
Oleh : Siti Zulaeka
(Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban Bumiayu)
Indonesia dikenal dengan sebutan fenomenalnya yaitu, negara agraris (negara yang maju pertaniannya). Makanan pokok orang Indonesia adalah nasi hasil dari para petani, dimulai dari menanam, memanen hingga pada titik akhir yaitu menjadi makanan pokok bagi Negara Indonesia. Selain itu pula Indonesia telah berhasil menjadi tiga besar negara produsen beras setelah Cina di kancah dunia. Kontribusi Indonesia terhadap produksi beras dunia kira-kira sebesar 8,5% (51 juta ton).
Deskripsi diatas menjadi pemantik kesadaran untuk para pembaca dengan kondisi pertanian di Indonesia yang pada realitanya sangat memprihatinkan. Pasalnya meskipun Indonesia dikenal dengan sebutan negara agraris namun faktor kelaparan masih terdapat dimana-mana. Hal ini sudah seharusnya tidak dibahas lagi, karena bagi seorang yang menduduki kekuasaan tertinggi itu adalah ha yang dianggap remeh. Namun pada faktanya justru petanilah yang telah melestarikan alam dan membawa nama Indonesia hingga menjadi tiga besar dalam kancah dunia.
Perdebatan yang telah dilalui oleh calon presiden dan wakil presiden tidak mengubah pola berpikir rakyat akan memihak pada siapa. Bahkan rakyat malah bingung dengan pola-pola tema diskusi yang dipertontonkan untuk dunia. Debat calon presiden dan wakil presiden tidak memberikan sebuah gerakan baru untuk Indonesia. Sehingga minat memilih kepada salah satu pasanagan calon presiden mengalami fluktuatif. Bahkan rakyat biasa yang hanya menonton pada televisi mengalami degradasi dalam memihak kepada siapa nanti ketika tanggal 17 April 2019, itu juga salah satu penyebab banyaknya golput masih terjadi. Rakyat dibingungkan dengan segala bentuk penawaran yang tidak menghasilkan apa-apa buat dirinya.
Problematika yang terjadi di Indonesia sangat warna-warni hingga melupakan nasib rakyat yang justru telah membanggakan nama Indonesia. Pesta demokrasi yang terjadi saat ini masih berkutit pada hal yang sama, tentang korupsi, suap, teroris, ras, agama dan lainnya. Penawaran tersebut tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Hal ini seharusnya menjadi penawaran penuh untuk rakyat bahwa akan adanya revolusi pertanian. Para pejabat tinggi dipilih oleh rakyat yang mayoritas adalah para petani bukan orang kaya yang hidup dalam perkotaan dan mempunyai perusahaan. Seharusnya para calon legislatif tidak hanya membentengi orang-orang yang nantinya akan berkontribusi untuk program kerjanya, namun rakyat biasalah yang tentunya menjadi prioritas bagi para calon legislatif.
Melihat globalisasi yang terjadi, saat ini merupakan bukan zaman milenial lagi merupakan revolusi industri 4.0 dimana semua menggunakan teknologi dalam keberlangsungan hidupnya. Kondisi para pemuda pun sudah tidak melihat lagi hal-hal yang bersifat manual. Mayoritas lebih tertarik dengan hal-hal yang bersifat teknologi. Terkadang banyak yang menggunakannya dengan baik dan tidak sedikit pula yang menggunakannya untuk hal-hal yang negatif. Hal ini menjadi keprihatinan bagi manusia yang sadar akan hidupnya. Hal tersebut tentu sangat mempengaruhi pertanian di Indonesia, karena orang yang bertani seringkali orang yang sudah lanjut usia, tenaga pun tidak sekuat orang muda. Orang yang tua semakin tua sedangkan yang muda enggan untuk menilik lahan pertanian. Kontribusi untuk pertanian sangat tidak diperhatikan, mereka hanya menikmati penghasilan dari para petani.
Hemat penulis diharapkan pemerintah juga memperhatikan nasib para petani yang sama memprihatikan dengan kondisi pertaniannya. Semestinya ada penyuluhan dan pembekalan pengetahuan tentang pertanian kepada petani itu perlu dilakukan. Seperti bagaimana cara bertanam yang bersahabat dengan alam karena cuaca yang terkadang musim hujan dan panas yang tidak stabil dan menggunakan teknologi sehingga bertani memberikan banyak keuntungan dibandingkan dengan kerugiannya, namun teknologinya pun yang tidak membahayakan alam, dan itu berlaku untuk kita semuanya, yaitu mengambil keuntungan tanpa merusak alam. Sehingga terciptanya sebuah keserasian dan keseimbangan alam pun terjaga, dan semua bisa hidup sejahtera. Memberikan jaminan hidup untuk petani , dimana petani dapat memelihara alat pertaniannya dan dalam bertanipun dapat dilakukan dengan lancar, agar tidak adanya rakyat yang sengsara karena kelaparan. Orang kaya dan pejabat memang disebut rakyat namun tidak semua rakyat adalah orang kaya dan pejabat.
Hidup rakyat !!
Editor : Abu Bakar Sidik




