Tidak Cuma Modal APBN, Pemprov NTB Sukses Amankan Dana Alternatif Rp3,8 T

medianasional.id, Mataram, NTB – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) lagi gencar-gencarnya menyuarakan pentingnya keadilan anggaran buat daerah kepulauan. Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri, menegaskan kalau APBN itu bukan cuma soal angka dan hitung-hitungan duit negara, tapi harus jadi support system alias instrumen keadilan buat pemerataan pembangunan.
Hal ini disampaikan langsung oleh Umi Dinda—sapaan akrab Wagub NTB—saat menerima kunjungan kerja dari Komite IV DPD RI di Kantor Gubernur NTB, Senin (25/5/2026). Kunjungan ini fokus buat mengawasi pelaksanaan UU Nomor 17 Tahun 2025 tentang APBN 2026. Acara ini juga dihadiri oleh Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan para senator DPD RI.
Menurut Wagub, membangun daerah kepulauan kayak NTB itu punya tantangan geografis dan konektivitas yang bikin biaya pembangunan serta pelayanan publik jadi lebih mahal dibanding daerah lain. Padahal di sisi lain, Pemprov NTB harus gerak cepat buat mengentaskan kemiskinan, menjaga ketahanan pangan, dan nge-bikin pariwisata mereka makin berkelas dunia.
“Daerah tidak meminta keistimewaan, tetapi mengharapkan keadilan fiskal yang proporsional agar mampu tumbuh dan berkembang secara optimal,” jelas Wagub NTB.Kerennya, di tengah keterbatasan anggaran, NTB nggak cuma tinggal diam atau gabut. Ketua Komite IV DPD RI, Novita Anakotta, ngasih apresiasi banget buat langkah Pemprov NTB yang jago nyari creative financing alias pembiayaan alternatif. Nggak main-main, NTB sukses mengumpulkan dana alternatif sampai Rp3,8 triliun! Langkah cerdas ini dinilai bisa jadi contoh buat provinsi lain di Indonesia.
Selain itu, performa ekonomi NTB juga lagi on fire. Pertumbuhan ekonomi NTB tercatat meroket sampai 13,64% (year on year) dengan inflasi yang tetap aman terkendali di angka 3,27% per April 2026. Realisasi dana desa di NTB per Mei 2026 juga mantap berada di angka 45,67%, alias di atas rata-rata nasional.
Meskipun begitu, beberapa pos anggaran seperti Dana Bagi Hasil (DBH) dan DAK Fisik dinilai masih di bawah capaian nasional, sehingga sinkronisasi antara pusat dan daerah perlu terus dipoles.
Mendengar aspirasi tersebut, Wakil Ketua DPD RI, Tamsil Linrung, merasa optimis kalau pendapatan negara di APBN 2026 bakal naik lewat tata kelola ekspor SDA yang makin rapi, yang nantinya bakal berdampak positif ke dana transfer daerah. DPD RI juga mendorong NTB buat makin memaksimalkan potensi carbon trading (perdagangan karbon) buat nambah pundi-pundi Pendapatan Asli Daerah (PAD).


Senator asal NTB, Hj. Evi Apita Maya, menambahkan kalau semua masukan dari pertemuan ini bakal langsung dibawa ke pusat sebagai bahan pertimbangan penting untuk penyusunan kebijakan fiskal dan RUU APBN Tahun 2027.
Intinya, biar Indonesia makin maju, pembangunan nggak boleh cuma berpusat di satu tempat. Daerah kepulauan seperti NTB juga wajib tumbuh kuat, mandiri, dan makin sejahtera

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses