BANTUL, medianasional.id – Pantai Cangkring, Poncosari, Srandakan, Bantul, akan memiliki daya tarik baru pada awal Oktober 2026. Berbagai jenis layang-layang akan dipamerkan dalam kegiatan “Akasa Cangkring”, yang digelar Dinas Pariwisata Bantul bersama pengelola Pantai Cangkring dan Perkumpulan Pelayang Seluruh Indonesia (PELANGI) DIY.
Pameran berlangsung Jumat, 2 Oktober 2026 pukul 15.00 WIB hingga Minggu, 4 Oktober 2026 pukul 18.00 WIB di kawasan Pantai Cangkring.
Beragam layang-layang akan ditampilkan, mulai dari layang-layang tradisional, dua dan tiga dimensi, train murni, train naga, hingga sport kite. Jika kondisi memungkinkan, pengunjung juga dapat menyaksikan penerbangan layang-layang kantong.
Ketua PELANGI DIY Markus Purnama Adi, mengatakan, “Akasa Cangkring” memiliki makna ruang udara luas di Cangkring. Pameran ini menjadi kolaborasi antara pemerintah daerah, pengelola destinasi wisata, dan komunitas pelayang.
“Pameran seperti ini baru pertama kali diadakan di DIY dan menjadi kolaborasi pengelola destinasi, Pemkab, dan komunitas. PELANGI DIY akan menampilkan berbagai jenis layang-layang milik anggotanya,” katanya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali Pantai Cangkring dengan wajah barunya. Ketua Pengelola Pantai Cangkring, Danu, mengatakan penataan kawasan dilakukan dengan memindahkan kios-kios pedagang yang sebelumnya berada di bibir pantai ke sisi utara.
“Sehingga suasana pantai menjadi lebih luas. Kami mencoba mengadakan sesuatu yang baru untuk lebih mengenalkan Pantai Cangkring dan menarik pengunjung datang ke sini,” ujar Danu.
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Bantul Septari Nursetiani, SE., M.Sc.berharap kegiatan tersebut tidak hanya meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku UMKM di sekitar destinasi.
“Dinas Pariwisata berusaha menyelenggarakan kegiatan untuk mempromosikan destinasi dan berharap pengunjung datang sehingga pelaku UMKM setempat mendapatkan manfaat lebih,” katanya.
Menurutnya, layang-layang dipilih karena permainan tersebut dikenal luas oleh berbagai kelompok usia sekaligus memiliki nilai budaya yang dapat diwariskan kepada generasi muda.
Pameran “Akasa Cangkring” terbuka untuk umum dan tidak dikenakan tiket khusus pameran. Pengunjung cukup membayar retribusi destinasi sebesar Rp5.000 per orang, ditambah biaya parkir.
Selain menikmati panorama Pantai Cangkring, masyarakat dapat melihat langsung beragam bentuk layang-layang sekaligus mengenal lebih jauh seni dan budaya layang-layang yang terus dikembangkan komunitas pelayang di Yogyakarta.(red).






