
Jakarta, Medianasional.id – Industri dan Perdagangan adalah kontributor terbesar dalam Pembangunan Ekonomi. Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Jaringan Pemerhati Industri dan Perdagangan (JPIP) Ir. Lintong Manurung, MM yang di hubungi via telepon Sabtu, 03 Juli 2021 saat awak media menerima informasi munculnya Channel YouTube Resmi JPIP yang bisa di akses di link https://youtu.be/ZCd_0KSlgzo.
Dalam keterangannya Lintong menjelaskan bahwa JPIP dimulai dari kebersamaan para Pensiunan dari Kementerian Perindustrian dan Perdagangan yang memiliki pengalaman, kerinduan dan semangat untuk membangun industri Indonesia sehingga bisa menjadi negara maju. “Negeri ini, harus bertumbuh dan berkembang sebagaimana yang kita harapkan menjadi negara maju”, ujarnya.
*Dari grup pensiunan bermetamorfosis menjadi relawan Jokowi dan kemudian menjadi LSM*
Awal sebelum menjadi organisasi atau LSM, JPIP adalah grup purnawirawan Kementerian Industri dan Perdagangan yang bergabung dalam satu grup. “Saat kumpul-kumpul, ternyata kita juga punya persepsi yang sama kira kira siapa pemimpin yang harus kita dukung. Saat itu masih pribadi pribadi ya, belum organisasi” ujarnya ketika menerangkan bagaimana grup yang sifatnya kebersamaan ini menjadi salah satu relawan Jokowi dalam kontestasi pilkada Gubernur Provinsi DKI Jakarta tahun 2012 dan berlanjut dalam kontestasi pilpres 2014 dan 2019. Namun kemudian akhirnya menjadi LSM JPIP yang terdaftar resmi pada pemerintah. “Kita berpikir juga, masak hanya relawan? Kita kan orang profesional, kita punya pengalaman. Kita mengambil bagian dalam sektor industri dan perdagangan, makanya kita bentuk JPIP”, tutur Lintong.
Dalam kiprahnya, JPIP menjadi mitra pemerintah dengan melakukan kajian-kajian dalam kebijakan, regulasi-regulasi (pemerintah) dan kadang kadang membantu sebagai konsultan dalam dunia usaha ketika mereka menghadapi kesulitan dalam membangun industrinya. Yang terakhir adalah menerbitkan buku di tahun 2019 sebelum pandemi COVID-19 yang berjudul Strategi dan Kebijakan Industri dan Perdagangan Menyongsong Tahun 2045.
*Keberadaan Industri dan Perdagangan di Indonesia*
JPIP dalam kajian kajiannya, melihat dan menemukan potensi dari sektor Industri dan perdagangan di Indonesia dan berusaha mendorong bidang ini untuk berkembang.
“Artinya, kita menginginkan industri dan perdagangan ini merupakan sektor ekonomi yang akan mendukung perekonomian kita”, ujarnya.
Kajian kajian dalam negeri maupun internasional menemukan bahwa sektor industri dan perdagangan adalah tulang punggung sektor perekonomian. “Sektor ini merupakan kontributor terbesar untuk pertumbuhan ekonomi”, tandasnya.
*Kebijakan penentuan prioritas, kelompok oligarkis dan mafia-mafia ekonomi yang merusak*
Tidak sedikit kendala-kendala yang dihadapi dalam sektor Industri dan perdagangan. Hal ini juga diungkap Lintong. “Sektor industri dan perdagangan ini mengalami kendala dalam pertumbuhan dibandingkan dengan negara lain, termasuk di Asia. Kita telat, terlambat kita” ujarnya.
Lintong menyorot kekeliruan dalam kebijakan pemerintah dalam hal menentukan sektor sektor prioritas. Menurutnya sektor Industri dan Perdagangan harus menjadi prioritas pemerintah. “Sektor ekonomi harusnya diprioritaskan. Kan tidak semua sektor harus kita tumbuhkan. Kita harus memilih karena sumber daya kita terbatas”
Sorotan lainnya adalah mengenai koordinasi yang dinilai kurang antar sektor sektor yang dibangun oleh pemerintah. “Jangan sampai ada kebijakan yang tidak saling mendukung, bahkan bertolakbelakang” ujarnya.
Aspek lain yang lebih serius adalah kelompok oligarkis dan mafia-mafia dalam sektor ekonomi. “Adanya kelompok oligarkis, mafia-mafia ekonomi yang memang itu yang merusak iklim dan merusak daya saing kita karena mereka itu bekerja dan bertumbuh hanya untuk kepentingan mereka bukan untuk kepentingan nasional” tandasnya.
Mengenai harapan JPIP kedepan, “adanya semangat dan kesadaran semua kelompok anak bangsa ini untuk melihat bahwa bangsa ini adalah bangsa yang mempunyai potensi yang sangat besar menjadi pemain ekonomi dunia, menjadi berkat bagi seluruh bangsa di dunia, tidak hanya menjadi follower apalagi menjadi beban, tetapi menjadi leader, menjadi pemimpin” pungkasnya. (Glen)






