mengajak kita semua untuk bersinergi dan berkolaborasi. Pemikiran maupun ide-ide kreatif tentunya sangat berharga bagi kami. Mari bersama-sama memajukan Kabupaten Kendal untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Subbidang Anjungan Jawa Tengah, TMII, Niken Rahardina, mengatakan Anjungan Jawa Tengah diharapkan menjadi ruang pertemuan antara seni tradisi dan masyarakat. Menurutnya, kegiatan pentas seni seperti ini penting untuk memperkuat apresiasi publik terhadap kebudayaan daerah sekaligus mendorong pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dia menjelaskan, Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah berkomitmen menjadikan Anjungan Jawa Tengah sebagai ruang representasi, aktualisasi, dan promosi kebudayaan daerah. Niken juga menyampaikan permohonan maaf apabila fasilitas sarana dan prasarana yang disediakan masih memiliki kekurangan.
Pentas Duta Seni Kabupaten Kendal 2026 diharapkan menjadi salah satu upaya memperluas pengenalan budaya daerah di tingkat nasional. Melalui panggung tersebut, legenda Sendang Tulang Bawang kembali diperkenalkan agar semakin dikenal masyarakat luas dan tetap lestari sebagai bagian dari warisan budaya Kendal. (#)





