Mataram, signal NTB — Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 5 Kota Mataram terus berkomitmen untuk memastikan para siswanya mendapatkan pengalaman Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang linier dengan kompetensi keahlian masing-masing. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Sekolah SMKN 5 Kota Mataram melalui Humas Pembimbing PKL SMKN 5 Kota Mataram, Riyadi Sholihin dan Syarif Hidayatullah Waka Humas.
Kepala Sekolah SMKN 5 Kota Mataram H. Istiqlal, S.Pd., M.M, melalui Humas Pembimbing PKL Riyadi Sholihin menjelaskan bahwa saat ini SMKN 5 Kota Mataram memiliki 15 jurusan yang terbagi ke dalam beberapa program keahlian, di antaranya Desain Komunikasi Visual (DKV), Teknik Audio Video (TS), Kria, Tata Busana, Produksi dan Siaran Program Televisi (PSPT), serta Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ)
Dalam pelaksanaan PKL yang menargetkan durasi maksimal enam bulan ini, pihak sekolah sangat memprioritaskan penempatan siswa yang dekat dengan domisili tempat tinggal mereka agar tidak mengganggu efektivitas kegiatan. Kendati demikian, kesesuaian bidang penempatan dengan jurusan tetap menjadi syarat mutlak.
“Penempatan PKL kami sesuaikan dengan keahlian masing-masing. Misalnya anak jurusan broadcast ditempatkan di lembaga penyiaran seperti TV, RRI, maupun media seperti Tribun. Otomotif di bengkel, dan jurusan musik di tempat-tempat yang relevan seperti manajemen musik Amtenar,” ujar Riyadi.
Kesesuaian ini, lanjut Riyadi, sangat penting karena berkaitan dengan syarat administrasi Uji Kompetensi Keahlian (UKK) melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), di mana siswa nantinya wajib menyerahkan sertifikat PKL yang linear dengan jurusannya.
Dari sisi fasilitas pendukung, SMKN 5 Kota Mataram terus melakukan pemenuhan sarana, seperti penambahan perangkat kamera berspesifikasi tinggi untuk jurusan DKV dan PSPT yang juga handal digunakan untuk keperluan live streaming kegiatan penting, termasuk acara resmi pemerintahan.
Di balik berbagai prestasi non-akademik dan keaktifan sekolah dalam mempublikasikan kegiatan melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook, pihak sekolah juga tak luput menghadapi tantangan. Salah satu kendala yang kerap ditemui berkaitan dengan penyesuaian karakter siswa terhadap kultur dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
“Anak-anak zaman sekarang terkadang belum terbiasa dengan karakter dunia industri yang tegas. Misalnya, ketika diminta membersihkan area kerja atau mendapat teguran dari atasan karena kesalahan, sebagian siswa sempat kaget. Di sinilah peran pembimbing untuk terus mengarahkan bahwa proses dan didikan disiplin tersebut merupakan bagian dari realitas dunia kerja yang sebenarnya,” pungkasnya.






